Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakanMenolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya MaestroIn-Memoriam
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/ADEGAN MAKAN YANG CANGGUNG DALAM FILM INDONESIA(Ketika Realitas Tidak Pernah Benar-Benar Duduk di Kursinya)
Artikel Film

ADEGAN MAKAN YANG CANGGUNG DALAM FILM INDONESIA(Ketika Realitas Tidak Pernah Benar-Benar Duduk di Kursinya)

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama20 April 20263 menit baca📍 Jakarta
ADEGAN MAKAN YANG CANGGUNG DALAM FILM INDONESIA(Ketika Realitas Tidak Pernah Benar-Benar Duduk di Kursinya) - Budayantara TV

Oleh: Karsono Hadi (Sutradara)

Jakarta – Budayantara.tv Ada sesuatu yang sering terasa janggal dalam banyak film Indonesia, tapi jarang kita sadari secara sadar.
Bukan ledakan yang kurang besar, bukan dialog yang terlalu lemah melainkan momen paling sederhana: adegan makan.

Kita melihatnya berkali-kali.
Karakter duduk rapi di meja makan, piring tersusun, makanan tersaji. Semua tampak “benar”. Tapi entah kenapa, terasa… tidak hidup.

Seolah-olah mereka tidak benar-benar lapar.
Seolah-olah makanan itu hanya sedang berpura-pura dimakan.

Dan mungkin, masalahnya memang bukan di aktor.
Bukan juga semata soal teknis penyutradaraan.

Ada sesuatu yang lebih dalam yaitu ketidaksinkronan antara budaya yang kita jalani, dan budaya yang kita tampilkan.

Dalam keseharian, makan bagi banyak orang Indonesia bukanlah ritual formal. Ia cair, berpindah-pindah kadang di lantai, kadang di ruang tengah sering kali ditemani suara televisi atau obrolan yang saling tumpang tindih. Ada tangan yang langsung menyentuh nasi, ada bunyi piring yang beradu, ada jeda kecil ketika seseorang berhenti bicara hanya untuk mengunyah dengan nikmat.

Itu bukan sekadar kebiasaan.
Itu adalah memori tubuh.

Namun ketika masuk ke dalam film, ruang itu tiba-tiba berubah.
Kita dipaksa duduk tegak. Meja makan menjadi pusat komposisi. Gerakan dibatasi. Suara diredam. Makan berubah menjadi koreografi yang harus “rapi”.

Di titik itu, sesuatu yang jujur mulai menghilang.

Tubuh para aktor seperti kehilangan ingatan kecilnya.
Tangan ragu-ragu. Sendok hanya berputar-putar. Makanan disentuh, tapi tidak benar-benar dihadapi. Yang tersisa hanyalah gestur tanpa rasa.

Kamera pun sering memperparah jarak itu.
Kebutuhan blocking, komposisi, dan aturan seperti 180-degree rule membuat posisi duduk menjadi tidak wajar. Orang-orang yang seharusnya saling berhadapan justru terasa seperti sedang dipajang. Seperti bukan sedang makan bersama, tapi sedang menunggu giliran bicara.

Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang pelan-pelan menghilang:
keintiman.

Padahal, makan adalah salah satu momen paling jujur dalam hidup manusia.
Di sana ada kelelahan yang dilepas, ada cerita yang tidak selesai, ada diam yang tidak canggung. Bahkan konflik sering kali terasa lebih nyata justru ketika seseorang tetap mengunyah di tengah ketegangan.
Makan bukan sekadar aktivitas.
Ia adalah ruang emosi.

Mungkin sudah saatnya kita tidak lagi terlalu takut pada “ketidakteraturan” itu.
Membiarkan adegan makan menjadi sedikit berantakan. Membiarkan karakter berbicara sambil mengunyah. Membiarkan posisi duduk tidak selalu simetris. Membiarkan makanan benar-benar disentuh, diacak, bahkan dihabiskan.

Karena justru di situlah kehidupan berada.
Ketika nasi tidak lagi sekadar properti, tapi menjadi bagian dari pengalaman.
Ketika bunyi kecil di meja tidak dianggap gangguan, tapi menjadi tekstur.
Ketika aktor tidak lagi “memerankan makan”, tapi benar-benar makan.

Barangkali, yang kita cari selama ini bukanlah adegan yang lebih sempurna.
Tapi adegan yang lebih jujur.

Dan mungkin, dari sesuatu yang sesederhana makan,
kita bisa mulai belajar lagi bagaimana menghadirkan manusia di dalam film bukan sebagai gambar yang rapi, tapi sebagai makhluk yang hidup.

Karena pada akhirnya,
penonton tidak selalu ingat dialog yang besar.

Tapi mereka akan selalu ingat momen kecil yang terasa nyata.
Termasuk
cara seseorang mengambil suapan terakhirnya.**

Karsono Hadi
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

In-Memoriam - Budayantara TV
Artikel

In-Memoriam

26 September 20262 menit baca

​GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM ​Oleh: M. Guntur Alting/Dewan Pembina DPW SWI JAYA – DKI Jakarta…

​SIAPA YANG GOBLOK ? - Budayantara TV
Artikel

​SIAPA YANG GOBLOK ?

24 September 20264 menit baca

Oleh: M.Guntur AltingDewan Pembina DPW SWI JAYA DKI Jakarta​Jakarta – Budayantara.tv ​PERTANYAAN itu tiba-tiba saja menyeruak ke ruang…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber