Pasuruan, — Budayantara.tv Kawasan lereng pegunungan Tengger kembali menjadi pusat perhatian melalui rangkaian kegiatan ilmiah dan pengabdian masyarakat yang melibatkan akademisi, praktisi, serta komunitas lokal. Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, kini diproyeksikan sebagai laboratorium hidup berbasis etnosains dan etnosistem, yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal masyarakat Tengger.
Momentum ini ditandai dengan kedatangan tim Pengabdian Masyarakat Mandiri Terpadu dari Universitas Airlangga Surabaya pada 28–29 Maret 2026. Program yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Muhammad Adib ini mengusung pendekatan hilirisasi ilmu pengetahuan menghubungkan dunia akademik dengan dunia usaha, industri, dan masyarakat secara langsung.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kelestarian

Dalam kerangka Program Mandala Mandhita Utama 2026–2030, berbagai pihak bersinergi dalam upaya konservasi lingkungan. Salah satu langkah konkret adalah reboisasi 10.000 bibit cemara gunung yang telah dilaksanakan pada Februari 2026. Program ini diperkuat dengan pengembangan “Peradaban Bambu” sebagai sistem pelindung sumber mata air, hasil rekomendasi riset partisipatif dari jaringan Bamboo Spirit Nusantara.
Tak hanya itu, perhatian juga difokuskan pada perlindungan 62 sumber mata air di wilayah Ngadirejo, sebagai bagian dari strategi menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan.
Saresehan dan Inisiasi Ekonomi Hijau
Diskusi strategis bertajuk Saresehan Transformasi Peradaban Lestari digelar pada 28 Maret 2026 di kediaman Ketua LMDH Cemara Indah, Pak Atemo. Forum ini membahas pengembangan ekonomi hijau serta inisiasi dana abadi pendidikan.

Perhutani turut ambil bagian melalui pemaparan kebijakan pengelolaan hutan lestari dan peluang pengembangan usaha berbasis ekosistem. Kehadiran media independen juga menjadi elemen penting dalam memastikan transparansi dan efektivitas program lintas sektor tersebut.
Dukungan Nasional dan Partisipasi Mahasiswa
Sejumlah tokoh turut hadir, termasuk jurnalis dari Bali yang mendorong terbentuknya laboratorium hutan sosial di Ngadirejo. Sementara itu, empat mahasiswa terpilih dari ratusan peserta seleksi Program Studi Antropologi Universitas Airlangga turut bergabung sebagai asisten riset lapangan, memperkuat pendekatan ilmiah berbasis masyarakat.
Masyarakat Tengger: Penjaga Peradaban Luhur
Di balik geliat program dan kolaborasi tersebut, masyarakat Tengger tetap menjadi pusat dari seluruh proses. Hidup di sekitar kaldera Gunung Bromo, mereka dikenal sebagai penjaga tradisi yang setia mempertahankan nilai-nilai leluhur di tengah arus modernisasi.
Asal-usul masyarakat Tengger dipercaya berasal dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Warisan budaya seperti ritual Yadnya Kasada menjadi simbol kuat penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur kepada Sang Pencipta.
Dalam ritual tersebut, hasil bumi dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai bentuk pengorbanan dan rasa terima kasih atas berkah alam yang diberikan.
Harmoni dengan Alam dan Sesama
Masyarakat Tengger memandang alam sebagai entitas hidup yang harus dihormati, bukan dieksploitasi. Praktik pertanian berkelanjutan, larangan merusak kawasan sakral, serta kesadaran akan keseimbangan ekosistem menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Tak kalah penting, wilayah Tengger juga dikenal sebagai ruang toleransi yang hidup. Meski mayoritas memeluk Hindu Dharma, masyarakat dari berbagai agama hidup berdampingan secara harmonis. Masjid, gereja, dan pura berdiri berdekatan, mencerminkan semangat gotong royong dan saling menghormati.
Perayaan keagamaan dijalani bersama dengan penuh empati warga non-Hindu menjaga ketenangan saat Nyepi, sementara umat Hindu turut bersilaturahmi saat hari besar agama lain.
Teladan bagi Dunia
Putra-putri peradaban Tengger menjadi contoh nyata bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar tradisi. Mereka menunjukkan bahwa penghormatan kepada leluhur, kecintaan terhadap alam, dan toleransi antarumat beragama dapat berjalan beriringan.
Gunung Bromo bukan sekadar destinasi wisata, melainkan simbol hidup dari harmoni manusia dengan alam dan sesama. Sebuah ikon peradaban yang mengajarkan bahwa masa depan dapat dibangun tanpa melupakan masa lalu.
Penulis: Miftahuz Zainiah Nia
Editor: Mbah Openi




