Home / News / Seri 2: Partisipatory Active Riset Bamboo Spirit Nusantara Support SystemPeradaban SURUH SIRIH

Seri 2: Partisipatory Active Riset Bamboo Spirit Nusantara Support SystemPeradaban SURUH SIRIH

Oleh: Guntur Bisowarno (Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System)Purwosari, Pasuruan – 27 Februari 2026

Pasuruan – Budayantara.tv Malam Selasa Kliwon, Anggoro Kasih (8–9 Oktober 2025) menjadi momentum sakral bagi masyarakat lereng Gunung Arjuno. Dalam balutan Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik yang dipimpin Ki Tohari dari Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur, Desa Cendono, Kecamatan Purwosari, semangat kebudayaan dan spiritualitas menyatu dalam Saresehan “Roso Orep Sejati” di Dusun Kandang Sari, Desa Capang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.

Pagelaran tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Jejer Gunungan Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik dipadukan dengan simbolik “Turunnya Wahyu Daun Gondhong Jati”, “Wahyu Daun Suruh Sirih”, dan “Wahyu Daun Godhong Simbukan (Semar Ismayajati)”. Momentum ini dimaknai sebagai ikhtiar arif dan bijaksana dalam membaca tanda-tanda zaman, sekaligus merawat uger-uger dan tradisi lisan yang hidup di kalangan pelaku energi spiritual, pertapa, serta komunitas budaya Peradaban Garuda Nusantara di kawasan lereng Arjuno.

Keyakinan yang selama ini dituturkan bahwa dari ereng-ereng lereng Gunung Arjuno akan muncul “Wahyu Kahanan Jati” berupa Jati Wasesa dan Jati Mulyo kini menemukan artikulasinya dalam ruang kebudayaan. Suruh Sirih dimaknai sebagai simbol keselarasan, kemakmuran, dan kesuburan peradaban.

Di ranah kultural, Suruh (daun sirih) juga dikenal luas melalui Batik Motif Suruh khas Kota Pasuruan. Motif ini merepresentasikan harmoni hidup masyarakat pesisir, kerap dipadukan dengan ikon lokal seperti tugu alun-alun, keris yang merujuk pada kearifan Untung Suropati, serta ombak laut dengan warna-warna tegas hijau dan merah. Suruh Sirih bukan hanya motif kain, melainkan narasi identitas dan doa kolektif masyarakat.

Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System, Guntur Bisowarno, menegaskan bahwa Saresehan Roso Orep Sejati menjadi pondasi pembentukan kesadaran iman yang tersinkronisasi antara lahir dan batin. Konsep “Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan” (Suruh Sirih Temu ROS: Roso Orep Sejati) menekankan keselarasan ucapan, pikiran, dan tindakan sebagai manifestasi akhlak dan budi pekerti luhur.

Nilai tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 5: “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” Spirit keberuntungan (muflihun) dimaknai bukan semata capaian material, melainkan kejernihan batin dan keteguhan iman.

Rangkaian riset partisipatif Bamboo Spirit Nusantara Support System ini menjadi langkah konkret membangun peradaban berbasis budaya dan spiritualitas lokal. Suruh Sirih hadir sebagai metafora penyatuan rasa, raga, dan jiwa mengikat warisan leluhur dengan kesadaran zaman.

Dari Pasuruan, pesan itu mengalir: peradaban besar tidak lahir dari kegaduhan, melainkan dari keselarasan. Dan di lereng Arjuno, Suruh Sirih kembali bersemi sebagai tanda kebangkitan jati diri Nusantara.**

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *