Sapu-Sapu Menguasai Cideng: Alarm Sunyi dari Jantung Ibu Kota
Jakarta — Budayantara.tv Di balik gemerlap kawasan elit sekitar Bundaran HI dan megahnya Plaza Indonesia, sebuah ironi lingkungan diam-diam berlangsung di aliran Kali Cideng. Bukan sekadar soal ikan sapu-sapu yang kembali mendominasi, melainkan cermin dari ekosistem yang tengah “sakit” dan belum pulih sepenuhnya.
Alih-alih menjadi kabar biasa tentang hama air, kemunculan masif ikan sapu-sapu justru dapat dibaca sebagai indikator ekologis. Air yang keruh kehitaman, aliran yang lambat, serta dasar kali yang dipenuhi lumpur dan endapan organik menciptakan habitat ideal bagi spesies invasif ini. Dalam kondisi seperti ini, ikan lokal cenderung tersingkir, sementara sapu-sapu justru berkembang pesat tanpa kompetitor berarti.
Fenomena yang terlihat di permukaan gerombolan ikan yang mudah dijumpai bahkan dalam satu pandangan mata sebenarnya hanyalah “puncak gunung es”. Ukuran ikan yang bervariasi, dari kecil hingga besar, menandakan siklus reproduksi yang terus berjalan. Artinya, ekosistem di Kali Cideng bukan hanya dihuni, tapi telah “dikuasai” oleh spesies tersebut.
Upaya penangkapan yang dilakukan sebelumnya oleh sekitar 100 personel gabungan memang menghasilkan 41 ekor ikan berukuran besar. Namun, dari perspektif ekologi, angka itu belum signifikan untuk menekan populasi. Terlebih, belum adanya operasi lanjutan memperlihatkan bahwa penanganan masih bersifat reaktif, bukan sistemik.
Di sisi lain, pernyataan Pramono Anung.Minggu (12/4/2026).yang ingin memperluas operasi penangkapan ke seluruh wilayah Jakarta menunjukkan adanya kesadaran pemerintah akan skala persoalan. Namun, pertanyaan mendasarnya: apakah solusi akan berhenti pada penangkapan semata?
Para pengamat lingkungan kerap menilai bahwa ledakan populasi ikan sapu-sapu bukan akar masalah, melainkan gejala. Akar sesungguhnya terletak pada kualitas air, sedimentasi, serta minimnya keseimbangan hayati. Tanpa pembenahan menyeluruh mulai dari pengelolaan limbah, normalisasi aliran, hingga restorasi ekosistem operasi penangkapan hanya akan menjadi rutinitas tanpa akhir.
Kali Cideng hari ini seolah menjadi “ruang baca” terbuka tentang kondisi sungai-sungai perkotaan. Di tengah pusat ekonomi dan simbol modernitas Jakarta, alam memberi sinyal yang jelas: ada yang tidak seimbang, dan butuh lebih dari sekadar jaring untuk memperbaikinya.**

