Jakarta — Budayantara.tv Sejarah Krakatau seperti kembali membuka lembarannya.Dari kehancuran dahsyat pada 1883, lahirlah kehidupan baru di tengah Selat Sunda. Hampir setengah abad kemudian, aktivitas vulkanik di bawah laut memunculkan sebuah gunung api baru yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.
Kini, hampir satu abad setelah kemunculannya, Anak Krakatau kembali mengingatkan bahwa bumi di kawasan Selat Sunda belum pernah benar-benar diam.
Erupsi yang berlangsung sejak awal September 2026 memunculkan kolom abu vulkanik dan aktivitas erupsi menerus yang dampaknya meluas hingga sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatera, termasuk DKI Jakarta.
Badan Geologi mencatat Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, disertai suara gemuruh. Fenomena semburan merah menyala yang terlihat dari pos pengamatan disebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava.
Abu Vulkanik Menjangkau Jakarta
Dampak erupsi tidak hanya terasa di sekitar Selat Sunda.
BMKG pada 6 September 2026 menyatakan hasil analisis citra satelit mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Sebaran abu tersebut menjadi perhatian serius karena berada pada jalur penerbangan yang sangat padat.
Material abu vulkanik bahkan dilaporkan terlihat di sejumlah wilayah Jakarta. Rekaman warga memperlihatkan abu menempel pada kendaraan maupun permukaan bangunan.
Bagi masyarakat, fenomena ini menjadi pengingat bahwa erupsi gunung api tidak mengenal batas administratif. Abu yang dilepaskan dari sebuah gunung api di tengah Selat Sunda dapat terbawa angin dan menjangkau wilayah yang berjarak jauh.
Tiga Bandara Terdampak
Dampak paling nyata terjadi pada sektor penerbangan.
AirNav Indonesia melakukan penyesuaian operasional dan memperbarui NOTAM menyusul sebaran abu vulkanik. Tiga bandar udara terdampak adalah Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dan Bandara Radin Inten II Lampung.
Penutupan sementara ruang udara tersebut dilakukan sebagai langkah keselamatan penerbangan.
Abu vulkanik memiliki risiko serius terhadap mesin pesawat karena dapat masuk ke dalam mesin dan mengganggu kinerja penerbangan. Karena itu, ketika sebaran abu memasuki jalur penerbangan, keselamatan menjadi prioritas utama.
Laporan internasional juga mencatat gangguan penerbangan yang cukup besar di Jakarta akibat sebaran abu Anak Krakatau.

Anak Krakatau, Anak dari Sebuah Bencana Besar
Kisah Anak Krakatau tidak dapat dipisahkan dari tragedi Krakatau 1883.
Letusan besar Krakatau pada 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan memicu tsunami dahsyat di kawasan Selat Sunda. Dari kawasan kaldera tersebut, aktivitas vulkanik kemudian membangun gunung baru.
Anak Krakatau mulai muncul dari laut pada 1927. Tubuh gunung kemudian terus berkembang melalui aktivitas erupsi. Badan Geologi menyebutnya sebagai gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan.
Sejak kemunculannya, Anak Krakatau terus mengalami proses pembangunan tubuh gunung.
Erupsinya dapat berupa letusan eksplosif maupun aliran lava. Karakter tersebut menunjukkan bahwa Anak Krakatau masih menjadi gunung api yang aktif dan terus mengalami perubahan.
2018 Menjadi Pengingat Paling Dekat
Nama Anak Krakatau kembali menjadi perhatian dunia pada Desember 2018.
Aktivitas erupsi saat itu diikuti longsoran sebagian tubuh gunung ke laut yang kemudian memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.
Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bahwa bahaya Anak Krakatau bukan hanya berasal dari abu, lava, atau lontaran material vulkanik, tetapi juga perubahan morfologi tubuh gunung yang harus terus dipantau.
Namun, dalam evaluasi terbaru, Badan Geologi menyatakan tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami berdasarkan kondisi saat laporan tersebut dibuat. Meski demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif.
Status Masih Siaga
Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut masih berlaku dalam laporan Badan Geologi terbaru.
Masyarakat dan wisatawan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Badan Geologi juga mengingatkan potensi bahaya berupa lava, lontaran batu pijar, awan panas, serta hujan abu lebat.
Masyarakat di wilayah Banten dan Lampung diminta tetap tenang serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah dan lembaga terkait.
Ketika Anak Krakatau Kembali Berbicara
Krakatau 1883 adalah sejarah.
Anak Krakatau 1927 adalah kelahiran kembali.
Erupsi 2018 adalah peringatan.
Dan aktivitas September 2026 adalah pesan berikutnya bahwa Selat Sunda merupakan kawasan dengan dinamika geologi yang harus selalu dihormati.
Gunung api tidak sedang “marah”. Ia bekerja mengikuti hukum alam yang telah berlangsung jauh sebelum manusia mengenal batas negara, kota, bahkan peradaban.
Tugas manusia adalah membaca tanda-tandanya.
Memantau kegempaan, mengamati perubahan tubuh gunung, memperhatikan arah angin dan sebaran abu, serta mematuhi rekomendasi keselamatan bukanlah bentuk ketakutan.
Itulah bentuk kesiapsiagaan.
Dari Krakatau yang runtuh pada 1883, lahirlah Anak Krakatau.
Dan selama bumi masih bergerak, Anak Krakatau akan terus menjadi bagian dari kisah panjang Nusantara sebuah kisah tentang kehancuran, kelahiran kembali, dan manusia yang belajar hidup berdampingan dengan kekuatan alam.**




