Jakarta,- Budayantara.tv Kesuksesan besar sering kali lahir dari langkah kecil yang penuh keberanian. Kisah Bustaman, pendiri Restoran Sederhana Masakan Padang, adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk membangun bisnis berskala nasional bahkan internasional.
Bustaman lahir di Tanah Datar, Sumatra Barat, pada 11 September 1942. Ia bukan lulusan perguruan tinggi, namun memiliki modal yang jauh lebih berharga: kerja keras, ketekunan, dan kemauan belajar tanpa henti.
Belajar dari Dapur, Bukan Bangku Kuliah
Karier Bustaman dimulai dari bawah. Ia bekerja di warung makan Padang milik kerabatnya, menjalani hampir semua peran—mencuci piring, meracik bumbu, memasak, melayani pelanggan, hingga berbelanja ke pasar. Pekerjaan itu berat, namun baginya adalah “sekolah bisnis” yang sesungguhnya.

Dari dapur sederhana itulah Bustaman memahami bahwa rumah makan bukan hanya soal rasa, tetapi juga konsistensi, pelayanan, dan pengelolaan usaha.
Merantau dan Bertahan Hidup
Berbekal pengalaman tersebut, Bustaman merantau ke Jakarta. Namun, ia tidak langsung membuka usaha kuliner. Demi bertahan hidup, ia menjadi pedagang rokok keliling pekerjaan yang penuh risiko. Ia kerap berhadapan dengan preman dan harus berkejaran dengan Satpol PP agar dagangannya tidak disita.
Situasi itu berlangsung hampir setiap hari hingga akhirnya Bustaman mengambil keputusan besar: kembali ke dunia makanan, bidang yang benar-benar ia kuasai.
Gerobak di Pinggir Got, Awal RM Sederhana
Pada tahun 1972, dengan sebuah gerobak dan modal keberanian, Bustaman mulai menjajakan masakan Padang di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), tepat di atas trotoar di samping got yang kotor. Lokasinya jauh dari ideal, namun rasanya berbicara.
Warung kecil yang diberi nama Rumah Makan (RM) Sederhana itu dengan cepat menjadi favorit para karyawan kantor di sekitar Benhil. Sayangnya, karena beroperasi di lokasi terlarang, gerobaknya akhirnya disita Satpol PP.
Alih-alih menyerah, Bustaman mengambil langkah berani: menyewa tempat permanen. Ia sempat cemas kehilangan pelanggan karena berpindah ke tempat yang lebih bersih dan nyaman. Namun kekhawatiran itu tak terbukti pelanggan justru semakin ramai dan dagangan cepat habis.
Ekspansi dan Standarisasi
Kesuksesan di Benhil mendorong Bustaman membuka cabang baru, seperti RM Singgalang Jaya di Roxy (1975) dan RM Sederhana di Pasar Sunan Giri (1978). Pemilihan lokasi yang strategis membuat kedua cabang ini langsung mencatat penjualan tinggi.
Berbeda dari kebanyakan rumah makan Padang saat itu, Bustaman menerapkan standar baru: setiap cabang harus berada di ruko besar, bersih, nyaman, dan memiliki kapasitas minimal 60 kursi. Strategi ini berhasil menarik segmen kelas menengah atas, memperluas pasar RM Sederhana.
Satu Nama, Satu Identitas
Setelah hampir satu dekade mengelola berbagai cabang dengan nama berbeda, Bustaman memutuskan menyeragamkan semuanya di bawah satu merek: RM Sederhana Masakan Padang. Pada tahun 1997, merek “Sederhana” resmi dipatenkan, memperkuat identitas dan kepercayaan konsumen.
Waralaba dengan Rasa Memiliki
Untuk mempercepat ekspansi, Bustaman tidak mengandalkan modal pribadi. Ia memilih sistem waralaba berbasis kemitraan dan bagi hasil, bukan jual putus. Model ini dirancang agar setiap mitra merasa memiliki usaha dan bertanggung jawab penuh terhadap kesuksesan cabangnya.
Hasilnya luar biasa. Hingga kini, RM Sederhana Masakan Padang memiliki lebih dari 200 cabang yang tersebar di Indonesia, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya.
Kunci Sukses Bustaman
Beberapa faktor utama yang mengantarkan RM Sederhana bertahan dan berkembang selama puluhan tahun antara lain:
Standarisasi resep, termasuk menu ikonik seperti Ayam Pop
Manajemen berbasis bagi hasil setiap 100 hari untuk karyawan, menumbuhkan rasa memiliki
Legalitas merek dan sistem waralaba di bawah PT Sederhana Citra Mandiri
Konsistensi kualitas dan pelayanan di setiap cabang
Bustaman dikenal sebagai sosok pantang menyerah yang membangun kerajaan kuliner dari nol dari gerobak di pinggir got hingga ratusan cabang lintas negara. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa dengan keberanian, disiplin, dan visi jangka panjang, kesederhanaan bisa tumbuh menjadi kekuatan besar.**




