Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakanMenolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya MaestroIn-Memoriam
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Krisis Kepercayaan di Balik Gemerlap Promosi Film Indonesia: “Yang Runtuh Bukan Hanya Satu Film”
Artikel Film News

Krisis Kepercayaan di Balik Gemerlap Promosi Film Indonesia: “Yang Runtuh Bukan Hanya Satu Film”

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama20 April 20262 menit baca📍 Jakarta
Krisis Kepercayaan di Balik Gemerlap Promosi Film Indonesia: “Yang Runtuh Bukan Hanya Satu Film” - Budayantara TV

Jakarta – Budayantara.tv Industri perfilman Indonesia tengah menghadapi sorotan tajam terkait praktik promosi yang dinilai semakin menjauh dari esensi kejujuran. Pegiat perfilman, Adisurya Abdy, mengungkapkan bahwa persoalan utama bukan sekadar kreativitas promosi, melainkan ketidakjujuran dalam membangun ekspektasi publik.

“Masalahnya bukan lagi soal menarik atau tidak menarik. Yang terjadi adalah manipulasi ekspektasi,” ujar Adisurya dalam pernyataannya. Ia menyoroti kecenderungan promosi film yang kerap “mengemas ulang” identitas karya demi kepentingan pasar. Film drama dipasarkan sebagai komedi ringan, sementara karya dengan muatan sosial justru dipoles layaknya tontonan aksi komersial.

Akibatnya, penonton kerap merasa tertipu. Harapan yang dibentuk sejak awal melalui trailer, poster, hingga kampanye media sosial tidak sesuai dengan realitas yang mereka temukan di layar. Di era digital, kekecewaan ini dengan cepat menyebar dan berubah menjadi opini publik yang sulit dikendalikan.

“Yang dibeli penonton bukan tiket, melainkan janji,” tegasnya.

Menurut Adisurya, janji tersebut adalah fondasi penting dalam relasi antara industri film dan penonton. Ketika janji itu dilanggar, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu film, tetapi dapat merusak kepercayaan terhadap keseluruhan ekosistem perfilman.

Fenomena “overpromise” atau janji berlebihan juga menjadi perhatian. Banyak film dipromosikan seolah-olah sebagai karya besar dan epik, meskipun tidak semua memiliki skala atau tujuan seperti itu. Kondisi ini justru menciptakan kejenuhan, di mana tidak ada lagi karya yang benar-benar terasa istimewa.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa promosi seharusnya berfungsi sebagai jembatan antara visi kreator dan persepsi publik. Ketika jembatan ini dibangun secara keliru, film yang sebenarnya memiliki nilai kuat justru kehilangan arah di mata penonton.

Ironi lain muncul pada film-film dengan tema berani, seperti isu sosial dan kemanusiaan, yang justru “menyamar” menjadi tontonan ringan demi menjangkau pasar lebih luas. Dalam situasi ini, promosi tidak lagi menjadi strategi komunikasi, melainkan bentuk kompromi yang berisiko mengaburkan pesan utama.

Adisurya menegaskan bahwa promosi yang efektif bukanlah yang paling keras atau paling ramai, melainkan yang paling tepat sasaran. “Promosi yang baik tahu kepada siapa ia berbicara, tentang apa, dan dengan nada seperti apa,” jelasnya.

Pada akhirnya, ia mengingatkan bahwa promosi bukan sekadar alat untuk meningkatkan penjualan tiket, melainkan fondasi kepercayaan publik. Jika fondasi tersebut retak, maka dampaknya bisa meluas dan meruntuhkan kepercayaan terhadap industri secara keseluruhan.

“Yang runtuh bukan hanya satu film, melainkan seluruh bangunan,” pungkasnya.**

Adisurya Abdy PATFI
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat Beksi - Budayantara TV
News

Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat Beksi

27 September 20261 menit baca

Jakarta – Budayantara.tv “Observasi dan wawancara hari ini, membuka wawasan baru mengenai keadaan esksisting wisata di Kampung Wisata…

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

Menolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro - Budayantara TV
News

Menolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro

26 September 20265 menit baca

Solo,– Budayantara.tv Penerbitan naskah wayang orang dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkokoh struktur identitas kultural bangsa Indonesia. Melalui…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber