Home / News / Aksiologi Gerakan Sadar Budaya Nusantara

Aksiologi Gerakan Sadar Budaya Nusantara

Oleh: Ustadz Ahmad Suhadi
(Pimpinan Ponpes Taswirul Afkar 26 Bogor)

Jakarta,- Budayantara.tv Kesadaran budaya bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan fondasi penting bagi masa depan bangsa. Inilah semangat yang digaungkan oleh Gerakan Sadar Budaya Nusantara, sebuah ikhtiar kolektif untuk mengembalikan jati diri bangsa Indonesia melalui penghayatan nilai-nilai luhur warisan leluhur.

Syamsul Arifin, yang akrab disapa Mas Djo, selaku salah satu inisiator gerakan ini, menegaskan bahwa kesadaran budaya hari ini harus digaungkan secara berkelanjutan. Menurutnya, upaya menghidupkan kembali semangat budaya Nusantara tidak boleh hanya didominasi oleh kalangan seniman dan budayawan semata. Lebih dari itu, gerakan ini harus menjadi kesadaran bersama lintas generasi, lintas profesi, lintas daerah, bahkan lintas agama.

Dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat Nusantara, Mas Djo meyakini bahwa bangsa ini akan mampu merefleksikan kembali warisan leluhur yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal. Leluhur bangsa Indonesia bukan hanya pewaris adat, tetapi juga para pejuang dan pencetus gagasan besar yang beradab, visioner, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

“Melalui gerakan sadar budaya, kita tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga mengembalikan jati diri masyarakat Indonesia. Dari sinilah kejayaan bangsa dapat dibangun kembali, khususnya melalui jalur kebudayaan,” ujar Mas Djo dengan penuh optimisme.

Pandangan senada juga disampaikan oleh Dominik, yang melihat gerakan sadar budaya dari perspektifnya sebagai seorang petani. Menurutnya, kesadaran budaya harus mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat, terutama dalam mengelola dan memanfaatkan potensi alam. Bahkan lahan tidur yang sempit sekalipun, jika dikelola dengan kesadaran dan kearifan, dapat menjadi sumber pemenuhan kebutuhan hidup dan bernilai ekonomi bagi keluarga.

“Menanam sayuran untuk kebutuhan sendiri adalah bentuk kemandirian budaya. Ketika hasilnya berlebih dan bernilai jual, itu menjadi berkah ekonomi yang lahir dari kesadaran budaya,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, penulis berpandangan bahwa Gerakan Sadar Budaya Nusantara tidak boleh tercerabut dari nilai spiritualitas. Kesadaran berbudaya harus dimaknai sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sekaligus ungkapan terima kasih kepada para leluhur. Bumi Indonesia dianugerahi kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, sehingga melahirkan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kesantunan, kebersamaan, dan kepedulian sosial.

Nilai-nilai itulah yang sejatinya telah diwariskan oleh para leluhur bangsa. Tugas kita hari ini adalah merawat, menghidupkan, dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, Gerakan Sadar Budaya Nusantara bukan hanya menjadi wacana, tetapi menjelma sebagai gerakan moral dan spiritual untuk membangun peradaban bangsa yang beradab, mandiri, dan bermartabat.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *