Pasuruan – Budayantara.tv Deklarasi Lawang menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian lingkungan hidup, khususnya sumber mata air di Indonesia. Kegiatan ini digelar pada Jumat, (27/3/2026), bertempat di Hotel OAK Lawang, dengan mengusung tema “Membangun Relasi Lebih Bermakna.”
Deklarasi ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya pada 31 Januari 2026 di lereng Gunung Arjuno, yang saat itu disemarakkan oleh pagelaran wayang kulit klasik Ringgit Purwo dengan lakon Bodronoyo Membangun Kerukunan. Nuansa budaya dan spiritualitas tersebut menjadi fondasi kuat lahirnya gerakan pelestarian air berbasis kearifan lokal.
Komitmen Moral dan Spiritual
Dalam pernyataan deklarasi, para inisiator menegaskan bahwa air merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa sekaligus hak asasi seluruh makhluk hidup yang wajib dijaga keberlanjutannya. Pelestarian mata air dipandang bukan hanya sebagai tanggung jawab ekologis, tetapi juga sebagai kewajiban moral, spiritual, dan intelektual bagi peradaban manusia.
Sebagai wujud nyata, secara resmi dibentuk Satgas Peduli Mata Air Nusantara sebagai wadah kolaborasi antara akademisi, praktisi budaya, dan masyarakat lokal. Penyerahan simbolis gunungan dalam acara tersebut menjadi tanda mandat suci kepada para pejuang lingkungan untuk menjaga kedaulatan air demi generasi mendatang.
Pengukuhan Ketua Satgas
Melalui Surat Keputusan Nomor 002/SK-KETUA/SMA-N/I/2026, ditetapkan Guntur Bisowarno sebagai Ketua Satgas Peduli Mata Air Nusantara. Ia dinilai memiliki kapasitas dan pengalaman dalam membangun gerakan kolaboratif lintas sektor.
Dalam perannya, Guntur bertugas memimpin koordinasi pelestarian mata air di seluruh Nusantara, membangun jejaring strategis dengan berbagai pihak, serta melaporkan perkembangan program kepada Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi FISIP Universitas Airlangga.
Dukungan Akademisi dan Multi-Pihak
Dalam sambutannya, Muhammad Adib menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya deklarasi ini. Ia menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari upaya besar menyinergikan pemikiran tentang air dengan dunia akademik, pemerintah, hingga industri.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelumnya pihaknya telah berdiskusi dengan BRIN terkait isu hidrometeorologi, serta berencana mendorong program ini hingga ke tingkat kementerian dan sektor industri.
Deklarasi ini turut disaksikan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, hingga komunitas budaya. Kolaborasi ini mencerminkan implementasi enam pilar pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Peran Budaya dan Simbolisme
Guntur Bisowarno dalam sambutannya menyoroti filosofi pohon sebagai simbol perlindungan, kekuatan, dan kenyamanan selaras dengan visi Hotel OAK Lawang. Ia juga menekankan pentingnya peran budaya, termasuk pagelaran wayang oleh Ki Triya Handoko dan Ki Sudarto Carito, dalam membangun kesadaran kolektif tentang lingkungan.
Penutup dengan Tradisi Nusantara
Acara ditutup dengan Perjamuan Agung Tumpengan Merah Putih Nusantara sebagai simbol syukur dan persatuan. Pertukaran cinderamata berupa buku budaya antara pihak akademisi dan manajemen hotel semakin memperkuat sinergi lintas sektor.
Deklarasi Lawang ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga sebuah prasasti sejarah yang menandai lahirnya gerakan kolektif menjaga sumber kehidupan. Dengan semangat kolaborasi dan nilai-nilai budaya, Satgas Peduli Mata Air Nusantara diharapkan menjadi garda depan dalam menjaga keberlanjutan air di Indonesia.
Penulis: Aminoto
Editor: Guntur Bisowarno




