Grebeg Suro 2026, Komunitas Seni Budaya Sidoarjo Hidupkan Tradisi Lewat Kirab Pusaka dan Ziarah Leluhur

Sidoarjo — Budayantara.tv Ratusan pelaku seni budaya dari berbagai padepokan dan komunitas seni budaya di Kabupaten Sidoarjo memperingati datangnya Bulan Suro dengan menggelar Grebeg Suro 2026 selama dua hari, Jumat (19/6/2026) dan Sabtu (20/6/2026).
Perayaan tahunan itu diawali dengan ziarah dan tabur bunga di sejumlah makam yakni makam Bupati pertama Sidoarjo, RTP Tjokronegoro I (1859–1863) dan RT Soemodirjo (1883) di kompleks makam Asri Hing Pendem, Jalan Sultan Agung.
Ziarah kubur juga dilakukan ke Pesarean Keluarga Tjondronegoro yang menjadi tempat peristirahatan Bupati IV Sidoarjo, RAAP Tjondronegoro (1883–1906).
Kegiatan dipimpin Wakil Ketua DPRD Sidoarjo H. Warih Andono SH yang dihormati sebagai bapa, bersama RMH Muhammad Guntur Sutrisno, pemangku adat Kadipaten Sidokare, Sidoarjo.
Setelah prosesi ziarah, rangkaian Grebeg Suro dilanjutkan dengan kirab budaya yang menghadirkan beragam kesenian tradisional.
Alunan gamelan, iringan reog, jaranan, serta barisan peserta yang mengenakan busana adat warna hitam hitam dan kebaya lurik menciptakan suasana semarak sekaligus khidmat di sepanjang jalur kirab.
Kegiatan ini menjadi penanda datangnya Bulan Suro dalam kalender Jawa sekaligus momentum memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal.
Selain kirab budaya, panitia juga menghadirkan berbagai agenda lain seperti jamasan pusaka, pertunjukan bantengan, serta layanan pengobatan tradisional yang diikuti masyarakat Sidoarjo secara terbuka.
Warih Andono mengatakan Grebeg Suro merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan budaya agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.
“Melalui Grebeg Suro, kami ingin mengajak generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya bangsa. Pusaka bukan hanya benda bersejarah, tetapi simbol nilai, perjuangan, dan jati diri masyarakat Nusantara,” katanya.
Perhatian masyarakat banyak tertuju pada prosesi jamasan pusaka yang dipimpin langsung oleh RMH Muhammad Guntur Sutrisno.
Dalam prosesi tersebut, sejumlah pusaka dibersihkan secara simbolis sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah dijaga turun-temurun.
Menurut Guntur, tradisi tersebut memiliki makna lebih dalam daripada sekadar merawat benda peninggalan sejarah.
Ketua Koordinasi Grebeg Suro 2026, Nila Paramitha, didampingi Indah Bunga, mengatakan kegiatan tersebut terselenggara berkat kerja sama berbagai komunitas seni budaya yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian tradisi.
Menurutnya, Grebeg Suro bukan hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga wadah mempererat hubungan antarkomunitas serta sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pelaksanaan acara. Kirab dan jamasan pusaka menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang datang dari berbagai wilayah di Sidoarjo dan sekitar.
Sementara itu, pertunjukan jaranan dan bantengan yang digelar pada puncak acara sukses menghibur masyarakat. Berbagai lapisan usia tampak memadati lokasi kegiatan untuk menyaksikan penampilan para seniman yang mempertahankan kesenian tradisional di tengah perkembangan zaman.
Melalui Grebeg Suro 2026, komunitas seni budaya Sidoarjo kembali menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya disimpan sebagai kenangan masa lalu, tetapi terus dihidupkan sebagai bagian dari identitas masyarakat yang tetap relevan hingga hari ini. (nTok)
.



