Home / News / Malam Kesenian Jakarta Tampilkan Ragam Ekspresi Seni di TIM

Malam Kesenian Jakarta Tampilkan Ragam Ekspresi Seni di TIM

Jakarta — Budayantara.tv Malam Kesenian Jakarta digelar dengan meriah di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Selasa (10/2/2026). Kegiatan ini menjadi ruang temu bagi para seniman untuk menampilkan keberagaman ekspresi estetika yang merepresentasikan wajah kesenian Jakarta sebagai kota global.

Acara dibuka dengan sambutan Ketua Panitia, Mustafa Kamil, yang menegaskan bahwa Malam Kesenian Jakarta dirancang sebagai ruang bersama untuk menyajikan keberagaman seni. Mulai dari bacaan cerpen, pembacaan puisi, tari Topeng Betawi, tari Topeng Cirebon, hingga berbagai bentuk ekspresi seni lainnya ditampilkan dalam satu panggung.

“Ini adalah wajah-wajah kesenian di Jakarta, yang juga mewakili wajah-wajah masyarakatnya. Kegiatan ini kami harapkan menjadi ruang apresiasi dan perjumpaan seni yang berkelanjutan,” ujar Mustafa Kamil. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak dan hadirin yang telah memberikan dukungan serta apresiasi terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, dilakukan pengenalan Pengurus Baru Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ) periode 2025–2030. Pengenalan disampaikan oleh Arie Batubara, selaku Ketua Badan Pengurus Harian MKJ, yang menekankan pentingnya kolaborasi dan penguatan peran komunitas seni di tengah dinamika Jakarta sebagai kota global.

Malam Kesenian Jakarta juga diisi dengan Orasi Budaya bertajuk “Seni dalam Lanskap Kota Global Jakarta” yang disampaikan oleh Ngatawi Al-Zastrow. Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa seni harus mampu berjalan seiring dengan komunitas dunia tanpa kehilangan akar budayanya.

“Seni harus memiliki nilai yang bisa ditawarkan ke dunia, sekaligus menjadi jangkar untuk menyaring kekuatan budaya global, dengan karakter nilai yang kreatif dan inovatif,” tuturnya. Ia mencontohkan Jepang sebagai negara yang berhasil menjaga nilai-nilai kesenian berkarakter di tengah arus globalisasi.

Menurut Ngatawi, tantangan seni budaya hari ini adalah kemampuan membaca potensi dan kebutuhan kota global. “Tugas kita adalah menggali dan membuka sumbatan-sumbatan peradaban seni budaya yang ada saat ini,” tambahnya.

Selain orasi budaya, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi, pentas seni, tarian, serta dramatical reading, yang disambut antusias oleh para penonton.

Malam Kesenian Jakarta pun menjadi bukti bahwa seni tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang refleksi, dialog, dan penguatan identitas budaya Jakarta di tengah lanskap kota global.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *