Home / Budaya / Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali

Potret Urbanisasi : Merantau, Mudik, dan Luka Rindu yang Selalu Kembali

Oleh : Masdjo Arifin (Founder Budayantara Network)

Jakarta,- Budayantara.tv Setiap langkah merantau selalu membawa cerita. Tapi tidak semua cerita itu sempat diucapkan sebagian hanya tersimpan, diam-diam hidup di dada, dan baru menemukan suaranya ketika pulang ke kampung halaman.

Lebaran menjadi waktu di mana semua rasa itu tumpah.

Di antara peluk hangat keluarga, ada yang pulang dengan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan. Mobil baru terparkir di halaman rumah, menjadi saksi perjalanan panjang yang penuh kerja keras. Ada pula yang membuka galeri di ponselnya, memperlihatkan rumah yang akhirnya berdiri dibangun dari keringat, dari rindu yang ditahan, dari hari-hari yang dijalani sendirian di kota.

Namun, tak sedikit yang pulang dengan mata yang lebih banyak bercerita daripada kata-kata.

Mereka yang akhirnya kembali setelah bertahun-tahun hanya bisa mendengar suara ibu dari seberang telepon. Mereka yang selama ini hanya melihat wajah orang-orang tercinta lewat layar kecil. Saat akhirnya bertemu, pelukan itu terasa lebih lama, lebih erat seolah ingin mengganti semua waktu yang hilang.

Dan di sudut-sudut cerita itu, ada kisah yang tak pernah benar-benar terlihat.

Tentang mereka yang menabung diam-diam, menyisihkan sedikit dari yang sedikit. Tentang mereka yang berkali-kali mengurungkan niat pulang karena ongkos terasa terlalu mahal. Tentang rindu yang dipendam begitu lama, sampai akhirnya pecah dalam tangis saat kaki kembali menginjak halaman rumah.

Ada kebanggaan yang sederhana, tapi begitu dalam: akhirnya bisa pulang tanpa rasa malu. Tak lagi menjadi bagian dari lirik yang dulu terasa begitu nyata“pulang malu, tak pulang rindu.”

Kini mereka pulang, membawa diri yang lebih kuat, meski mungkin belum sepenuhnya berhasil.Namun, setiap pertemuan selalu punya batas waktu.

Ketika gema takbir telah mereda dan suasana kampung kembali sunyi, satu per satu harus kembali. Tas kembali dikemas. Pelukan kembali dilepas kali ini dengan berat yang berbeda.

Arus balik pun dimulai.

Jutaan orang kembali bergerak menuju Jakarta. Jalanan padat, stasiun sesak, terminal penuh. Tapi di balik itu semua, ada perasaan yang sulit dijelaskan antara enggan meninggalkan rumah dan terpaksa melangkah pergi.

Karena hidup harus terus berjalan.

Menariknya, perjalanan kembali ini seringkali tidak lagi sendiri. Ada tangan lain yang digandeng. Ada wajah baru yang ikut dalam rombongan. Saudara, teman, bahkan tetangga semuanya dibawa menuju kota yang sama, dengan harapan yang serupa.

Harapan untuk hidup yang lebih baik.

Begitulah cerita itu berulang, tahun demi tahun. Dari satu orang menjadi banyak. Dari satu mimpi menjadi puluhan. Sebuah rantai harapan yang tak pernah benar-benar putus.

Jakarta tetap berdiri sebagai tujuan.

Kota yang keras, bising, dan kadang terasa kejam namun selalu menjanjikan sesuatu. Di sana, orang percaya bahwa kesempatan itu ada, meski harus diperjuangkan mati-matian.

Di balik gedung-gedung tinggi dan lampu yang tak pernah padam, ada ribuan bahkan jutaan cerita tentang lelah, tentang gagal, tentang bangkit lagi keesokan harinya.

Tidak mudah hidup di sana.

Tapi entah kenapa, selalu ada alasan untuk bertahan.Mungkin karena mimpi belum selesai.
Mungkin karena keluarga di kampung masih menunggu.
Atau mungkin… karena pulang tanpa hasil terasa lebih menakutkan daripada bertahan dalam kesulitan.

Pada akhirnya, merantau bukan hanya tentang mencari uang.Ini adalah tentang rindu yang dipendam, tentang keberanian untuk pergi, dan tentang harapan yang terus dipelihara meski berkali-kali diuji.

Dan setiap kali Lebaran datang, cerita itu akan kembali hidup.

Dalam pelukan yang hangat.
Dalam air mata yang jatuh diam-diam.
Dan dalam langkah kaki yang, sekali lagi, harus pergi menjauh dari rumah… demi suatu hari bisa kembali dengan cerita yang lebih baik.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *