Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakanMenolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya MaestroIn-Memoriam
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/MENYEIMBANGKAN FILM KOMERSIAL DAN FILM SENI
Artikel Film

MENYEIMBANGKAN FILM KOMERSIAL DAN FILM SENI

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama16 April 20263 menit baca📍 Jakarta
MENYEIMBANGKAN FILM KOMERSIAL DAN FILM SENI - Budayantara TV

(Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan)

Oleh: Karsono Hadi (Sutradara)

Jakarta – Budayantara.tv Industri film Indonesia selama ini berjalan seperti orang pincang. Satu kaki melangkah kuat di wilayah film komersial penuh gemerlap angka penonton, perputaran uang, dan serapan tenaga kerja. Sementara kaki lainnya, film seni, kerap tertatih di pinggir jalan. Ia ada, tapi seperti tak diberi ruang untuk benar-benar berjalan.

Padahal, masalahnya bukan soal kualitas. Film seni bukan kalah karena buruk, melainkan karena aksesnya terbatas. Ia sering kalah bahkan sebelum sempat bertanding. Di sinilah kesalahan cara pandang kita: menganggap film komersial dan film seni sebagai dua kutub yang harus saling meniadakan.

Faktanya, keduanya tidak perlu saling sikut. Justru jika dikelola dengan tepat, mereka bisa saling menguatkan. Film komersial menjaga denyut industri tetap hidup, sementara film seni menjaga kedalaman dan identitas sinema itu sendiri. Yang dibutuhkan bukan retorika, melainkan langkah konkret yang menyentuh empat aspek utama: distribusi, pembiayaan, produksi, dan pendidikan penonton.

Distribusi adalah medan pertama yang perlu dibenahi. Selama ini, film seni sering tersingkir karena tidak mendapatkan jam tayang yang layak. Ia hadir sekadar formalitas, ditempatkan di jam-jam mati yang bahkan tidak memberi kesempatan untuk ditemukan penonton. Sudah saatnya ada keberpihakan nyata misalnya melalui regulasi yang mewajibkan bioskop menyediakan slot khusus, sekitar 10–15% setiap minggu, termasuk di jam tayang strategis. Penonton tidak bisa dihukum karena tidak menonton sesuatu yang tidak pernah benar-benar ditawarkan kepada mereka.

Selain itu, ekosistem layar alternatif perlu diperkuat. Studio kecil, bioskop komunitas, pemutaran di kampus, hingga ruang-ruang publik bisa menjadi jalur distribusi yang lebih organik. Platform digital pun harus berani menghadirkan kanal kurasi khusus, bukan sekadar menumpuk konten tanpa arah. Film seni tidak selalu butuh panggung besar, tapi ia butuh jalur yang jelas untuk sampai ke penontonnya.

Masuk ke persoalan pembiayaan, akar masalahnya sederhana: rasa takut rugi. Banyak sineas akhirnya memilih bermain aman karena tekanan untuk balik modal begitu besar. Di titik ini, negara tidak bisa sekadar jadi penonton. Dibutuhkan dana perfilman yang serius bukan proyek simbolik yang memberikan hibah atau pinjaman lunak berbasis kualitas artistik, bukan semata potensi pasar.

Peran swasta juga penting. Insentif pajak bisa menjadi jembatan agar investasi di film seni tidak hanya dilihat sebagai risiko, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab sosial sekaligus strategi jangka panjang. Di sisi lain, crowdfunding yang transparan dapat membuka ruang partisipasi publik. Penonton tidak lagi sekadar membeli tiket, tapi ikut menentukan karya mana yang layak hidup.

Dalam aspek produksi, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara keberanian dan kualitas. Film seni tidak cukup hanya kuat secara gagasan, tetapi juga harus matang dalam eksekusi. Program pengembangan naskah, pelatihan teknis, dan inkubasi kreatif perlu diperkuat. Sebaliknya, film komersial juga perlu didorong keluar dari zona nyaman. Industri tidak boleh terus-menerus bergantung pada formula yang itu-itu saja. Insentif bagi karya yang berani bereksperimen bisa menjadi pemantik perubahan.

Namun dari semua itu, satu hal yang paling krusial sering justru dilupakan: pendidikan penonton. Semua upaya akan sia-sia jika penontonnya tidak siap. Literasi film harus mulai ditanamkan sejak dini. Generasi baru perlu tumbuh bukan hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai penikmat yang kritis.

Diskusi publik, festival daerah, hingga ruang kritik di media harus kembali dihidupkan. Film seni tidak bisa dipasarkan dengan cara yang sama seperti film komersial. Ia membutuhkan pendekatan yang lebih personal, berbasis komunitas, dan dibangun melalui kepercayaan yang perlahan.

Industri film yang sehat bukanlah industri yang seragam, melainkan yang beragam. Film komersial menjaga roda ekonomi tetap berputar. Film seni menjaga jiwa sinema tetap bernyala. Tanpa keseimbangan, yang satu akan menjadi dangkal, sementara yang lain perlahan menghilang.

Dan jika itu terjadi, yang hilang bukan hanya pasar. Kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: identitas.**

Karsono Hadi
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

In-Memoriam - Budayantara TV
Artikel

In-Memoriam

26 September 20262 menit baca

​GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM ​Oleh: M. Guntur Alting/Dewan Pembina DPW SWI JAYA – DKI Jakarta…

​SIAPA YANG GOBLOK ? - Budayantara TV
Artikel

​SIAPA YANG GOBLOK ?

24 September 20264 menit baca

Oleh: M.Guntur AltingDewan Pembina DPW SWI JAYA DKI Jakarta​Jakarta – Budayantara.tv ​PERTANYAAN itu tiba-tiba saja menyeruak ke ruang…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber