Mayoritas Film Indonesia: Produk Pabrik Kebodohan?

Mayoritas Film Indonesia: Produk Pabrik Kebodohan?

Oleh: Karsono Hadi – Sutradara

Jakarta – Budayantara.tv Bukan bosan menonton film. Saya bosan menonton film yang sama berulang-ulang dengan judul berbeda.Setiap kali melihat poster bioskop atau membuka beranda layanan streaming, yang muncul hampir selalu formula yang itu-itu juga. Kisah cinta dangkal dengan konflik yang sudah bisa ditebak sejak menit pertama trailer diputar. Film horor yang lebih mengandalkan suara keras ketimbang cerita. Drama yang menumpuk air mata secara berlebihan, seolah penderitaan adalah satu-satunya cara membuat penonton merasa terhubung.

Karena itu, ketika ada yang mengatakan bahwa mayoritas film Indonesia adalah produk pabrik kebodohan yang diproduksi secara massal, saya tidak bisa serta-merta menolaknya.

Kalimat itu memang terdengar kasar. Bahkan mungkin menyakitkan bagi sebagian pelaku industri. Namun di balik kekasarannya, ada kegelisahan yang patut didengar.

Film seharusnya menjadi ruang imajinasi, refleksi, dan percakapan sosial. Tetapi terlalu sering ia diperlakukan sekadar sebagai barang dagangan. Sebuah produk yang dibuat dengan rumus tertentu, diuji pasar, lalu dicetak berulang-ulang selama masih menghasilkan keuntungan.

Seperti mi instan.

Praktis, murah, mudah dijual, dan disukai banyak orang. Tidak ada yang salah dengan itu. Masalahnya muncul ketika seluruh menu hanya berisi mi instan. Ketika variasi hilang. Ketika keberanian bereksperimen dianggap ancaman. Ketika kualitas dikorbankan demi kecepatan produksi.

Di titik itulah industri mulai kehilangan daya hidupnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, ada kesan bahwa sebagian pengambil keputusan dalam industri perfilman menganggap penonton Indonesia tidak membutuhkan cerita yang cerdas. Seolah-olah publik hanya menginginkan wajah tampan, artis populer, kisah cinta yang mudah ditebak, atau rumah kosong yang dihuni hantu dengan tata rias seadanya.

Padahal penonton tidak sebodoh itu.

Penonton mampu menikmati cerita yang kompleks. Mereka bisa menghargai karakter yang manusiawi. Mereka dapat menerima tema-tema yang menantang selama disampaikan dengan baik. Sejarah perfilman dunia sudah berkali-kali membuktikannya.

Sayangnya, ketika sebuah film dengan kualitas rendah meraih keuntungan besar, industri sering mengambil kesimpulan yang keliru.

Mereka tidak bertanya mengapa film itu laku. Mereka hanya melihat angka.

Akibatnya, formula yang sama diulang terus-menerus. Satu film sukses melahirkan puluhan tiruan. Satu tren menghasilkan gelombang imitasi. Kreativitas digantikan oleh kalkulasi. Risiko dianggap musuh.

Lalu terciptalah lingkaran yang sulit diputus.

Film yang dangkal terus diproduksi karena dianggap aman. Film yang berbeda kesulitan mendapatkan pendanaan karena dianggap berisiko. Ketika film berkualitas gagal secara komersial akibat minim promosi atau distribusi yang tidak adil, kegagalan itu dijadikan bukti bahwa karya bermutu tidak memiliki pasar.

Padahal persoalannya jauh lebih kompleks.

Banyak film independen dan karya festival yang sebenarnya menawarkan kualitas luar biasa. Mereka menghadirkan perspektif baru, keberanian artistik, dan kedalaman cerita yang jarang ditemukan dalam produksi arus utama.

Namun karya-karya tersebut sering tenggelam sebelum sempat ditemukan penontonnya.

Kalah oleh mesin promosi besar, jadwal tayang yang tidak seimbang, serta dominasi produksi yang lebih mengutamakan formula daripada gagasan.

Ironisnya, ketika film-film berkualitas ini tidak mencapai angka penonton yang fantastis, sebagian investor justru semakin yakin bahwa kualitas tidak laku dijual.

Sebuah kesimpulan yang sering kali lahir dari data yang dibaca setengah hati.

Kritik terhadap film Indonesia bukanlah bentuk kebencian. Justru sebaliknya.

Kritik lahir karena masih ada harapan.

Saya ingin melihat film Indonesia dihormati bukan hanya karena eksotisme lokal atau kemiskinan yang difoto dengan indah, tetapi karena kekuatan narasinya. Karena kedalaman karakternya. Karena keberanian ide-idenya.

Saya ingin keluar dari bioskop dengan pikiran yang terus bekerja berhari-hari setelah lampu ruangan menyala. Saya ingin sebuah film mengajak berdialog, bukan sekadar menghabiskan waktu dua jam lalu dilupakan sebelum sampai di tempat parkir.

Tentu saja hiburan tetap penting. Tidak semua film harus berat. Tidak semua karya harus menjadi kuliah filsafat.

Tetapi hiburan yang baik tidak identik dengan kebodohan.

Penonton berhak mendapatkan karya yang menghormati kecerdasan mereka. Mereka berhak mendapatkan cerita yang dibuat dengan kesungguhan, bukan sekadar diproduksi berdasarkan rumus pemasaran.

Karena jika industri terus-menerus menjual produk yang meremehkan penontonnya, maka yang rusak bukan hanya kualitas film. Yang rusak adalah budaya menonton itu sendiri.

Dan ketika budaya menonton sudah terbiasa menerima yang dangkal, maka pabrik kebodohan akan terus beroperasi tanpa henti.

Mungkin itulah sebabnya kritik perlu terus disuarakan.

Bukan untuk menjatuhkan industri film Indonesia, melainkan untuk mengingatkannya bahwa penonton bukan sekadar angka penjualan tiket.

Mereka adalah manusia yang datang dengan harapan.

Dan harapan itu layak dihargai dengan karya terbaik, bukan dengan produk massal yang diproduksi dari ketakutan, kemalasan kreatif, dan keberanian yang telah lama hilang.

Karena jika tidak ada yang berani mengkritik, tidak akan ada yang berubah.

Dan jika tidak ada yang berubah, kita akan terus menjadi pelanggan setia kebodohan yang dijual semakin mahal, sementara kualitasnya semakin murah.Artikel ini sudah lebih siap untuk opini media, dengan nada kritis namun lebih argumentatif dan tidak terlalu emosional sehingga pesannya lebih kuat dan kredibel.

About Author

Budayantara TV

Budayantara TV adalah platform media digital yang berdedikasi untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia. Kami hadir sebagai jembatan antara nilai-nilai luhur budaya tradisional dengan dinamika kehidupan modern.🎭 Visi Kami: Menjadi etalase budaya Indonesia yang terpercaya, menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya bangsa.📰 Fokus Liputan: • Seni & Budaya Nusantara • Event & Festival Budaya • Kuliner Tradisional Indonesia • Tokoh & Maestro Budaya • Pelestarian Warisan Leluhur • Inovasi Budaya Kontemporer✨ Komitmen Kami: Menyajikan konten berkualitas, informatif, dan inspiratif tentang kekayaan budaya Indonesia untuk audiens lokal dan global.📧 Kontak: Email: admin@budayantara.tv Website: https://budayantara.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *