Home / News / Adisurya Abdy: Ketika Komedi Indonesia Kehilangan Kepercayaan Diri

Adisurya Abdy: Ketika Komedi Indonesia Kehilangan Kepercayaan Diri

Jakarta – Budayantara.tv Industri film Indonesia tengah menghadapi sebuah ironi besar. Di saat genre horor melesat menjadi primadona dan merajai layar lebar, komedi justru tampak kehilangan arah bahkan kepercayaan dirinya sendiri.

Fenomena ini bukan tanpa sebab. Kesuksesan film-film seperti KKN di Desa Penari dan Sewu Dino telah membentuk pola baru dalam kebiasaan menonton masyarakat. Penonton kini berbondong-bondong ke bioskop untuk merasakan ketegangan kolektif menjerit, tegang, dan larut dalam rasa takut yang instan namun memuaskan. Bagi industri, formula ini terasa aman, terukur, dan menguntungkan.

Namun di sisi lain, komedi seperti terjebak dalam pemahaman yang dangkal: bahwa cukup menjadi lucu. Padahal, kelucuan semata tidak cukup menopang sebuah film berdurasi panjang. Tanpa konteks, cerita, dan kedalaman, humor hanya bertahan sesaatlalu menguap tanpa bekas.

Indonesia sejatinya pernah memiliki standar komedi yang kuat. Film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 membuktikan bahwa komedi bisa menjadi fenomena besar ketika dibangun dengan karakter yang solid, ritme yang tepat, dan identitas yang jelas. Sementara itu, film seperti Agak Laen memberi harapan baru menunjukkan bahwa komedi masih relevan, asalkan mampu beradaptasi dengan zaman. Menariknya, adaptasi tersebut tidak datang dengan melawan horor, melainkan berdamai dan berkolaborasi dengannya.

Menurut Adisurya Abdy, persoalan utama komedi Indonesia saat ini bukan terletak pada penonton, melainkan pada keberanian para kreatornya. Banyak film komedi disusun layaknya kumpulan sketsa yang terpisah, bukan sebagai cerita utuh. Humor sering dijadikan tujuan akhir, bukan alat untuk menyampaikan gagasan. Akibatnya, film kehilangan jiwa, dan penonton kehilangan alasan untuk peduli.

“Horor menang karena disiplin ia tahu apa yang dijual. Komedi kalah karena belum tahu ingin menjadi apa,” tulis Adisurya.Jumat (3/4/2026).

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, komedi adalah salah satu genre paling jujur. Ia mampu mengkritik kekuasaan, membongkar kemunafikan sosial, hingga menyentuh luka kolektif dengan cara yang ringan namun mengena. Namun, untuk mencapai itu semua, dibutuhkan sesuatu yang kini terasa langka di industri: keberanian untuk tidak instan.

Jika tren ini terus berlanjut, komedi kemungkinan tetap akan bertahan namun hanya sebagai pelengkap. Ia hadir sekadar sebagai penyeimbang di tengah dominasi horor, bukan sebagai kekuatan utama yang berdiri sendiri.

Dan mungkin, di situlah letak persoalannya. Komedi Indonesia bukan benar-benar kalah dari horor. Ia sedang kalah dari bayangannya sendiri dari masa ketika ia pernah tampil berani, tajam, dan tidak hanya membuat penonton tertawa, tetapi juga berpikir.**

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *