Surakarta, – Budayantara.tv Spiritualitas, kebudayaan, kritik sosial, dan kekuatan seni akan berpadu dalam sebuah perhelatan bertajuk “Renungan Mengolah Daya Hidup”, yang digelar untuk memperingati 91 tahun WS Rendra. Acara ini dijadwalkan berlangsung pada 9 November 2026, mulai pukul 19.30 WIB, di Pendopo Ageng Gendhon Humardani, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.
Mengusung tajuk yang sarat makna, kegiatan ini bukan sekadar perayaan mengenang perjalanan seorang seniman besar, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk menggali kembali pemikiran, keberanian, dan daya hidup yang diwariskan melalui karya-karya WS Rendra.
WS Rendra dikenal sebagai sosok penyair, dramawan, sekaligus budayawan yang menjadikan seni sebagai medium untuk menyuarakan kemanusiaan, kegelisahan sosial, kebebasan berpikir, dan keberpihakan terhadap nilai-nilai kehidupan. Pemikirannya tetap relevan di tengah perubahan zaman, ketika masyarakat membutuhkan ruang kebudayaan yang kritis sekaligus membangun.
Eddie Karsito selaku humas kegiatan berharap “melalui kegiatan ini, semangat Rendra dihadirkan kembali dalam perjumpaan lintas generasi dan lintas ekspresi seni. Musik, puisi, pertunjukan, serta refleksi kebudayaan diharapkan menjadi jembatan untuk merawat ingatan kolektif sekaligus menghidupkan kembali daya kritis masyarakat”.ujarnya.
Sejumlah seniman dan kelompok seni dijadwalkan turut memeriahkan acara, di antaranya Sawung Jabo, Suzan Piper, Sirkus Barock, Setiawan Djody, Untung Basuki, MS Kaban, Butet Kertarajasa, Wiranto, Eep Saefulloh Fatah, Sandrina Malakiano, Rere Grass Rock, Didi Nini Towok, Sruti Respati, Ine Ariani, Dewo, Fajar Satriadi, Grisella, Encik Krisna, DS Priyayi, Herman Aga, Punden Musik Puisi, dan Merah Putih Band.
Perhelatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Bengawan Solo Gong bersama sejumlah mitra dan komunitas seni yang memiliki perhatian terhadap perkembangan kebudayaan Indonesia.
Seni sebagai Jalan Mengolah Kehidupan
Kata “mengolah” dalam tajuk acara ini mengandung pesan mendalam. Kehidupan bukan sekadar sesuatu yang dijalani, melainkan perlu direnungkan, diperjuangkan, dan diberi makna. Seni menjadi salah satu jalan untuk memahami manusia, membaca realitas, serta menjaga keberanian menyampaikan kebenaran.
Dalam semangat itulah, peringatan 91 tahun WS Rendra diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual dan kebudayaan yang tidak berhenti pada nostalgia, tetapi mampu melahirkan gagasan serta gerakan baru.
Menariknya, acara ini terbuka untuk masyarakat umum tanpa dipungut biaya masuk (gratis). Publik, komunitas seni, mahasiswa, pegiat budaya, dan generasi muda diundang untuk hadir dan menjadi bagian dari perjumpaan kebudayaan tersebut.
Sebab, mengenang Rendra bukan hanya mengingat siapa dirinya, tetapi juga meneruskan keberanian untuk berpikir, bersuara, berkarya, dan memanusiakan manusia.
Renungan Mengolah Daya Hidup: merawat ingatan, menghidupkan keberanian, dan menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan kehidupan.**




