Jakarta — Budayantara.tv Kehidupan tidak hanya membutuhkan kecerdasan dalam berpikir, tetapi juga kejernihan hati dalam menentukan langkah. Pesan itulah yang menjadi bagian penting dalam kegiatan “Mengenal Ilmu Kehidupan bersama Sekolah Ridho Allah”,Sekolah Ridho Allah yang digagas oleh Guru Antono Basuki, PH. yang berlangsung di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (6/9/2026).
Kegiatan yang disampaikan oleh Ustadz Narwoto tersebut mengajak peserta untuk memahami kehidupan dari sisi spiritual melalui konsep “7 Ilmu Penjernihan Hati”. Tujuh nilai tersebut menjadi bekal untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan lebih tenang, ikhlas dan penuh kesadaran kepada Allah SWT.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Narwoto mengajak peserta untuk tidak hanya mengejar keberhasilan lahiriah, tetapi juga memperhatikan kondisi hati. Sebab, hati yang bersih akan memengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap dan mengambil keputusan.
Tujuh Ilmu Penjernih Hati
Konsep yang diperkenalkan Sekolah Ridho Allah merangkum tujuh nilai utama, yaitu ikhlas, sabar, sholat, dzikir, tawakal, syukur, serta berprasangka baik dan waspada.
Pertama, ikhlas.
Ikhlas menjadi dasar dalam menjalani kehidupan. Setiap perbuatan hendaknya dilakukan dengan niat yang benar dan diarahkan karena Allah SWT. Ketika seseorang belajar ikhlas, ia tidak mudah kecewa ketika kebaikannya tidak mendapatkan penghargaan dari manusia.
Kedua, sabar.
Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan untuk tetap teguh ketika menghadapi ujian, kekecewaan maupun keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Dengan kesabaran, seseorang memiliki ruang untuk berpikir jernih sebelum mengambil tindakan.
Ketiga, sholat.
Sholat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus momentum untuk menenangkan hati. Kekhusyukan dalam sholat diharapkan mampu membawa ketenangan dan menjadi pengingat agar manusia tidak larut dalam kesibukan dunia.
Keempat, dzikir.
Mengingat Allah menjadi salah satu cara menjaga hati agar tidak mudah dikuasai kegelisahan. Dzikir mengajak manusia untuk selalu mengingat bahwa dalam setiap persoalan terdapat tempat untuk memohon pertolongan dan berserah diri kepada Allah SWT.
Kelima, tawakal.
Tawakal mengajarkan keseimbangan antara usaha dan penyerahan diri. Manusia harus berusaha secara maksimal, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Dengan demikian, kegagalan tidak menjadi alasan untuk kehilangan harapan dan keberhasilan tidak membuat seseorang lupa diri.
Keenam, syukur.
Syukur mengajarkan manusia untuk melihat dan menghargai nikmat yang telah diberikan Allah. Tidak hanya melihat kekurangan, tetapi juga menyadari bahwa dalam setiap perjalanan kehidupan selalu terdapat karunia yang patut disyukuri.
Ketujuh, berprasangka baik dan tetap waspada.
Berprasangka baik menghindarkan seseorang dari kebiasaan mudah menuduh dan berpikir negatif terhadap orang lain. Namun, sikap tersebut tetap harus disertai kewaspadaan agar seseorang tidak kehilangan kehati-hatian dalam menghadapi berbagai situasi.
Bukan Sekadar Ilmu, tetapi Jalan Kehidupan
Tujuh ilmu tersebut pada dasarnya saling berkaitan. Ikhlas menata niat, sabar menguatkan hati, sholat dan dzikir mendekatkan diri kepada Allah, tawakal mengajarkan berserah setelah berikhtiar, syukur menghadirkan ketenangan, sementara prasangka baik dan kewaspadaan menjaga keseimbangan dalam kehidupan.
Melalui Sekolah Ridho Allah, konsep Ilmu Kehidupan diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah keluarga, lingkungan sosial, pekerjaan maupun dalam menghadapi berbagai persoalan pribadi.
Pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut sederhana namun mendalam: kehidupan yang baik bukan hanya tentang bagaimana seseorang mencapai tujuan, tetapi bagaimana ia menjaga hati selama menjalani perjalanan.
Karena itu, menjernihkan hati bukan pekerjaan sesaat. Ia merupakan proses panjang untuk belajar mengenal diri, memperbaiki niat, memperkuat hubungan dengan Allah dan menjadi manusia yang lebih baik bagi sesama.
“Ilmu Penjernih Hati” pada akhirnya bukan sekadar tujuh kata, melainkan tujuh jalan untuk belajar menjalani kehidupan dengan lebih ikhlas, sabar, bersyukur dan penuh tawakal.




