Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakanMenolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya MaestroIn-Memoriam
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Festival Film Daerah Dinilai “Meriah di Poster, Rapuh di Akar”
Artikel Film News

Festival Film Daerah Dinilai “Meriah di Poster, Rapuh di Akar”

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama18 April 20262 menit baca📍 Jakarta
Festival Film Daerah Dinilai “Meriah di Poster, Rapuh di Akar” - Budayantara TV

Jakarta – Budayantara.tv Seorang pegiat perfilman, Adisurya Abdy, menyoroti fenomena maraknya festival film di berbagai daerah yang dinilai belum memiliki fondasi kuat sebagai bagian dari ekosistem sinema nasional. Dalam pernyataannya, ia menggambarkan kondisi tersebut dengan ungkapan tajam: “meriah di poster, rapuh di akar.” dalam sebuah keterangannya.Sabtu (18/4/2026).

Menurut Adisurya, festival film di luar Jakarta kini tumbuh pesat, namun cenderung bersifat sementara. “Spanduk terbentang, pejabat berpidato, lampu sorot menyala, seolah sinema telah menemukan rumah barunya. Namun begitu panggung dibongkar, yang tersisa hanyalah kursi kosong dan janji yang menguap,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada niat. Banyak festival lahir dari semangat yang sama: mengangkat cerita lokal, memberi ruang bagi sineas muda, serta mendekatkan film kepada publik. Namun, semangat tersebut kerap berhenti pada seremoni tanpa keberlanjutan.

Adisurya menilai festival film daerah masih sering diposisikan sebagai proyek jangka pendek, bukan bagian dari strategi kebudayaan. Akibatnya, ukuran keberhasilan lebih menitikberatkan pada aspek administratif, seperti jumlah hari pelaksanaan atau kehadiran tamu, bukan pada dampak nyata seperti lahirnya karya baru, perkembangan penonton, atau terbentuknya jaringan kreatif.

“Festival kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang kurasi dan pertemuan gagasan. Film dipilih bukan karena keberanian artistik, tetapi karena kedekatan sosial. Ini membuat festival menjadi panggung aman, bukan ruang yang mengguncang,” katanya.

Ketergantungan pada dana pemerintah juga disebut menjadi salah satu masalah krusial. Perubahan kepemimpinan daerah sering kali berujung pada terhentinya festival karena tidak adanya model pendanaan mandiri dan strategi keberlanjutan.

Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur seperti minimnya bioskop dan fasilitas pemutaran dinilai bukan satu-satunya hambatan. Adisurya menekankan bahwa masalah utama justru terletak pada kurangnya visi. Banyak festival ingin berlabel “internasional”, namun tidak memiliki identitas yang jelas.

Padahal, menurutnya, kekuatan festival daerah justru terletak pada kekhususan. Festival dapat menjadi ruang bagi cerita-cerita lokal yang tidak terakomodasi di pusat, sekaligus menjadi laboratorium bagi eksplorasi estetika baru.

Adisurya menekankan pentingnya keseriusan dalam membangun festival film. Hal itu mencakup keberanian keluar dari logika proyek, membangun program berkelanjutan sepanjang tahun, menjaga independensi kurasi, serta memahami bahwa dampak budaya tidak dapat diukur dalam waktu singkat.

“Festival film daerah tidak kekurangan energi. Yang kurang adalah keberanian untuk bertahan,” tegasnya.

Ia menutup dengan peringatan bahwa tanpa perubahan pendekatan, festival film daerah akan terus menjadi peristiwa sesaat tanpa warisan. Namun jika dikelola sebagai strategi kebudayaan, festival berpotensi menjadi fondasi lahirnya gelombang baru sinema Indonesia dari luar pusat.

Adisurya Abdy PATFI
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat Beksi - Budayantara TV
News

Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat Beksi

27 September 20261 menit baca

Jakarta – Budayantara.tv “Observasi dan wawancara hari ini, membuka wawasan baru mengenai keadaan esksisting wisata di Kampung Wisata…

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

Menolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro - Budayantara TV
News

Menolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro

26 September 20265 menit baca

Solo,– Budayantara.tv Penerbitan naskah wayang orang dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkokoh struktur identitas kultural bangsa Indonesia. Melalui…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber