Jakarta – Budayantara.tv. Platform digital Budayantara kini tengah menjadi sorotan tajam. Pasalnya, sejumlah vendor dan mitra kerja mulai menyuarakan keluhan terkait ketidakjelasan sistem pembayaran serta model bisnis yang dianggap tidak konsisten dan merugikan pihak ketiga.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, platform ini dituding tidak melakukan pembayaran sesuai dengan kesepakatan awal yang telah dijanjikan kepada para penyedia jasa (vendor). Hal ini memicu keresahan, terutama bagi pelaku usaha yang telah mengalokasikan sumber daya namun tidak mendapatkan hak finansial sebagaimana mestinya.
Para mitra melaporkan adanya pola komunikasi yang tidak transparan dari pihak pengelola Budayantara. Beberapa poin utama yang menjadi keluhan antara lain:
- Ingkar Janji Pembayaran: Pembayaran yang terus diundur tanpa alasan yang jelas meski pekerjaan telah diselesaikan.
- Model Bisnis Ambigu: Ketidaksiapan sistem operasional yang mengakibatkan kerugian di sisi operasional vendor.
- Sulit Dihubungi: Pihak manajemen cenderung menutup diri atau memberikan jawaban normatif saat ditagih mengenai hak-hak mitra.
- Imbauan Bagi Masyarakat dan Pelaku Usaha
Menanggapi situasi ini, para pengamat industri digital mengimbau masyarakat dan calon vendor untuk lebih berhati-hati sebelum menjalin kerja sama dengan platform yang belum memiliki rekam jejak pembayaran yang sehat.
“Penting bagi setiap vendor untuk melakukan due diligence atau pengecekan latar belakang sebelum menandatangani kontrak digital. Jika sudah ada indikasi gagal bayar yang berulang, sebaiknya segera mengambil langkah hukum atau melaporkan ke otoritas terkait,” ujar salah satu praktisi hukum siber.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Budayantara belum memberikan klarifikasi resmi terkait tuduhan penipuan dan ketidakjelasan model bisnis yang dialamatkan kepada mereka. Masyarakat diminta tetap waspada dan mendokumentasikan seluruh bukti transaksi guna menghindari kerugian lebih lanjut. (C)




