Lewati ke konten
26 Agustus 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Sang Drupadi, Wanito Pinilih: Ketika Dalang Tunanetra Menghidupkan Kembali Denyut Wayang NusantaraBuceng Porak Sedekah Bumi, Tradisi Gotong Royong Warnai HUT ke-80 RI di Desa MaronWARTAWAN PROFETIKJelang Aksi 27 Agustus, IKB Jabodetabek Serukan Warga Tak Mudah Terprovokasi
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali
Artikel Budaya

Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama29 Maret 20263 menit baca
Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali - Budayantara TV

Oleh : Masdjo Arifin (Founder Budayantara Network)

Jakarta,- Budayantara.tv Setiap langkah merantau selalu membawa cerita. Tapi tidak semua cerita itu sempat diucapkan sebagian hanya tersimpan, diam-diam hidup di dada, dan baru menemukan suaranya ketika pulang ke kampung halaman.

Lebaran menjadi waktu di mana semua rasa itu tumpah.

Di antara peluk hangat keluarga, ada yang pulang dengan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan. Mobil baru terparkir di halaman rumah, menjadi saksi perjalanan panjang yang penuh kerja keras. Ada pula yang membuka galeri di ponselnya, memperlihatkan rumah yang akhirnya berdiri dibangun dari keringat, dari rindu yang ditahan, dari hari-hari yang dijalani sendirian di kota.

Namun, tak sedikit yang pulang dengan mata yang lebih banyak bercerita daripada kata-kata.

Mereka yang akhirnya kembali setelah bertahun-tahun hanya bisa mendengar suara ibu dari seberang telepon. Mereka yang selama ini hanya melihat wajah orang-orang tercinta lewat layar kecil. Saat akhirnya bertemu, pelukan itu terasa lebih lama, lebih erat seolah ingin mengganti semua waktu yang hilang.

Dan di sudut-sudut cerita itu, ada kisah yang tak pernah benar-benar terlihat.

Tentang mereka yang menabung diam-diam, menyisihkan sedikit dari yang sedikit. Tentang mereka yang berkali-kali mengurungkan niat pulang karena ongkos terasa terlalu mahal. Tentang rindu yang dipendam begitu lama, sampai akhirnya pecah dalam tangis saat kaki kembali menginjak halaman rumah.

Ada kebanggaan yang sederhana, tapi begitu dalam: akhirnya bisa pulang tanpa rasa malu. Tak lagi menjadi bagian dari lirik yang dulu terasa begitu nyata“pulang malu, tak pulang rindu.”

Kini mereka pulang, membawa diri yang lebih kuat, meski mungkin belum sepenuhnya berhasil.Namun, setiap pertemuan selalu punya batas waktu.

Ketika gema takbir telah mereda dan suasana kampung kembali sunyi, satu per satu harus kembali. Tas kembali dikemas. Pelukan kembali dilepas kali ini dengan berat yang berbeda.

Arus balik pun dimulai.

Jutaan orang kembali bergerak menuju Jakarta. Jalanan padat, stasiun sesak, terminal penuh. Tapi di balik itu semua, ada perasaan yang sulit dijelaskan antara enggan meninggalkan rumah dan terpaksa melangkah pergi.

Karena hidup harus terus berjalan.

Menariknya, perjalanan kembali ini seringkali tidak lagi sendiri. Ada tangan lain yang digandeng. Ada wajah baru yang ikut dalam rombongan. Saudara, teman, bahkan tetangga semuanya dibawa menuju kota yang sama, dengan harapan yang serupa.

Harapan untuk hidup yang lebih baik.

Begitulah cerita itu berulang, tahun demi tahun. Dari satu orang menjadi banyak. Dari satu mimpi menjadi puluhan. Sebuah rantai harapan yang tak pernah benar-benar putus.

Jakarta tetap berdiri sebagai tujuan.

Kota yang keras, bising, dan kadang terasa kejam namun selalu menjanjikan sesuatu. Di sana, orang percaya bahwa kesempatan itu ada, meski harus diperjuangkan mati-matian.

Di balik gedung-gedung tinggi dan lampu yang tak pernah padam, ada ribuan bahkan jutaan cerita tentang lelah, tentang gagal, tentang bangkit lagi keesokan harinya.

Tidak mudah hidup di sana.

Tapi entah kenapa, selalu ada alasan untuk bertahan.Mungkin karena mimpi belum selesai.
Mungkin karena keluarga di kampung masih menunggu.
Atau mungkin… karena pulang tanpa hasil terasa lebih menakutkan daripada bertahan dalam kesulitan.

Pada akhirnya, merantau bukan hanya tentang mencari uang.Ini adalah tentang rindu yang dipendam, tentang keberanian untuk pergi, dan tentang harapan yang terus dipelihara meski berkali-kali diuji.

Dan setiap kali Lebaran datang, cerita itu akan kembali hidup.

Dalam pelukan yang hangat.
Dalam air mata yang jatuh diam-diam.
Dan dalam langkah kaki yang, sekali lagi, harus pergi menjauh dari rumah… demi suatu hari bisa kembali dengan cerita yang lebih baik.

Mudik 2026 Urbanisasi
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Sang Drupadi, Wanito Pinilih: Ketika Dalang Tunanetra Menghidupkan Kembali Denyut Wayang Nusantara - Budayantara TV
Budaya

Sang Drupadi, Wanito Pinilih: Ketika Dalang Tunanetra Menghidupkan Kembali Denyut Wayang Nusantara

26 Agustus 20263 menit baca

Malang, — Budayantara.tv Seni pewayangan Nusantara kembali mendapat ruang istimewa di Kabupaten Malang. Pagelaran Ringgit Purwa dengan lakon…

WARTAWAN PROFETIK - Budayantara TV
Artikel

WARTAWAN PROFETIK

25 Agustus 20263 menit baca

Refleksi untuk Khidmat DPW SWI JAYA Sekber Wartawan Indoensia Oleh: M.Guntur Alting Pembina DPW SWI JAYA, Sekber Wartawan…

​KETIKA KANVAS LEBIH TAJAM DARI PELURU - Budayantara TV
Artikel Kebangsaan

​KETIKA KANVAS LEBIH TAJAM DARI PELURU

25 Agustus 20262 menit baca

-Catatan dari Pameran Seni Ukraina Oleh: M.Guntur Alting Pembina DPW SWI JAYA (Sekber Wartawan Indonesia) ​Jakarta,- Budayantara.tv SIAPA…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Lagi Hangat

  1. Puspita Sakanti Buka Resepsi Kenegaraan HUT RI ke-81 Temanggung dengan Bangilun Geol Kenes18 Agustus 2026
  2. Tiga Tahun Betslow, Merawat Budaya Betawi Lewat Kebersamaan dan Kepedulian23 Agustus 2026
  3. In Memoriam Syahrizal (1967-2026)24 Agustus 2026
  4. MEMBANGUN SWI JAYA BERBASIS PENGETAHUAN22 Agustus 2026
  5. IKB Jabodetabek Meriahkan HUT RI ke-81 Lewat Lomba Karaoke Bernuansa Merah Putih15 Agustus 2026

Rekomendasi untuk Anda

Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali - Budayantara TVSang Drupadi, Wanito Pinilih: Ketika Dalang Tunanetra Menghidupkan Kembali Denyut Wayang Nusantara
Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali - Budayantara TVBuceng Porak Sedekah Bumi, Tradisi Gotong Royong Warnai HUT ke-80 RI di Desa Maron
Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali - Budayantara TVWARTAWAN PROFETIK
Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali - Budayantara TVJelang Aksi 27 Agustus, IKB Jabodetabek Serukan Warga Tak Mudah Terprovokasi
Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali - Budayantara TVWanam di Tengah Arus Pembangunan, MPSI Dorong Adat Jadi Fondasi dan Ekonomi Warga Naik Kelas

Lokasi

📍 Jakarta 254📍 Bogor 18📍 Bekasi 13📍 Purwokerto 11📍 Pasuruan 11

Tetap Terhubung

Isi URL media sosial di Customizer atau tetapkan Menu Sosial.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber