Bali — Budayantara.tv Semangat pelestarian budaya Bali terpancar kuat dalam Festival Kultural 2026 yang digelar di The Blooms, Tabanan, Minggu (4/1/2026). Seniman-seniman muda dari puluhan desa adat tampil memukau lewat lomba tari tradisional, salah satunya dengan membawakan Tari Rejang Candimas, tarian bernuansa sakral yang sarat makna spiritual.
Dengan gerakan lembut dan selaras, para penari muda mengenakan busana dominan kuning dan putih warna suci dalam tradisi Bali menghadirkan suasana khidmat di tengah arena festival. Tarian ini merupakan pengembangan dari Tari Rejang, tarian persembahan yang secara turun-temurun ditarikan oleh perempuan untuk menyambut kehadiran para dewa dalam upacara keagamaan Hindu Bali.
“Rejang Candimas tetap berakar pada nilai sakral Tari Rejang, namun memiliki ciri khas tersendiri sesuai identitas desa atau sanggar,” ujar salah satu panitia festival. Keunikan ini terlihat dari detail gerak, ekspresi, dan komposisi penari yang tetap menjaga esensi bhakti sebagai bentuk komunikasi spiritual dengan alam niskala.
Dalam tradisi Bali, Tari Rejang dikenal memiliki beberapa varian seperti Rejang Dewa, Rejang Renteng, dan Rejang Sari. Meski berbeda dalam detail pelaksanaan, seluruhnya memiliki tujuan yang sama, yakni sebagai tarian suci persembahan di pura untuk memuliakan dan menyambut para dewa.
Festival Kultural 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang edukasi dan regenerasi seni. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kreativitas generasi muda sekaligus memperkuat komitmen pelestarian budaya Bali di tengah arus modernisasi. Di sisi lain, festival ini juga diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan kearifan lokal Bali sebagai daya tarik pariwisata berbasis budaya.
Melalui penampilan Tari Rejang Candimas, para seniman muda membuktikan bahwa tradisi sakral dapat terus hidup dan relevan, diwariskan dengan penuh hormat dari generasi ke generasi.




