Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakanMenolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya MaestroIn-Memoriam
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Sinematek di Tangan yang Terlalu Kecil
Artikel Film

Sinematek di Tangan yang Terlalu Kecil

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama17 April 20262 menit baca📍 Pegiat Perfilman Jakarta
Sinematek di Tangan yang Terlalu Kecil - Budayantara TV

Oleh : Adisurya Abdy – Pegiat Perfilman

Jakarta – Budayantara.tv Pengelolaan Sinematek Indonesia di bawah Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI) merupakan potret nyata dari dilema kelembagaan: antara idealisme komunitas dan keterbatasan struktur yang membatasinya.

Persoalan ini tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Di satu sisi, terdapat jasa besar yang tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, ada persoalan serius yang terus membayangi. Harus diakui, tanpa peran historis yayasan ini, Sinematek Indonesia mungkin sudah lama runtuh dan kehilangan jejaknya.

YPPHUI merupakan hasil evolusi dari gagasan besar almarhum Misbach Yusa Biran, yang dengan inisiatif dan kecintaannya terhadap dunia film, membangun fondasi penyelamatan arsip sinema Indonesia. Di masa ketika negara belum hadir secara serius, Sinematek menjadi benteng terakhir bagi warisan film nasional. Banyak karya penting terselamatkan berkat semangat kolektif para pelaku perfilman yang menjadikan sinema sebagai bagian dari kebudayaan bangsa.

Namun, semangat saja tidak cukup untuk menjawab tantangan zaman. Mengelola arsip film sebuah negara bukanlah pekerjaan yang bisa ditopang oleh yayasan dengan kapasitas terbatas. Dibutuhkan teknologi canggih dengan standar internasional, sistem penyimpanan modern, serta pendanaan jangka panjang yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, beban yang ditanggung YPPHUI menjadi terlalu besar.

Selain itu, persoalan akuntabilitas dan transparansi juga kerap menjadi sorotan. Hal ini menjadi krusial karena yang dikelola bukan sekadar aset lembaga, melainkan memori kolektif bangsa. Tanpa sistem pengelolaan yang kuat dan terbuka, sulit bagi Sinematek untuk berkembang menjadi pusat riset dan kebudayaan yang dinamis. Yang terjadi justru stagnasi—bertahan, tetapi tidak bertumbuh.

Masalah utama sejatinya bukan terletak pada individu atau niat baik, melainkan pada struktur kelembagaan itu sendiri. Mengelola Sinematek melalui yayasan ibarat meminta sebuah klinik kecil menangani sistem kesehatan nasional: mungkin berjalan, tetapi tidak akan pernah optimal.

Jika menengok ke masa lalu, keberadaan yayasan adalah solusi terbaik di tengah ketiadaan negara. Ia hadir sebagai penyelamat. Namun di masa kini, model tersebut mulai tertinggal. Tantangan telah berubah—dari sekadar menyelamatkan arsip, menjadi merawat, mendigitalisasi, hingga mendistribusikannya dalam ekosistem global.

Undang-Undang Perfilman No. 33 Tahun 2009 sebenarnya telah memberikan landasan bahwa negara harus mengambil peran utama dalam pengelolaan perfilman nasional, termasuk arsipnya. Peran negara bukan untuk mematikan independensi, melainkan memperkuatnya melalui dukungan regulasi, pendanaan, dan mandat yang jelas.

Dengan demikian, persoalan Sinematek bukanlah tentang benar atau salah, melainkan tentang ketidaksesuaian antara struktur lama dengan kebutuhan baru. Ketergantungan pada model lama hanya akan memperpanjang ketertinggalan.

Jika pengelolaan arsip terus dibiarkan berjalan setengah hati, yang hilang bukan sekadar film. Lebih dari itu, kita berisiko kehilangan jejak identitas, memori sejarah, dan hak generasi mendatang untuk mengenal bangsanya sendiri melalui sinema.

Jakarta, 17 April 2026

Adisurya Abdy PATFI
📍 Pegiat Perfilman Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

In-Memoriam - Budayantara TV
Artikel

In-Memoriam

26 September 20262 menit baca

​GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM ​Oleh: M. Guntur Alting/Dewan Pembina DPW SWI JAYA – DKI Jakarta…

​SIAPA YANG GOBLOK ? - Budayantara TV
Artikel

​SIAPA YANG GOBLOK ?

24 September 20264 menit baca

Oleh: M.Guntur AltingDewan Pembina DPW SWI JAYA DKI Jakarta​Jakarta – Budayantara.tv ​PERTANYAAN itu tiba-tiba saja menyeruak ke ruang…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber