Festival Film Daerah Dinilai “Meriah di Poster, Rapuh di Akar”

Festival Film Daerah Dinilai “Meriah di Poster, Rapuh di Akar”

Jakarta – Budayantara.tv Seorang pegiat perfilman, Adisurya Abdy, menyoroti fenomena maraknya festival film di berbagai daerah yang dinilai belum memiliki fondasi kuat sebagai bagian dari ekosistem sinema nasional. Dalam pernyataannya, ia menggambarkan kondisi tersebut dengan ungkapan tajam: “meriah di poster, rapuh di akar.” dalam sebuah keterangannya.Sabtu (18/4/2026).

Menurut Adisurya, festival film di luar Jakarta kini tumbuh pesat, namun cenderung bersifat sementara. “Spanduk terbentang, pejabat berpidato, lampu sorot menyala, seolah sinema telah menemukan rumah barunya. Namun begitu panggung dibongkar, yang tersisa hanyalah kursi kosong dan janji yang menguap,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada niat. Banyak festival lahir dari semangat yang sama: mengangkat cerita lokal, memberi ruang bagi sineas muda, serta mendekatkan film kepada publik. Namun, semangat tersebut kerap berhenti pada seremoni tanpa keberlanjutan.

Adisurya menilai festival film daerah masih sering diposisikan sebagai proyek jangka pendek, bukan bagian dari strategi kebudayaan. Akibatnya, ukuran keberhasilan lebih menitikberatkan pada aspek administratif, seperti jumlah hari pelaksanaan atau kehadiran tamu, bukan pada dampak nyata seperti lahirnya karya baru, perkembangan penonton, atau terbentuknya jaringan kreatif.

“Festival kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang kurasi dan pertemuan gagasan. Film dipilih bukan karena keberanian artistik, tetapi karena kedekatan sosial. Ini membuat festival menjadi panggung aman, bukan ruang yang mengguncang,” katanya.

Ketergantungan pada dana pemerintah juga disebut menjadi salah satu masalah krusial. Perubahan kepemimpinan daerah sering kali berujung pada terhentinya festival karena tidak adanya model pendanaan mandiri dan strategi keberlanjutan.

Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur seperti minimnya bioskop dan fasilitas pemutaran dinilai bukan satu-satunya hambatan. Adisurya menekankan bahwa masalah utama justru terletak pada kurangnya visi. Banyak festival ingin berlabel “internasional”, namun tidak memiliki identitas yang jelas.

Padahal, menurutnya, kekuatan festival daerah justru terletak pada kekhususan. Festival dapat menjadi ruang bagi cerita-cerita lokal yang tidak terakomodasi di pusat, sekaligus menjadi laboratorium bagi eksplorasi estetika baru.

Adisurya menekankan pentingnya keseriusan dalam membangun festival film. Hal itu mencakup keberanian keluar dari logika proyek, membangun program berkelanjutan sepanjang tahun, menjaga independensi kurasi, serta memahami bahwa dampak budaya tidak dapat diukur dalam waktu singkat.

“Festival film daerah tidak kekurangan energi. Yang kurang adalah keberanian untuk bertahan,” tegasnya.

Ia menutup dengan peringatan bahwa tanpa perubahan pendekatan, festival film daerah akan terus menjadi peristiwa sesaat tanpa warisan. Namun jika dikelola sebagai strategi kebudayaan, festival berpotensi menjadi fondasi lahirnya gelombang baru sinema Indonesia dari luar pusat.

About Author

Budayantara TV

Budayantara TV adalah platform media digital yang berdedikasi untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia. Kami hadir sebagai jembatan antara nilai-nilai luhur budaya tradisional dengan dinamika kehidupan modern. 🎭 Visi Kami: Menjadi etalase budaya Indonesia yang terpercaya, menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya bangsa. 📰 Fokus Liputan: • Seni & Budaya Nusantara • Event & Festival Budaya • Kuliner Tradisional Indonesia • Tokoh & Maestro Budaya • Pelestarian Warisan Leluhur • Inovasi Budaya Kontemporer ✨ Komitmen Kami: Menyajikan konten berkualitas, informatif, dan inspiratif tentang kekayaan budaya Indonesia untuk audiens lokal dan global. 📧 Kontak: Email: admin@budayantara.tv Website: https://budayantara.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *