Krisis Kepercayaan di Balik Gemerlap Promosi Film Indonesia: “Yang Runtuh Bukan Hanya Satu Film”

Krisis Kepercayaan di Balik Gemerlap Promosi Film Indonesia: “Yang Runtuh Bukan Hanya Satu Film”

Jakarta – Budayantara.tv Industri perfilman Indonesia tengah menghadapi sorotan tajam terkait praktik promosi yang dinilai semakin menjauh dari esensi kejujuran. Pegiat perfilman, Adisurya Abdy, mengungkapkan bahwa persoalan utama bukan sekadar kreativitas promosi, melainkan ketidakjujuran dalam membangun ekspektasi publik.

“Masalahnya bukan lagi soal menarik atau tidak menarik. Yang terjadi adalah manipulasi ekspektasi,” ujar Adisurya dalam pernyataannya. Ia menyoroti kecenderungan promosi film yang kerap “mengemas ulang” identitas karya demi kepentingan pasar. Film drama dipasarkan sebagai komedi ringan, sementara karya dengan muatan sosial justru dipoles layaknya tontonan aksi komersial.

Akibatnya, penonton kerap merasa tertipu. Harapan yang dibentuk sejak awal melalui trailer, poster, hingga kampanye media sosial tidak sesuai dengan realitas yang mereka temukan di layar. Di era digital, kekecewaan ini dengan cepat menyebar dan berubah menjadi opini publik yang sulit dikendalikan.

“Yang dibeli penonton bukan tiket, melainkan janji,” tegasnya.

Menurut Adisurya, janji tersebut adalah fondasi penting dalam relasi antara industri film dan penonton. Ketika janji itu dilanggar, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu film, tetapi dapat merusak kepercayaan terhadap keseluruhan ekosistem perfilman.

Fenomena “overpromise” atau janji berlebihan juga menjadi perhatian. Banyak film dipromosikan seolah-olah sebagai karya besar dan epik, meskipun tidak semua memiliki skala atau tujuan seperti itu. Kondisi ini justru menciptakan kejenuhan, di mana tidak ada lagi karya yang benar-benar terasa istimewa.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa promosi seharusnya berfungsi sebagai jembatan antara visi kreator dan persepsi publik. Ketika jembatan ini dibangun secara keliru, film yang sebenarnya memiliki nilai kuat justru kehilangan arah di mata penonton.

Ironi lain muncul pada film-film dengan tema berani, seperti isu sosial dan kemanusiaan, yang justru “menyamar” menjadi tontonan ringan demi menjangkau pasar lebih luas. Dalam situasi ini, promosi tidak lagi menjadi strategi komunikasi, melainkan bentuk kompromi yang berisiko mengaburkan pesan utama.

Adisurya menegaskan bahwa promosi yang efektif bukanlah yang paling keras atau paling ramai, melainkan yang paling tepat sasaran. “Promosi yang baik tahu kepada siapa ia berbicara, tentang apa, dan dengan nada seperti apa,” jelasnya.

Pada akhirnya, ia mengingatkan bahwa promosi bukan sekadar alat untuk meningkatkan penjualan tiket, melainkan fondasi kepercayaan publik. Jika fondasi tersebut retak, maka dampaknya bisa meluas dan meruntuhkan kepercayaan terhadap industri secara keseluruhan.

“Yang runtuh bukan hanya satu film, melainkan seluruh bangunan,” pungkasnya.**

About Author

Budayantara TV

Budayantara TV adalah platform media digital yang berdedikasi untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia. Kami hadir sebagai jembatan antara nilai-nilai luhur budaya tradisional dengan dinamika kehidupan modern. 🎭 Visi Kami: Menjadi etalase budaya Indonesia yang terpercaya, menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya bangsa. 📰 Fokus Liputan: • Seni & Budaya Nusantara • Event & Festival Budaya • Kuliner Tradisional Indonesia • Tokoh & Maestro Budaya • Pelestarian Warisan Leluhur • Inovasi Budaya Kontemporer ✨ Komitmen Kami: Menyajikan konten berkualitas, informatif, dan inspiratif tentang kekayaan budaya Indonesia untuk audiens lokal dan global. 📧 Kontak: Email: admin@budayantara.tv Website: https://budayantara.tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *