Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakanMenolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya MaestroIn-MemoriamSelamat Jalan Mas Guruh, Putra Bung Karno yang Mengabdikan Hidupnya untuk Seni dan Kebudayaan
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Film Eksperimental: Oposisi yang Disingkirkan, Lalu Ditiru
Artikel Film

Film Eksperimental: Oposisi yang Disingkirkan, Lalu Ditiru

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama8 Mei 20263 menit baca📍 Pegiat Perfilman Jakarta
Film Eksperimental: Oposisi yang Disingkirkan, Lalu Ditiru - Budayantara TV

Oleh: Adisurya Abdy – Pegiat Perfilman

Jakarta – Budayantara.tv Di Indonesia, film eksperimental sering diperlakukan seperti tamu kehormatan yang tidak pernah benar-benar diundang tinggal. Ia diputar di festival, dipuji dalam forum diskusi, dielu-elukan sebagai “penting bagi perkembangan sinema”, lalu perlahan dilupakan ketika lampu ruangan kembali menyala. Kehadirannya diterima secara moral, tetapi jarang diberi ruang hidup secara ekonomi maupun institusional.

Padahal, jika menengok sejarah sinema dunia, hampir seluruh bahasa film yang hari ini dianggap “normal” justru lahir dari eksperimen. Montage yang patah-patah, struktur non-linear, kamera yang gelisah, sunyi yang panjang, hingga absurditas visual semuanya pernah dianggap terlalu aneh, terlalu sulit, terlalu jauh dari pasar. Namun dari “keanehan” itulah sinema berkembang.

Di Indonesia, jejak itu sebenarnya sudah lama ada. Sejak era Gotot Prakosa dan berbagai gerakan film alternatif lainnya, sinema eksperimental telah memilih jalannya sendiri: menjauh dari pasar dan mendekat pada gagasan. Ia tidak lahir dari kenyamanan industri, tetapi dari kegagalan untuk masuk ke dalamnya. Ketika industri sibuk menghitung jumlah penonton, para pembuat film eksperimental sibuk mempertanyakan bentuk.

Masalah utama sebenarnya bukan ketiadaan karya, melainkan ketiadaan ruang.

Industri perfilman Indonesia terlalu cepat mengukur nilai sinema dengan angka penjualan tiket. Seolah-olah film baru dianggap sah ketika laku secara komersial. Akibatnya, film eksperimental diposisikan sekadar sebagai hobi estetika milik komunitas kampus dan ruang seni, bukan sebagai cabang penting kebudayaan.

Padahal ekosistemnya nyata dan hidup. Komunitas seperti Forum Lenteng atau festival seperti ARKIPEL membuktikan bahwa praktik film eksperimental di Indonesia terus bergerak, berkembang, dan melahirkan generasi baru pembuat film. Hanya saja, keberadaannya tidak pernah dianggap sebagai arus utama.

Di titik ini, kita perlu jujur: Indonesia memang menyukai film sebagai hiburan, tetapi belum sepenuhnya menghargai film sebagai medium berpikir.

Film eksperimental tidak dibuat untuk memanjakan penonton. Ia justru hadir untuk mengganggu kenyamanan. Ia mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap mutlak dalam sinema:

Mengapa film harus selalu memiliki cerita?

Mengapa semua emosi harus dijelaskan?

Mengapa gambar harus selalu indah?

Mengapa durasi harus efisien?

Dan mengapa penonton selalu harus dimenangkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi justru di sanalah letak daya subversif film eksperimental. Ia menolak tunduk pada logika algoritma perhatian. Ia tidak lahir dari ketakutan terhadap angka engagement atau tren pasar.

Sementara itu, bioskop nasional hari ini semakin menyerupai etalase komoditas ketimbang ruang kebudayaan. Film dinilai dari opening weekend, bukan dari keberanian estetikanya. Dalam logika seperti itu, film eksperimental sebenarnya tidak kalah karena memang tidak ikut bertanding.

Maka ia tumbuh di tempat-tempat yang dianggap “tidak penting”: ruang komunitas, festival alternatif, kampus, bahkan halaman belakang rumah. Di sanalah eksperimen bertahan.

Ironinya, industri yang dulu menolak estetika eksperimental kini diam-diam memanen hasilnya. Tempo lambat, narasi fragmentaris, visual puitik, hingga pendekatan anti-klimaks mulai merembes ke film-film komersial. Sutradara arus tengah mengadopsinya, memolesnya agar lebih ramah penonton, lalu menjualnya kembali sebagai gaya baru.

Eksperimen akhirnya berubah menjadi tren visual. Bukan lagi sikap, melainkan kemasan.

Di titik inilah film eksperimental menghadapi dilema paling besar: tetap radikal dan terasing, atau berkompromi lalu diserap industri.

Namun sesungguhnya, tanpa film eksperimental, sinema hanya akan menjadi mesin reproduksi formula aman, rapi, dan mati perlahan. Sebab setiap perkembangan bahasa sinema selalu lahir dari keberanian untuk gagal, keberanian untuk dianggap aneh, dan keberanian untuk tidak segera dimengerti.

Kemungkinan masa depan memang tidak terdengar romantis. Selama distribusi dikuasai pasar dan negara tetap absen sebagai pelindung keberagaman ekspresi, film eksperimental akan terus berada di pinggir: penting bagi perkembangan sinema, tetapi tidak relevan dalam logika industri.

Meski begitu, mungkin memang di situlah kekuatannya.

Tugas eksperimen bukan membuat semua orang nyaman. Tugasnya adalah membuka kemungkinan baru. Ia tidak perlu besar untuk berpengaruh. Ia hanya perlu bertahan cukup lama untuk terus mengganggu, merusak pakem, dan mengingatkan kita bahwa film tidak selalu harus laku untuk menjadi penting.**

Adisurya Abdy PATFI
📍 Pegiat Perfilman Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

In-Memoriam - Budayantara TV
Artikel

In-Memoriam

26 September 20262 menit baca

​GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM ​Oleh: M. Guntur Alting/Dewan Pembina DPW SWI JAYA – DKI Jakarta…

​SIAPA YANG GOBLOK ? - Budayantara TV
Artikel

​SIAPA YANG GOBLOK ?

24 September 20264 menit baca

Oleh: M.Guntur AltingDewan Pembina DPW SWI JAYA DKI Jakarta​Jakarta – Budayantara.tv ​PERTANYAAN itu tiba-tiba saja menyeruak ke ruang…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber