H. Ahmad Yusuf: Industri Sinetron Kini Menghadapi Tantangan Berat dari Media Sosial

Jakarta – Budayantara.tv Sosok senior dunia sinetron Indonesia, H. Ahmad Yusuf atau yang akrab disapa Bang Ucup, membuka banyak cerita menarik saat menjadi narasumber podcast Proses (Profesional Sukses) bersama Budayantara TV yang dipandu Renee Partina, Jumat (29/5/2026).
Dalam suasana santai namun penuh makna, Bang Ucup berbicara mengenai perjalanan hidupnya setelah vakum dari industri hiburan, perubahan besar di dunia sinetron Indonesia, hingga pesan mendalam untuk generasi muda kreatif.
“Sekarang saya sedang menikmati bangun siang, jalan-jalan bersama teman dan saudara. Di rumah juga ada kegiatan wedding organization dan venue untuk acara,” ujar Bang Ucup sambil tersenyum.

Meski tidak lagi aktif seperti dulu di lokasi syuting, hari-hari Bang Ucup tetap dipenuhi aktivitas produktif. Akhir pekan menjadi waktu tersibuknya karena harus mengurus berbagai kegiatan usaha keluarga dan sosial.
Vakum karena Kondisi Kesehatan
Bang Ucup mengungkapkan dirinya mulai meninggalkan aktivitas syuting sekitar sembilan tahun lalu setelah kondisi kesehatannya menurun. Saat itu, ia memilih fokus memulihkan diri dibanding memaksakan bekerja dengan ritme produksi yang padat.
Namun, meski vakum cukup lama, tawaran kembali ke dunia produksi sinetron ternyata masih terus berdatangan.
“Alhamdulillah tawaran masih banyak. Tapi dulu saya belum siap karena sakit. Sekarang stamina mulai membaik, jadi mulai kepikiran mungkin boleh mulai lagi,” katanya.
Meski demikian, menurutnya dunia sinetron saat ini sudah mengalami perubahan besar dibanding masa kejayaannya dahulu.
Industri Sinetron Dinilai Semakin Berat
Dalam podcast tersebut, Bang Ucup menyoroti kondisi industri sinetron dan FTV yang menurutnya semakin memprihatinkan. Ia menilai waktu produksi yang terlalu singkat membuat kualitas karya menurun, sementara kesejahteraan kru dan pekerja kreatif ikut terdampak.
“Dulu kru film dan artis bisa bekerja dengan hasil yang cukup. Bisa nabung, beli rumah, dan mencukupi kebutuhan keluarga. Sekarang banyak yang kerja keras tapi sulit punya tabungan,” ungkapnya.
Ia juga mengkritisi pola syuting yang semakin tidak manusiawi.
“Sekarang syuting bisa dari pagi sampai pagi. FTV yang dulu dikerjakan lima sampai tujuh hari, sekarang satu sampai dua hari saja. Akhirnya kualitas dan kesehatan kru jadi taruhan,” jelas Bang Ucup.
Menurutnya, tekanan industri membuat proses kreatif tidak lagi maksimal karena semuanya hanya mengejar tayang cepat.
Kenangan Manis di Dunia Produksi
Saat mengenang masa-masa terbaiknya di industri hiburan, Bang Ucup menyebut pengalaman bersama rumah produksi Motivation dan Cinema sebagai periode yang paling berkesan dalam kariernya.
Di masa itu, menurutnya, proses produksi dilakukan dengan lebih sehat, terencana, dan memberi ruang kreativitas bagi seluruh tim.
“Waktu itu karya-karya bisa dihasilkan dengan lebih baik karena prosesnya juga lebih baik,” kenangnya.
Kini Aktif di Lesbumi PWNU Jakarta
Selain fokus pada kegiatan keluarga dan usaha, Bang Ucup kini juga aktif di Lesbumi PWNU Jakarta. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan budaya dan sosial yang menurutnya menjadi ruang pengabdian baru setelah lebih banyak meninggalkan dunia televisi.
Baginya, aktivitas budaya memiliki peran penting dalam menjaga identitas dan nilai-nilai masyarakat di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Pesan untuk Generasi Muda Kreatif
Di akhir perbincangan, Bang Ucup menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda yang ingin terjun ke dunia perfilman dan penyutradaraan.
Menurutnya, bakat saja tidak cukup. Anak muda perlu memperkaya wawasan budaya, sosial, ekonomi, hingga politik agar karya yang dihasilkan memiliki kedalaman makna.
“Untuk jadi sutradara atau profesional itu ada proses panjang. Ada pendalaman jiwa dan pikiran. Sekarang banyak yang serba cepat lewat learning by doing,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa industri sinetron saat ini menghadapi tantangan besar dari media sosial dan platform digital yang mengubah pola konsumsi hiburan masyarakat.
Meski begitu, Bang Ucup tetap optimistis dunia kreatif Indonesia akan terus berkembang selama para pelaku industri tetap menjaga kualitas, kreativitas, dan semangat berkarya.**



