Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakanMenolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya MaestroIn-Memoriam
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Kembali ke Akar: Menguatkan Fondasi Kebudayaan NU di Tengah Krisis Peradaban Global
Artikel Budaya

Kembali ke Akar: Menguatkan Fondasi Kebudayaan NU di Tengah Krisis Peradaban Global

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama3 Juni 20263 menit baca
Kembali ke Akar: Menguatkan Fondasi Kebudayaan NU di Tengah Krisis Peradaban Global - Budayantara TV

Oleh : Masdjo Arifin – Founder Budayantara Digital Network (BDN)

Jakarta,- Budayantara.tv Di tengah derasnya arus perubahan dunia, umat manusia menghadapi berbagai tantangan yang saling berkelindan. Disrupsi identitas, ketegangan geopolitik, krisis ekologis, ketidakpastian hukum, hingga perlombaan teknologi mutakhir telah mengubah lanskap kehidupan global dengan sangat cepat. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, pertanyaan mendasar muncul: ke mana arah peradaban akan bergerak, dan nilai-nilai apa yang dapat menjadi penuntunnya?

Menjawab tantangan tersebut, Lesbumi memandang perlunya melakukan sebuah “refleksi radikal”, yakni refleksi yang menembus hingga ke akar tradisi, pemikiran, dan nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi fondasi kehidupan warga Nahdlatul Ulama. Gagasan “Kembali ke Akar” bukanlah ajakan untuk bernostalgia atau memandang masa lalu sebagai sesuatu yang selesai dan tak tersentuh. Sebaliknya, ia merupakan ikhtiar intelektual dan kultural untuk menggali kembali khitah pesantren, warisan keilmuan ulama, serta keputusan-keputusan otoritatif NU yang lahir melalui forum-forum legitimatif.

Melalui proses tersebut, tradisi tidak ditempatkan sebagai artefak sejarah yang membeku, melainkan sebagai sumber inspirasi yang terus berdialog dengan realitas zaman. Nilai-nilai yang terkandung dalam teks-teks formatif ke-NU-an dibaca ulang, diuji, dan dipertemukan dengan persoalan-persoalan kontemporer agar mampu menghadirkan jawaban atas tantangan keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan yang semakin kompleks.

Semangat inilah yang melandasi penyelenggaraan kegiatan bertajuk “Kembali ke Akar: Menguatkan Fondasi Kebudayaan NU dalam Krisis Peradaban Global” yang akan berlangsung pada Jumat–Ahad, 12–14 Juni 2026 atau 25–27 Dzulhijjah 1447 H, bertempat di Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), lingkungan Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur.

Kebudayaan sebagai Jawaban atas Krisis Global

Di tengah gempuran globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, kebudayaan tidak boleh dipandang sebagai warisan masa lalu semata. Kebudayaan merupakan sumber daya strategis yang mampu memperkuat identitas, memperkokoh ketahanan sosial, dan menjadi fondasi moral dalam menghadapi berbagai krisis dunia.

Tradisi pesantren dan kebudayaan NU selama ini telah membuktikan kemampuannya dalam merawat keseimbangan antara agama, budaya, dan kehidupan sosial. Nilai-nilai seperti moderasi, toleransi, gotong royong, serta penghormatan terhadap kearifan lokal menjadi modal penting untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.

Literasi Digital sebagai Jembatan Tradisi dan Masa Depan

Di era digital, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui ruang-ruang konvensional. Kekuatan literasi digital menjadi pilar utama untuk mentransformasikan nilai, seni, dan ajaran luhur Nusantara agar tetap hidup, dinamis, dan relevan bagi generasi masa kini.

Pemanfaatan teknologi digital memungkinkan warisan intelektual dan budaya NU menjangkau ruang yang lebih luas, melampaui batas geografis dan generasi. Karena itu, penguatan literasi digital menjadi bagian penting dalam strategi kebudayaan yang berorientasi pada masa depan.

Beberapa langkah strategis yang dapat dikembangkan antara lain:

Transformasi Ekosistem Digital

Media sosial dan berbagai platform digital perlu dimanfaatkan sebagai ruang dakwah dan edukasi yang menyebarkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang inklusif, moderat, dan beretika. Kehadiran konten yang berkualitas dapat menjadi penyeimbang terhadap maraknya informasi yang bersifat provokatif, intoleran, maupun menyesatkan.

Konservasi Digital Kebudayaan

Khazanah kitab kuning, manuskrip ulama Nusantara, tradisi seni pesantren, serta berbagai warisan budaya NU perlu didokumentasikan secara sistematis melalui perpustakaan virtual dan pusat data kebudayaan digital. Langkah ini tidak hanya menjaga keberlanjutan warisan intelektual, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat dan generasi mendatang.

Mendorong Kreativitas Generasi Muda

Santri dan generasi muda NU perlu dibekali keterampilan multimedia, desain digital, produksi video, penulisan kreatif, hingga kecakapan kecerdasan buatan. Dengan kemampuan tersebut, mereka dapat menjadi produsen konten budaya yang kreatif, menarik, dan mampu berbicara dengan bahasa zamannya tanpa kehilangan akar tradisinya.

Meneguhkan Kompas Peradaban

“Kembali ke Akar” pada akhirnya bukan sekadar tema kegiatan, melainkan sebuah gerakan kebudayaan. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering kali kehilangan orientasi moral, akar tradisi menjadi kompas yang menuntun arah perjalanan. Dari pesantren, dari warisan ulama, dan dari kebudayaan Nusantara, lahir nilai-nilai yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kemanusiaan, antara modernitas dan spiritualitas, antara perubahan dan keberlanjutan.

Dengan fondasi budaya yang kokoh serta pemanfaatan teknologi yang bijaksana, NU memiliki peluang besar untuk terus menghadirkan kontribusi nyata bagi Indonesia dan dunia: membangun peradaban yang berakar kuat pada tradisi, namun tetap terbuka terhadap masa depan.**

Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

In-Memoriam - Budayantara TV
Artikel

In-Memoriam

26 September 20262 menit baca

​GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM ​Oleh: M. Guntur Alting/Dewan Pembina DPW SWI JAYA – DKI Jakarta…

Kampung Budaya Pencak Silat Beksi Petukangan Jadi Perhatian dalam Monitoring Destinasi Wisata DKI - Budayantara TV
Budaya News

Kampung Budaya Pencak Silat Beksi Petukangan Jadi Perhatian dalam Monitoring Destinasi Wisata DKI

25 September 20263 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Di tengah geliat pembangunan pariwisata Jakarta yang terus berkembang, warisan budaya lokal tetap menjadi bagian…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber