Dari Salakanagara ke Betawi: Rantai Peradaban yang Kita Lupakan
Oleh: Wan Noorbek (Barisan Ksatria Nusantara)
Jakarta – Budayantara.tv Seringkali kita sibuk mencari jati diri jauh ke mana-mana, padahal akar kita sudah ada di bawah kaki sendiri. Kita bangga menyebut diri orang Betawi, tapi jarang bertanya: dari mana sebenarnya kita berasal? Apa yang membentuk identitas yang kita kenal hari ini?
Kalau kita mau jujur membaca sejarah bukan sekadar menghafal, tapi memahami satu benang merah panjang akan terlihat jelas: dari Salakanagara, mengalir lewat Sungai Citarum, bermuara di Sunda Kelapa, dan lahirlah identitas yang kini dikenal sebagai Betawi. Masalahnya, kita sering melihatnya sebagai cerita terpisah. Padahal, ini adalah satu rangkaian yang utuh.
Dari Narasi ke Kenyataan
Perdebatan tentang Salakanagara memang masih hangat. Ada yang menerima, ada yang menolak bagian wajar dari dunia akademik.
Namun, jika kita menyederhanakannya: apakah mungkin sebuah wilayah yang memiliki sungai besar, jalur perdagangan strategis, dan posisi geopolitik vital tidak melahirkan peradaban? Jawabannya jelas: sangat mungkin bahkan pasti.
Artinya, tanpa terjebak pada detail debat, kita sudah bisa memahami bahwa kawasan ini sejak lama adalah ruang hidup yang aktif bukan kosong.
Citarum: Urat Nadi yang Terlupakan
Sungai Citarum bukan sekadar aliran air. Ia adalah jalur kehidupan. Dari hulu, hasil bumi dibawa ke hilir. Dari hilir, pengaruh luar masuk ke pedalaman. Di sinilah peradaban bergerak.
Ironisnya, hari ini sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan kini menjadi simbol kerusakan. Pertanyaannya: apakah kita tidak malu melihatnya?
Sunda Kelapa: Gerbang yang Membentuk Kita
Ketika aliran Citarum mencapai laut, ia bertemu dengan dunia luar di kawasan Sunda Kelapa. Di sinilah terjadi pertemuan besar: orang datang dari berbagai bangsa, membawa budaya, bahasa, dan cara hidup.
Proses ini bukan sekadar interaksi, tapi akulturasi dari sinilah lahir satu identitas baru: Betawi.
Betawi: Lebih dari Sekadar Etnis
Betawi bukan hanya soal darah. Betawi adalah hasil pertemuan, interaksi, dan keterbukaan dalam kehidupan pesisir yang dinamis.
Namun tantangan terbesar adalah: jika kita bangga pada identitas tanpa memahami prosesnya, kita kehilangan makna. Kita menjadi Betawi secara nama, tapi tidak secara nilai.
Dari Penjaga Menjadi Penonton
Peradaban ini dibangun oleh mereka yang memahami keseimbangan menjaga sungai, memanfaatkan alam tanpa merusaknya, berinteraksi dengan etika.
Sekarang? Kita lebih banyak menjadi penonton. Menyaksikan kerusakan, tapi diam. Menyadari masalah, tapi tak bergerak. Bukan sekadar perubahan zaman, ini kemunduran kesadaran.
Kita Bagian dari Rantai Itu
Kita hari ini bukan generasi yang berdiri sendiri. Kita adalah hasil dari perjalanan panjang:
dari Salakanagara,
melalui Sungai Citarum,
hingga Sunda Kelapa,
dan akhirnya menjadi Betawi.
Jika salah satu mata rantai rusak, kita juga kehilangan bagian dari diri kita.
Pewaris atau Penghapus?
Pertanyaan yang harus kita jawab hari ini sederhana, tapi berat:
Apakah kita mau menjadi pewaris peradaban, atau justru penghapusnya?
Kalau kita membiarkan sungai rusak, kehilangan etika dalam hidup, dan berhenti peduli pada keseimbangan, maka kita bukan melanjutkan sejarah kita sedang mengakhirinya.
Suatu hari nanti, ketika anak cucu bertanya:
“Siapa kita sebenarnya?”
Semoga kita bisa menjawab dengan bangga, bukan penyesalan. Karena menjadi Betawi bukan hanya soal lahir di Jakarta, tapi soal menjaga warisan peradaban yang panjang.

