Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Dari Salakanagara ke Betawi: Rantai Peradaban yang Kita Lupakan
Artikel Budaya

Dari Salakanagara ke Betawi: Rantai Peradaban yang Kita Lupakan

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama9 Mei 20263 menit baca📍 Jakarta
Dari Salakanagara ke Betawi: Rantai Peradaban yang Kita Lupakan - Budayantara TV

Oleh: Wan Noorbek (Barisan Ksatria Nusantara)

Jakarta – Budayantara.tv Seringkali kita sibuk mencari jati diri jauh ke mana-mana, padahal akar kita sudah ada di bawah kaki sendiri. Kita bangga menyebut diri orang Betawi, tapi jarang bertanya: dari mana sebenarnya kita berasal? Apa yang membentuk identitas yang kita kenal hari ini?

Kalau kita mau jujur membaca sejarah bukan sekadar menghafal, tapi memahami satu benang merah panjang akan terlihat jelas: dari Salakanagara, mengalir lewat Sungai Citarum, bermuara di Sunda Kelapa, dan lahirlah identitas yang kini dikenal sebagai Betawi. Masalahnya, kita sering melihatnya sebagai cerita terpisah. Padahal, ini adalah satu rangkaian yang utuh.

Dari Narasi ke Kenyataan

Perdebatan tentang Salakanagara memang masih hangat. Ada yang menerima, ada yang menolak bagian wajar dari dunia akademik.

Namun, jika kita menyederhanakannya: apakah mungkin sebuah wilayah yang memiliki sungai besar, jalur perdagangan strategis, dan posisi geopolitik vital tidak melahirkan peradaban? Jawabannya jelas: sangat mungkin bahkan pasti.

Artinya, tanpa terjebak pada detail debat, kita sudah bisa memahami bahwa kawasan ini sejak lama adalah ruang hidup yang aktif bukan kosong.

Citarum: Urat Nadi yang Terlupakan

Sungai Citarum bukan sekadar aliran air. Ia adalah jalur kehidupan. Dari hulu, hasil bumi dibawa ke hilir. Dari hilir, pengaruh luar masuk ke pedalaman. Di sinilah peradaban bergerak.

Ironisnya, hari ini sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan kini menjadi simbol kerusakan. Pertanyaannya: apakah kita tidak malu melihatnya?

Sunda Kelapa: Gerbang yang Membentuk Kita

Ketika aliran Citarum mencapai laut, ia bertemu dengan dunia luar di kawasan Sunda Kelapa. Di sinilah terjadi pertemuan besar: orang datang dari berbagai bangsa, membawa budaya, bahasa, dan cara hidup.

Proses ini bukan sekadar interaksi, tapi akulturasi dari sinilah lahir satu identitas baru: Betawi.

Betawi: Lebih dari Sekadar Etnis

Betawi bukan hanya soal darah. Betawi adalah hasil pertemuan, interaksi, dan keterbukaan dalam kehidupan pesisir yang dinamis.

Namun tantangan terbesar adalah: jika kita bangga pada identitas tanpa memahami prosesnya, kita kehilangan makna. Kita menjadi Betawi secara nama, tapi tidak secara nilai.

Dari Penjaga Menjadi Penonton

Peradaban ini dibangun oleh mereka yang memahami keseimbangan menjaga sungai, memanfaatkan alam tanpa merusaknya, berinteraksi dengan etika.

Sekarang? Kita lebih banyak menjadi penonton. Menyaksikan kerusakan, tapi diam. Menyadari masalah, tapi tak bergerak. Bukan sekadar perubahan zaman, ini kemunduran kesadaran.

Kita Bagian dari Rantai Itu

Kita hari ini bukan generasi yang berdiri sendiri. Kita adalah hasil dari perjalanan panjang:

dari Salakanagara,

melalui Sungai Citarum,

hingga Sunda Kelapa,

dan akhirnya menjadi Betawi.

Jika salah satu mata rantai rusak, kita juga kehilangan bagian dari diri kita.

Pewaris atau Penghapus?

Pertanyaan yang harus kita jawab hari ini sederhana, tapi berat:

Apakah kita mau menjadi pewaris peradaban, atau justru penghapusnya?

Kalau kita membiarkan sungai rusak, kehilangan etika dalam hidup, dan berhenti peduli pada keseimbangan, maka kita bukan melanjutkan sejarah kita sedang mengakhirinya.

Suatu hari nanti, ketika anak cucu bertanya:
“Siapa kita sebenarnya?”

Semoga kita bisa menjawab dengan bangga, bukan penyesalan. Karena menjadi Betawi bukan hanya soal lahir di Jakarta, tapi soal menjaga warisan peradaban yang panjang.

Barisan Ksatria Nusantara Wan Noorbek
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026 - Budayantara TV
Budaya News

Kampung Silat Petukangan Kenalkan Sastra Betawi kepada Gen-Z Lewat FPK 2026

27 September 20264 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Sastra Betawi terus didorong agar tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga hadir dan…

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar? - Budayantara TV
Artikel

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?

27 September 20263 menit baca

Saat Budaya dan Framing Media Menjadi Ruang Analisis Kasus Macklemore dan Ed Sheeran Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo)…

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber