Film Eksperimental: Oposisi yang Disingkirkan, Lalu Ditiru
Oleh: Adisurya Abdy – Pegiat Perfilman
Jakarta – Budayantara.tv Di Indonesia, film eksperimental sering diperlakukan seperti tamu kehormatan yang tidak pernah benar-benar diundang tinggal. Ia diputar di festival, dipuji dalam forum diskusi, dielu-elukan sebagai “penting bagi perkembangan sinema”, lalu perlahan dilupakan ketika lampu ruangan kembali menyala. Kehadirannya diterima secara moral, tetapi jarang diberi ruang hidup secara ekonomi maupun institusional.
Padahal, jika menengok sejarah sinema dunia, hampir seluruh bahasa film yang hari ini dianggap “normal” justru lahir dari eksperimen. Montage yang patah-patah, struktur non-linear, kamera yang gelisah, sunyi yang panjang, hingga absurditas visual semuanya pernah dianggap terlalu aneh, terlalu sulit, terlalu jauh dari pasar. Namun dari “keanehan” itulah sinema berkembang.
Di Indonesia, jejak itu sebenarnya sudah lama ada. Sejak era Gotot Prakosa dan berbagai gerakan film alternatif lainnya, sinema eksperimental telah memilih jalannya sendiri: menjauh dari pasar dan mendekat pada gagasan. Ia tidak lahir dari kenyamanan industri, tetapi dari kegagalan untuk masuk ke dalamnya. Ketika industri sibuk menghitung jumlah penonton, para pembuat film eksperimental sibuk mempertanyakan bentuk.
Masalah utama sebenarnya bukan ketiadaan karya, melainkan ketiadaan ruang.
Industri perfilman Indonesia terlalu cepat mengukur nilai sinema dengan angka penjualan tiket. Seolah-olah film baru dianggap sah ketika laku secara komersial. Akibatnya, film eksperimental diposisikan sekadar sebagai hobi estetika milik komunitas kampus dan ruang seni, bukan sebagai cabang penting kebudayaan.
Padahal ekosistemnya nyata dan hidup. Komunitas seperti Forum Lenteng atau festival seperti ARKIPEL membuktikan bahwa praktik film eksperimental di Indonesia terus bergerak, berkembang, dan melahirkan generasi baru pembuat film. Hanya saja, keberadaannya tidak pernah dianggap sebagai arus utama.
Di titik ini, kita perlu jujur: Indonesia memang menyukai film sebagai hiburan, tetapi belum sepenuhnya menghargai film sebagai medium berpikir.
Film eksperimental tidak dibuat untuk memanjakan penonton. Ia justru hadir untuk mengganggu kenyamanan. Ia mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap mutlak dalam sinema:
Mengapa film harus selalu memiliki cerita?
Mengapa semua emosi harus dijelaskan?
Mengapa gambar harus selalu indah?
Mengapa durasi harus efisien?
Dan mengapa penonton selalu harus dimenangkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi justru di sanalah letak daya subversif film eksperimental. Ia menolak tunduk pada logika algoritma perhatian. Ia tidak lahir dari ketakutan terhadap angka engagement atau tren pasar.
Sementara itu, bioskop nasional hari ini semakin menyerupai etalase komoditas ketimbang ruang kebudayaan. Film dinilai dari opening weekend, bukan dari keberanian estetikanya. Dalam logika seperti itu, film eksperimental sebenarnya tidak kalah karena memang tidak ikut bertanding.
Maka ia tumbuh di tempat-tempat yang dianggap “tidak penting”: ruang komunitas, festival alternatif, kampus, bahkan halaman belakang rumah. Di sanalah eksperimen bertahan.
Ironinya, industri yang dulu menolak estetika eksperimental kini diam-diam memanen hasilnya. Tempo lambat, narasi fragmentaris, visual puitik, hingga pendekatan anti-klimaks mulai merembes ke film-film komersial. Sutradara arus tengah mengadopsinya, memolesnya agar lebih ramah penonton, lalu menjualnya kembali sebagai gaya baru.
Eksperimen akhirnya berubah menjadi tren visual. Bukan lagi sikap, melainkan kemasan.
Di titik inilah film eksperimental menghadapi dilema paling besar: tetap radikal dan terasing, atau berkompromi lalu diserap industri.
Namun sesungguhnya, tanpa film eksperimental, sinema hanya akan menjadi mesin reproduksi formula aman, rapi, dan mati perlahan. Sebab setiap perkembangan bahasa sinema selalu lahir dari keberanian untuk gagal, keberanian untuk dianggap aneh, dan keberanian untuk tidak segera dimengerti.
Kemungkinan masa depan memang tidak terdengar romantis. Selama distribusi dikuasai pasar dan negara tetap absen sebagai pelindung keberagaman ekspresi, film eksperimental akan terus berada di pinggir: penting bagi perkembangan sinema, tetapi tidak relevan dalam logika industri.
Meski begitu, mungkin memang di situlah kekuatannya.
Tugas eksperimen bukan membuat semua orang nyaman. Tugasnya adalah membuka kemungkinan baru. Ia tidak perlu besar untuk berpengaruh. Ia hanya perlu bertahan cukup lama untuk terus mengganggu, merusak pakem, dan mengingatkan kita bahwa film tidak selalu harus laku untuk menjadi penting.**
