Home / Tokoh / Chairul Tanjung Serukan Tinggalkan Budaya Instan, Bangun Mental Entrepreneur demi Kemajuan Bangsa

Chairul Tanjung Serukan Tinggalkan Budaya Instan, Bangun Mental Entrepreneur demi Kemajuan Bangsa

Tangerang – Budayantara.tv Fenomena “budaya instan” yang kian mengakar di tengah masyarakat Indonesia menjadi sorotan tajam pengusaha nasional, Chairul Tanjung. Dalam pandangannya, kebiasaan ingin serba cepat tanpa proses bukan hanya persoalan moral, tetapi ancaman serius bagi kemajuan bangsa.

Hal itu disampaikan Chairul Tanjung yang akrab disapa CT saat mengisi sesi ke-5 Pengkajian Ramadan 1447 H  Jumat (27/2), di UMT.

Budaya Instan: Jalan Pintas Menuju Kemunduran

Dalam pemaparannya, CT mengingatkan bahwa budaya instan telah menjelma dalam berbagai bentuk perilaku sehari-hari.

“Jangan terjebak dalam budaya instan. Ingin cepat kaya, korupsi. Ingin cepat beres urusan, suap. Ingin nilai bagus, nyontek. Ingin cepat sampai, melanggar lalu lintas. Ingin jadi pengusaha, kok malah jadi penguasa,” tegasnya.

Menurutnya, pola pikir serba cepat tanpa proses adalah akar dari banyak persoalan bangsa. Mentalitas ini harus diubah secara bertahap dan kolektif.

“Tidak boleh semuanya kita ingin cepat-cepat. Satu per satu harus melalui tahapan, melalui anak tangga,” ujarnya.

Bagi CT, kesabaran dalam berproses bukanlah kelemahan, melainkan fondasi utama untuk membangun keberhasilan yang kokoh dan berkelanjutan.

Tantangan Pemimpin Umat: Hadir dan Memberdayakan

CT juga menekankan pentingnya peran strategis pemimpin umat dalam membentuk paradigma baru masyarakat. Ia menilai, di era persaingan global saat ini, bangsa Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan efisiensi dan produktivitas.

“Orang Jepang dulu sering membicarakan tentang efisiensi dan produktivitas untuk pengembangan teknologinya. Tapi di zaman sekarang, itu saja tidak cukup. Diperlukan inovasi, kreativitas, dan entrepreneurship,” tuturnya.

Ia menyoroti besarnya potensi Indonesia, khususnya dari sisi sumber daya manusia. Namun, potensi tersebut kerap terhambat oleh lemahnya persatuan dan sinergi.

“Sumber daya kita kuantitasnya besar. Tapi susah sekali untuk bersatu mencapai keunggulan bersama. Kalau kita tidak bersatu, bagaimana kita bisa maju?” katanya.

Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk memperkuat kolaborasi ekonomi. “Membangun usaha dari kita, oleh kita, untuk kita,” tambahnya penuh optimisme.

Entrepreneur, Kunci Pertumbuhan Ekonomi

Lebih jauh, CT menegaskan bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh jumlah dan kualitas entrepreneur. Ia menyebutkan bahwa sebuah negara idealnya memiliki minimal 4 persen penduduk yang berprofesi sebagai wirausaha agar dapat tumbuh secara optimal.

“Kalau negara ini ingin tumbuh 8 persen tanpa entrepreneur terlibat di dalamnya, itu tidak akan bisa tercapai. Pemerintah saja tidak cukup, karena porsi mereka kecil dalam mendongkrak ekonomi bangsa,” jelasnya.

Secara teori, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi domestik dan investasi. Dalam konteks tersebut, entrepreneur berperan sebagai penggerak investasi, pencipta lapangan kerja, sekaligus inovator yang menghadirkan solusi atas berbagai kebutuhan masyarakat.

Membangun Bangsa Lewat Mentalitas Tangguh

Pesan CT dalam forum Ramadan itu bukan sekadar kritik sosial, melainkan ajakan reflektif dan inspiratif. Ia mengingatkan bahwa membangun bangsa membutuhkan mentalitas tangguh, kesabaran dalam proses, serta keberanian berinovasi.

Meninggalkan budaya instan bukan berarti menolak kemajuan, tetapi memastikan bahwa setiap pencapaian diraih melalui integritas, kerja keras, dan kolaborasi.

Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, seruan untuk membangun mental entrepreneur menjadi relevan. Sebab, dari tangan para wirausahawan tangguh lahir inovasi, lapangan kerja, dan kemandirian ekonomi yang menjadi fondasi kemajuan bangsa.

Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu maju, melainkan: sudahkah kita siap meninggalkan jalan pintas dan memilih jalan proses demi masa depan yang lebih kuat?**

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *