Home / News / Sinergi Intelektual dan Spiritual Menggema di Bromo: Pagelaran Wayang “Pandu Swarga” Hidupkan Nilai Leluhur Tengger

Sinergi Intelektual dan Spiritual Menggema di Bromo: Pagelaran Wayang “Pandu Swarga” Hidupkan Nilai Leluhur Tengger

Pasuruan, — Budayantara.tv Harmoni antara pemikiran akademik dan kearifan spiritual lokal terwujud dalam rangkaian kegiatan budaya dan intelektual yang berlangsung di kawasan Tengger, Bromo. Momentum ini ditandai dengan Saresehan Ekonomi Hijau dan Inisiasi Dana Abadi Pendidikan di Desa Ngadirejo, yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari kalangan akademisi, lembaga kehutanan, komunitas adat, hingga jurnalis etnosistem.

Kegiatan yang digelar pada 28 Maret 2026 tersebut menghadirkan sinergi antara Universitas Airlangga, Perhutani, LMDH Cemara Indah, serta jaringan jurnalis dan pegiat lingkungan Nusantara. Diskusi menyoroti pentingnya ekonomi hijau berbasis kearifan lokal serta keberlanjutan pendidikan bagi masyarakat desa penyangga kawasan Bromo.

Namun, puncak kekuatan nilai budaya justru terasa pada malam harinya. Di Desa Wonokitri, digelar pagelaran wayang kulit Ringgit Purwo klasik dengan lakon Pandu Swarga, yang dibawakan oleh Ki Winarno Sabda dari Sanggar NWB Ngesti Wedharing Budaya, Pasuruan.

Wayang sebagai “Kitab Kehidupan”

Dalam narasinya, Ki Winarno Sabda menegaskan bahwa wayang bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Ia menyebut wayang sebagai “bukunya manusia Jawa”—manifestasi kesadaran kolektif dalam memahami makna hidup, tujuan eksistensi, hingga perjalanan batin manusia menuju kesadaran sejati.

Lakon Pandu Swarga sendiri mengisahkan perjuangan Raden Werkudara (Bratasena) yang melakukan tapa brata demi membebaskan roh ayahnya, Prabu Pandu, dan ibunya Dewi Madrim dari alam penderitaan menuju Swarga Loka. Perjalanan spiritual ini sarat dengan ujian, keteguhan, serta bakti seorang anak kepada orang tuanya—nilai yang tetap relevan lintas zaman.

Resonansi dengan Tradisi Tengger

Menariknya, kisah dalam lakon tersebut memiliki keselarasan kuat dengan tradisi masyarakat Tengger, khususnya ritual Entas-Entas. Tradisi ini merupakan upaya spiritual untuk “mengentaskan” arwah leluhur menuju alam langgeng, melalui rangkaian yadnya atau persembahan suci.

Prosesi ini dipimpin oleh dukun adat yang membacakan mantra-mantra suci, sebagai bentuk permohonan ampun dan kemuliaan bagi leluhur. Filosofinya selaras dengan perjuangan Bratasena dalam Pandu Swarga—yakni bakti dan cinta anak kepada orang tua, bahkan melampaui batas kehidupan dunia.

Selain itu, tradisi Tugel Kuncung juga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Tengger. Ritual ini diperuntukkan bagi anak yang beranjak dewasa, sebagai simbol pembersihan diri dari energi negatif sekaligus doa agar kehidupannya kelak penuh ketentraman.

Jembatan Nilai Masa Lalu dan Masa Depan

Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus meninggalkan akar budaya. Justru, ketika intelektualitas akademik bertemu dengan spiritualitas lokal, lahirlah pendekatan yang lebih utuh dan berkelanjutan.

Pagelaran wayang di Bromo bukan sekadar pelestarian seni tradisi, tetapi juga medium refleksi kolektif—mengajak manusia modern untuk kembali memahami jati diri, menghormati leluhur, serta menjaga harmoni dengan alam dan Sang Pencipta.

Sebagaimana pesan yang mengalir dalam lakon Pandu Swarga, perjalanan hidup bukan hanya tentang dunia yang kasat mata, melainkan juga tentang kesadaran batin dan bakti yang tulus.

Oleh : Guntur Bisowarno Praktisi Manusia Sastra Budaya Canggih.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *