Kolaborasi Transformasi vs Transaksi: Seruan Kebangkitan “Roso Orep Sejati” dari Purwosari
Purwosari, Pasuruan – Budayantara.tv
Di tengah arus perubahan zaman yang semakin kompleks, sebuah gagasan reflektif tentang arah peradaban kembali mengemuka dari kawasan lereng Gunung Arjuno. Mengusung tema “Kolaborasi Transaksi vs Kolaborasi Transformasi: Baru Kuno Modern HORAIZO Klasik”, forum saresehan ini menghadirkan pemikiran mendalam tentang pergeseran nilai dalam kehidupan modern.
Acara yang berlangsung di Desa Cendono, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan ini dipimpin oleh Ki Tohari bersama Guntur Bisowarno. Keduanya menekankan pentingnya perubahan paradigma dari pola hidup transaksional menuju transformasi yang lebih bermartabat dan berakar pada nilai kemanusiaan.Senin (27/4/2026).
Dari Transaksi Menuju Transformasi
Dalam diskusi tersebut, ditegaskan bahwa peradaban saat ini cenderung terjebak dalam “transaksi perubahan” yakni pola interaksi yang berbasis kepentingan, rekayasa data, dan manipulasi realitas. Hal ini dinilai berpotensi menjauhkan manusia dari esensi kemanusiaannya sendiri.
Sebaliknya, konsep transformasi perubahan yang diusung menitikberatkan pada pertumbuhan kesadaran: penguatan moralitas, kedewasaan pola pikir, serta spiritualitas yang alami. Pendekatan ini diyakini mampu menghidupkan potensi batin manusia secara utuh melalui keseimbangan antara logika ilmiah dan rasa kemanusiaan.
“Roso Orep Sejati”: Bahasa Persatuan Zaman Now
Jika dahulu Sukarno mempersatukan bangsa melalui bahasa perjuangan, maka kini muncul gagasan baru: bahasa rasa.
Konsep “Roso Orep Sejati” menjadi inti dari pendekatan ini sebuah kesadaran bahwa setiap manusia memiliki rasa hidup yang sama, rasa zaman yang sama, serta tanggung jawab universal terhadap sesama dan lingkungan.
“Bahasa persatuan hari ini adalah bahasa rasa sadar berkesadaran,” ungkap salah satu peserta. “Bukan sekadar logika atau data, tetapi rasa yang lahir dari keheningan batin.”
Kritik terhadap Sistem Modern
Forum ini juga menyoroti dampak dominasi pendekatan transaksional dalam sektor pendidikan dan kesehatan. Biaya yang semakin tinggi, sistem berjenjang, serta jarak antara layanan dan kebutuhan masyarakat dinilai sebagai indikasi kuat bahwa sistem telah bergeser dari nilai kemanusiaan menuju komersialisasi.
Bahkan, dalam pandangan kritis yang disampaikan, kondisi ini berpotensi menjebak manusia dalam “perdagangan jiwa dan nyawa” jika tidak segera diimbangi dengan transformasi nilai.
Metodologi Baru: Dari Lisan ke “Tool Lisan”
Perubahan zaman juga membawa transformasi dalam cara komunikasi. Jika dahulu cukup dengan tutur lisan (muno-muni), kini manusia menggunakan berbagai “tool lisan” media, dokumen, hingga platform digital yang membuka ruang kolaborasi lintas batas: lokal hingga global.
Namun demikian, peserta diingatkan untuk tidak terjebak dalam “kemasan transaksi”, melainkan tetap menjaga keaslian rasa, integritas diri, dan kebijaksanaan dalam berinteraksi.
Menemukan Esensi: Mengerti Sebelum Mengerti
Salah satu catatan penting dalam saresehan ini adalah prinsip: “mengerti sebelum mengerti.” Artinya, memahami rasa batin terlebih dahulu sebelum mengolah logika dan nalar.
Pendekatan ini diyakini mampu melahirkan manusia yang lebih utuh tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.
Penutup: Seruan Kolaborasi Rasa Lintas Zaman
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 06.00 hingga 09.30 WIB ini menjadi bagian dari gerakan Bamboo Spirit Nusantara Support System. Hasil pemikiran tersebut kini diarsipkan sebagai bagian dari gagasan besar Perpustakaan Baru Kuno Modern HORAIZO Klasik.
Pesan utamanya jelas:
Perubahan zaman tidak cukup dihadapi dengan transaksi, tetapi membutuhkan transformasi kolaborasi lintas generasi, lintas rasa, dan lintas kesadaran menuju peradaban yang lebih manusiawi.
Oleh: Mbah Openi
Praktisi Manusia Sastra Budaya Canggih


