- Merawat Warisan Moral KH. Syukron Makmun
Oleh: M.Guntur Alting
Dewan Pembina SWI Jaya
PUKUL, 10.20 di group Pengurus DPC PRI DKI Jakarta-Selatan, saya dikejutkan dengan sebuah flyer/poster ucapan duka cita dari Sang nakhoda SWI DKI Jakarta Samsul Arifin/Masdjo.
Sosok yang berpulang itu adalah Guru kita KH.Syukron Makmun.
Secara pribadi, sejak duduk di Fakultas Dakwah UIN Alauddin Makassar puluhan tahun silam. Gaya pidato beliau menjadi salah satu referensi yang saya pelajari, bahkan saya tiru.
Terakhir, tiga tahun silam, saya survei pesantrennya Darul Rahman, untuk rencana memasukan seorang keponakan di pesantren beliau.
Saya juga masih mengikuti ceramah-cermah beiau di youtube, usianya yang sudah sepuh, tapi energi ceramahnya masih terasa kuat.
–000-
Dunia Islam Nusantara dan panggung kebangsaan Indonesia kembali kehilangan salah satu sauh moralnya yang paling kukuh.
KH. Syukron Makmun bukan sekadar nama yang menghiasi deretan para kiai sepuh. Ia adalah sebuah institusi berjalan, sebuah ensiklopedia hidup tentang bagaimana keteguhan prinsip dapat berdampingan dengan kelembutan dakwah, dan bagaimana gelombang politik nasional disikapi dengan kompas keimanan yang tak pernah menyimpang dari jarum utamanya.
Ketika kita mengenang sosok yang akrab disapa Buya Syukron ini, ingatan kita tidak hanya berhenti pada suaranya yang bergetar penuh wibawa di atas podium, atau bait-bait ayat suci yang dilantunkannya dengan penghayatan mendalam.
Kita sedang menatap sebuah monumen keteladanan tentang konsistensi—sebuah sifat yang semakin langka di tengah lanskap sosial kita yang kerap gamang diombang-ambingkan angin pragmatisme.
-000-
Singa Podium yang Berhati Lembut:
Dialektika Ketegasan dan Kasih Sayang
Banyak yang mengenal KH. Syukron Makmun sebagai “Singa Podium.” Julukan itu bukan sekadar hiperbola retorik.
Di era ketika retorika politik sering kali direduksi menjadi komoditas pencitraan yang hampa makna, Buya Syukron hadir dengan gaya orasi yang membakar kesadaran.
Setiap kata yang meluncur dari bibirnya memiliki bobot teologis sekaligus muatan sosiologis. Suaranya lantang mengkritik ketidakadilan, memperingatkan penguasa, dan membela kaum yang marjinal.
Namun, di balik keperkasaannya di atas mimbar, tersimpan sebuah dunia batin yang dipenuhi oleh kelembutan seorang “Murabbi.”
Sosiologi agama kerap mencatat bagaimana seorang pemimpin karismatik mampu menggerakkan massa, tetapi sedikit yang memiliki kemampuan untuk menyentuh relung-relung jiwa individu secara personal.Buya Syukron adalah pengecualian.
Bagi para santrinya di Pondok Pesantren Darul Rahman, ia bukan sosok yang berjarak. Ia adalah ayah, guru, sekaligus penjaga gawang moral yang mengawasi pertumbuhan spiritual mereka dengan penuh kesabaran.
Ketegasannya dalam menjaga disiplin ilmu dan akhlak selalu dibalut dengan senyum kebapakan. Ia mengajarkan bahwa ilmu agama bukanlah sekadar hafalan teks, melainkan laku hidup yang membumi—kejujuran yang merawat nurani dan keberanian yang berakar pada kebenaran ilahi.
-000-
Ulama di Persimpangan Zaman: Menjaga Kompas di Tengah Badai Politik
Perjalanan hidup KH. Syukron Makmun adalah sebuah studi kasus yang menarik tentang keterlibatan seorang ulama dalam ruang publik.
Lahir dari pergolakan sejarah bangsa yang dinamis, ia hidup di era di mana batas antara agama dan negara kerap ditarik dalam garis ketegangan yang tajam.
Sebagai seorang pemikir dan politisi yang pernah berada di gelanggang kekuasaan legislatif, Buya Syukron menunjukkan sebuah integritas yang jarang ditemui.
Ia memahami betul bahwa politik, dalam pandangan Islam, adalah siyasah—sebuah seni mengelola kemaslahatan umat.
Namun, ia tidak pernah membiarkan dirinya larut dalam lumpur kompromi murahan. Bagi Buya, kekuasaan hanyalah sarana, sementara tegaknya nilai-nilai keadilan, moralitas, dan kemanusiaan adalah tujuan mutlak yang tidak boleh ditawar.
Dalam perspektif sosiologis, ia adalah representasi dari “intellectual organic” yang digagas oleh Antonio Gramsci—seorang cendekiawan yang tidak tinggal di menara gading, melainkan turun tangan merumuskan kesadaran kolektif umat.
Ketika arus zaman menyeret masyarakat menuju materialisme dan pragmatisme politik, KH. Syukron Makmun berdiri tegak, bagai karang di tengah terjangan ombak, mengingatkan bangsa ini bahwa kemajuan material tanpa landasan moral etis hanyalah jalan menuju keruntuhan peradaban.
-000-
Darul Rahman: Monumen Abadi Sebuah Visi
Warisan terbesar seorang ulama sejati bukanlah harta benda atau monumen fisik yang mati, melainkan jiwa-jiwa yang dididik dengan ketulusan.
Pondok Pesantren Darul Rahman yang didirikannya adalah manifestasi nyata dari visi besar tersebut. Di pesantren inilah Buya menanam benih-benih kecintaan pada agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Setiap santri yang keluar dari gerbang Darul Rahman membawa potongan dari semangat gurunya: independensi berpikir, keberanian moral, dan kecintaan yang mendalam pada NKRI.
Buya Syukron sering mengingatkan bahwa seorang santri harus bermental “tuan rumah” di negeri sendiri—mandiri secara ekonomi, kuat secara intelektual, dan matang secara spiritual. Ia menolak mentalitas pinggiran.
Di tangannya, pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu-ilmu klasik, melainkan laboratorium kebudayaan tempat lahirnya kader-kader pemimpin bangsa yang berjiwa besar.
-000-
Menatap Warisan, Meneruskan Nyala Api
Kini, KH. Syukron Makmun telah berpulang ke hadirat Illahi. Raga sang Singa Podium telah beristirahat dengan tenang, menyusul para kekasih Allah yang telah lebih dulu mendahuluinya.
Namun, kematian seorang alim bukanlah akhir dari sebuah cerita; ia adalah awal dari babak baru di mana gagasan dan keteladanan sang tokoh diuji dalam memori kolektif umatnya.
Kepergian Buya meninggalkan sebuah kekosongan yang teramat besar. Di tengah krisis keteladanan hari ini, ketika figur-figur publik kerap membuat kita menghela napas panjang karena hilangnya komitmen moral, sosok seperti KH. Syukron Makmun sangat kita rindukan.
Kita merindukan suaranya yang lantang membela yang benar, kita merindukan kelembutannya dalam membimbing, dan yang terpenting, kita merindukan konsistensinya yang tak tergoyahkan oleh musim politik maupun kepentingan sesaat.
Selamat jalan, Buya. Engkau telah menunaikan amanah risalah dengan gemilang.
Engkau telah menganyam tasbih usia dan pengabdianmu menjadi untaian mutiara hikmah bagi bangsa ini.
Tugas kami yang tertinggal di bumi fana ini adalah memastikan agar nyala api keteladanan yang engkau wariskan tidak pernah padam—terus menerangi jalan generasi demi generasi, menjaga Indonesia tetap berada dalam lindungan kasih sayang Tuhan.
Lahumul-fatihah…(***)
Pejaten Barat, 18 Oktober 2026
Pukul: 11:19




