Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakanMenolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya MaestroIn-Memoriam
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Adisurya Abdy: Produser yang Tak Pernah Selesai Berdamai dengan Sistem
Artikel Film

Adisurya Abdy: Produser yang Tak Pernah Selesai Berdamai dengan Sistem

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama5 April 20263 menit baca📍 Jakarta
Adisurya Abdy: Produser yang Tak Pernah Selesai Berdamai dengan Sistem - Budayantara TV

Jakarta – Budayantara.tv Industri film Indonesia tengah berada dalam fase pertumbuhan yang menjanjikan. Jumlah penonton meningkat, platform distribusi semakin beragam, dan investasi terus mengalir. Namun di balik geliat positif itu, tersimpan persoalan lama yang belum kunjung tuntas: relasi antar produser yang rapuh, penuh kecurigaan, dan kerap memicu konflik di tengah proses produksi.

Bagi Adisurya Abdy, persoalan ini bukan sekadar benturan ego. Ia melihat masalah yang lebih mendasar—ketiadaan budaya produksi yang matang. Banyak film digarap dengan semangat kolektif, tetapi tanpa sistem kerja kolektif yang jelas. Semua pihak ingin terlibat, namun batas peran sering kali kabur. Akibatnya, kuasa tersebar tanpa tanggung jawab yang tegas.

Secara struktural, pembagian peran produser sebenarnya telah terdefinisi: ada executive producer, creative producer, dan line producer. Namun dalam praktiknya, batas-batas itu kerap melebur. Executive producer ikut mencampuri urusan kreatif, creative producer terlibat dalam perhitungan finansial, sementara line producer dipaksa menjadi penengah konflik yang bukan domainnya.

Situasi ini membuat proses pengambilan keputusan berubah menjadi tarik-ulur kepentingan, bukan arah yang jelas. Dan seperti yang kerap terjadi, persoalan keuangan menjadi sumber konflik paling sensitif. Transparansi finansial masih dianggap ancaman, bukan kebutuhan. Anggaran disimpan rapat, laporan keuangan terlambat atau bahkan tidak pernah disampaikan. Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan sulit tumbuh. Yang tersisa hanyalah prasangka.

Ironisnya, banyak proyek film dimulai tanpa kesepakatan visi yang jujur sejak awal. Ada yang mengejar festival internasional, ada yang membidik box office, dan ada pula yang sekadar ingin aman dari sensor. Tanpa keselarasan tujuan, produksi berjalan seperti kendaraan dengan beberapa pengemudi yang menarik arah berbeda—oleng, tersendat, atau sampai tujuan dalam kondisi tidak utuh.

Dalam dinamika tersebut, film sering menjadi korban utama. Kualitas berubah menjadi hasil negosiasi, bukan keputusan artistik. Cerita dipangkas bukan karena kebutuhan naratif, melainkan kompromi kepentingan. Kreativitas pun kalah oleh suara yang paling dominan, menjadikan film lebih sebagai arena kuasa ketimbang karya.

Adisurya menekankan bahwa harmoni antar produser bukanlah persoalan kedekatan personal, melainkan hasil dari desain kerja yang jelas. Kejelasan peran, transparansi keuangan, dan kesepakatan visi sejak awal menjadi fondasi utama. Tanpa itu, industri hanya bergantung pada niat baik sesuatu yang tidak cukup untuk menopang profesionalisme jangka panjang.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua produser harus bekerja bersama. Kolaborasi bukan kewajiban moral, melainkan soal kecocokan kerja. Memaksakan kemitraan tanpa fondasi hanya akan mempercepat konflik dan mengancam keberlangsungan proyek.

Bagi industri film Indonesia yang ingin berkembang lebih dewasa, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi sekadar bagaimana membuat film yang laku di pasar, tetapi bagaimana membangun ekosistem kerja yang sehat di balik layar.

Sebab pada akhirnya, film yang kuat tidak hanya lahir dari ide yang baik, tetapi dari sistem kerja yang memungkinkan setiap orang berkontribusi tanpa saling menjatuhkan. Selama konflik antar produser masih menjadi cerita utama di balik layar, maka film-film yang dihasilkan akan terus terasa sebagai kompromi panjang bukan keputusan kreatif yang utuh.

Adisurya Abdy PATFI
📍 Jakarta
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan - Budayantara TV
Artikel

PENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakan

27 September 20263 menit baca

​Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI DKI Jakarta Jakarta – Budayantara.tv SAAT mendengar berita sel mewah di…

In-Memoriam - Budayantara TV
Artikel

In-Memoriam

26 September 20262 menit baca

​GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM ​Oleh: M. Guntur Alting/Dewan Pembina DPW SWI JAYA – DKI Jakarta…

​SIAPA YANG GOBLOK ? - Budayantara TV
Artikel

​SIAPA YANG GOBLOK ?

24 September 20264 menit baca

Oleh: M.Guntur AltingDewan Pembina DPW SWI JAYA DKI Jakarta​Jakarta – Budayantara.tv ​PERTANYAAN itu tiba-tiba saja menyeruak ke ruang…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber