Home / Film / Hari Film Nasional: Merdeka yang Disensor

Hari Film Nasional: Merdeka yang Disensor

Oleh : Adisurya Abdy (Ketum PATFI)

Jakarta – Budayantara.tv Hari Film Nasional seharusnya menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan. Ia mestinya menjadi ruang refleksi tempat kita bertanya dengan jujur: apakah film Indonesia sudah benar-benar merdeka?

Sejarah perfilman kita lahir dari keberanian. Darah dan Doa bukan hanya film, melainkan pernyataan sikap. Ia menandai tekad untuk menjadikan film sebagai suara bangsa, bukan sekadar komoditas hiburan.
Namun hari ini, suara itu terasa semakin pelan. Bukan karena sineas kehabisan ide, melainkan karena terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum ide itu berani muncul.
Sensor, dalam bentuknya yang paling nyata, memang berada di lembaga resmi. Tetapi pengaruhnya tidak berhenti di sana. Ia merembes masuk ke dalam kesadaran para pembuat film menjadi semacam sensor internal yang bekerja tanpa diperintah.
Para sineas mulai memilah sejak awal: mana yang aman, mana yang berisiko, dan mana yang sebaiknya tidak dibuat sama sekali.
Inilah bentuk sensor yang paling halus dan paling berbahaya.
Karena ketika pembatasan tidak lagi terasa sebagai paksaan, melainkan diterima sebagai kewajaran, maka kita telah kehilangan sesuatu yang esensial keberanian.
Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah pertumbuhan industri yang pesat. Kita memiliki lebih banyak film, lebih banyak penonton, dan lebih banyak layar. Namun kuantitas tidak selalu berjalan seiring dengan kualitas keberanian.
Kita mungkin sedang membangun industri yang besar, tetapi belum tentu bebas.
Hari Film Nasional sering kali berubah menjadi panggung afirmasi tempat di mana semuanya tampak baik-baik saja. Padahal seni tidak pernah lahir dari rasa aman. Ia tumbuh dari kegelisahan, pertanyaan, bahkan keberanian untuk melawan batas.
Jika sensor hanya diposisikan sebagai penjaga moral tanpa ruang dialog yang setara dengan sineas, maka yang terjadi bukan keseimbangan, melainkan pembatasan yang sistemik halus, tapi membentuk.
Dan di titik tertentu, kita tidak lagi membutuhkan sensor eksternal.
Karena kita sudah menyensor diri sendiri.
Maka, mungkin pertanyaan paling penting di Hari Film Nasional bukanlah film apa yang berhasil tayang, melainkan:
film seperti apa yang tidak pernah sempat dibuat?
Sebab sejarah perfilman tidak hanya ditulis oleh karya yang hadir, tetapi juga oleh ide-ide yang gugur sebelum lahir.
Dan di situlah, kemerdekaan film Indonesia benar-benar diuji.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *