Jakarta ,— Budayantara.tv Dalam semangat bulan Syawal yang sarat makna silaturahmi dan penyucian diri, Pondok Budaya Rorotan akan menggelar acara Halal Bihalal Syawal 1447 Hijriah pada Senin, 30 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan momentum Bulan Kebudayaan, yang juga menandai hari lahir LESBUMI NU.
Mengusung tema besar harmoni antara seni dan dakwah, acara ini menegaskan peran seni sebagai kendaraan nilai-nilai spiritual. Seni tidak hanya diposisikan sebagai ekspresi estetika, melainkan juga sebagai instrumen dakwah yang menyampaikan pesan keagamaan dengan cara yang indah, lembut, dan menentramkan.
Dalam pandangan LESBUMI NU, seni bukanlah ruang untuk membangun ortodoksi yang kaku. Sebaliknya, lembaga ini hadir sebagai wadah bagi para seniman dan pegiat budaya yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian tradisi serta penanaman nilai-nilai kearifan lokal Nusantara.
Pondok Budaya Rorotan akan menyuguhkan beragam kegiatan dalam gelar budaya tersebut, mulai dari pertunjukan silat Betawi yang sarat filosofi, musikalisasi puisi bernuansa reflektif, hingga forum “ngopi budaya” yang menghadirkan dialog santai namun mendalam tentang arah kebudayaan Indonesia. Selain itu, refleksi kebudayaan Nusantara akan menjadi ruang kontemplasi bersama dalam merawat identitas budaya di tengah arus modernitas.
Kehadiran Budayantara Network sebagai Etalase Seni Budaya Nusantara turut memperkuat warna acara ini. dikenal aktif mengangkat nilai-nilai budaya sebagai bagian dari dakwah Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Founder Budayantara Network, Masdjo Arifin, menegaskan bahwa peran media budaya sangat strategis dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman yang ramah dan kontekstual. “Budayantara hadir sebagai perangkat dalam menyelenggarakan dakwah Islamiyah yang berpijak pada tradisi dan kearifan lokal,” ujarnya pada Kamis (26/3/2026).
Melalui gelaran ini, Pondok Budaya Rorotan tidak hanya menghadirkan ruang silaturahmi, tetapi juga mempertemukan seni, tradisi, dan spiritualitas dalam satu panggung kebudayaan yang hidup. Sebuah ikhtiar merawat warisan leluhur sekaligus meneguhkan bahwa seni dan agama dapat berjalan beriringan, menghadirkan kedamaian bagi masyarakat.**




