Jakarta, — Budayantara.tv Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta kembali melanjutkan rangkaian kegiatan Pendataan dan Diskusi Konsultatif Naskah Kuno di DKI Jakarta dengan tajuk “Kitab Al Fatawi & Pusparagam Naskah Warisan Skriptorium Pecenongan”. Memasuki hari kedua, diskusi berlangsung di Perpustakaan Jakarta, Cikini, dan menghadirkan antusiasme tinggi dari kalangan akademisi, peneliti, hingga masyarakat adat Betawi.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai narasumber dari Perpusnas RI, Brint, Manasa, Universitas Indonesia (UI), Universitas Islam Bandung (Unisba), serta didukung oleh filolog dari UIN, para mahasiswa, dan Lembaga Pemangku Adat Jayakarta. Seluruh pihak berkumpul untuk menelusuri salah satu naskah paling bersejarah dalam perkembangan kebudayaan Betawi, yakni Naskah Pecenongan.
Menguak Naskah Pecenongan: Jejak Hikayat Betawi Tahun 1830
Dalam diskusi, para ahli memaparkan bahwa Naskah Pecenongan dituliskan pada sekitar tahun 1830 dan memuat beragam hikayat yang ditulis oleh orang Betawi pada masa itu. Naskah tersebut masih tersimpan baik oleh pewarisnya, Fadil, yang menjadi penerus keluarga pemilik naskah tersebut.
Perwakilan Perpusnas RI menegaskan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pelestarian naskah kuno. “Setiap naskah yang disimpan masyarakat dapat dan berhak didaftarkan ke Perpusnas, sesuai dengan undang-undang. Kami siap mendampingi proses tersebut,” jelas perwakilan Perpusnas. Dukungan penyiaran dan dokumentasi turut akan diperkuat oleh Brint, sementara Manasa menambahkan bahwa naskah-naskah seperti ini akan dipertimbangkan untuk masuk dalam pengembangan literasi dan kurikulum di masa mendatang.
Cikal Bakal Kebetawian dalam Manuskrip
Diskusi berlanjut dengan pemaparan dari pihak Brint, yang membahas tema kebetawian dari sisi kebudayaan dan keagamaan. Naskah Pecenongan dinilai memiliki nilai historis yang sangat penting sebagai jati diri masyarakat Betawi, karena memuat kisah, identitas, dan tradisi masyarakat Betawi lama.
Puncak sesi diskusi diwarnai penjelasan mendalam dari RB Abi Munawir Al Madani Mertakusuma, atau yang dikenal sebagai Pangeran Abi, penerus trah Kepangeranan Jayakarta. Beliau menyampaikan bahwa Naskah Pecenongan merupakan bagian penting dari rangkaian naskah yang mengisahkan cikal bakal orang Betawi.
“Naskah Pecenongan adalah terusan dari perjalanan kebudayaan Betawi. Di dalamnya, termasuk manuskrip Al Fatawi, tercatat sejarah dan identitas orang asli Betawi,” ujar Pangeran Abi.
Pelestarian Naskah sebagai Upaya Menjaga Identitas
Kegiatan hari kedua ini tidak hanya menjadi ajang diskusi ilmiah, tetapi juga memperkuat komitmen bersama untuk menjaga dan menghidupkan kembali khazanah naskah kuno Betawi. Dispusip DKI Jakarta berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam pemetaan naskah kuno Betawi agar dapat diteliti, didokumentasikan, dan dikenal lebih luas oleh generasi mendatang.
Kegiatan “Jejak Naskah Kuno Jakarta” akan terus berlanjut sebagai bagian dari misi pelestarian sejarah literasi dan budaya Betawi, sekaligus memperkuat literasi kearifan lokal Jakarta.




