Lewati ke konten
13 Agustus 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung SejarahSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi TerpilihTokoh Pendidikan Merauke Soroti Keberlanjutan Pendidikan, Dorong Penguatan PKBM hingga Kepastian Guru Honorer
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Ketika Ingatan Bangsa Digusur: Surabaya dan Hilangnya Jejak Perlawanan
Budaya News

Ketika Ingatan Bangsa Digusur: Surabaya dan Hilangnya Jejak Perlawanan

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama4 Februari 20262 menit baca📍 Surabaya
Ketika Ingatan Bangsa Digusur: Surabaya dan Hilangnya Jejak Perlawanan - Budayantara TV

Surabaya — Budayantara.tv Kota Pahlawan perlahan kehilangan sebagian ingatannya. Bukan karena lupa, tetapi karena jejak sejarah yang seharusnya dijaga justru hilang satu per satu di tengah laju pembangunan. Ingatan kolektif bangsa yang tersimpan dalam warisan budaya, baik benda maupun nilai kian rapuh ketika kepentingan ekonomi lebih dominan daripada kebijaksanaan sejarah.

Surabaya menjadi cermin nyata persoalan ini. Kota yang menjadi simbol perlawanan rakyat Indonesia pada 10 November 1945, justru menyimpan ironi mendalam: bangunan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998, sempat dibongkar pada 2016. Padahal, bangunan tersebut merupakan saksi bisu perjuangan arek-arek Surabaya mempertahankan kedaulatan pascakemerdekaan.

Salah satu kehilangan paling menyakitkan adalah Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar Nomor 10 Surabaya. Dari tempat itulah pidato-pidato legendaris Bung Tomo disiarkan, membakar semangat rakyat untuk berani mati melawan penjajah. Bangunan itu bukan sekadar rumah, melainkan monumen keberanian rakyat sipil melawan kekuatan militer dunia.

Sebelum pembongkaran, lokasi ini rutin menjadi tujuan institusi media dan berbagai elemen bangsa setiap bulan November untuk mengenang peristiwa heroik 1945. Namun sejak bangunan itu lenyap, tak ada lagi ritual kenegaraan, tak ada lagi ruang fisik untuk menautkan generasi hari ini dengan sejarah perjuangan bangsa. Lahan tersebut kini tertutup rapat, bahkan memandangnya pun dianggap mencurigakan.

Kehilangan ini menyisakan kemarahan yang terpendam, terutama di kalangan pegiat sejarah dan budaya Surabaya. Bagi mereka, yang hilang bukan sekadar bangunan, melainkan simbol perlawanan, identitas, dan harga diri kota. Meski demikian, upaya membangkitkan kembali kesadaran kolektif terus dilakukan melalui diskusi, dokumentasi, dan gerakan kebudayaan.

Di tengah kekecewaan itu, pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional pemerintah pusat dan daerah menjadi penanda penting. Di hadapan seluruh kepala daerah se-Indonesia, Presiden secara tegas mengingatkan agar nilai-nilai sejarah di daerah masing-masing dijaga, bukan dirusak atau dihancurkan atas nama pembangunan.

Pidato tersebut mendapat sambutan luas dari berbagai lapisan masyarakat dari tukang becak hingga akademisi. Bagi warga Surabaya, pesan itu terasa sederhana namun menghantam nurani: sejarah bukan beban masa lalu, melainkan fondasi moral bangsa. Banyak yang menyamakan daya getarnya dengan pidato Bung Tomo yang dulu membakar semangat perlawanan rakyat.

Salah seorang warga Surabaya, Setia Budijanto, mengungkapkan kegelisahannya dengan nada getir. Ia menilai bangsa ini tengah berada pada titik krisis moral, ketika keteladanan nyaris tak tersisa di berbagai lini kepemimpinan. Baginya, menjaga sejarah adalah bagian dari upaya merebut kembali kedaulatan rakyat dan membangun bangsa yang beradab.

Surabaya hari ini berdiri di persimpangan jalan: melanjutkan pembangunan tanpa ingatan, atau melangkah maju dengan menghormati jejak perjuangan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang membangun gedung tinggi, tetapi yang mampu menjaga ingatan tentang keberanian warganya sendiri.

Cagar budaya Surabaya Prabowo Subianto
📍 Surabaya
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah - Budayantara TV
News Tokoh

Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah

13 Agustus 20264 menit baca

Situbondo, — Budayantara.tv Di tengah perjalanan panjang Nahdlatul Ulama (NU), ada sejumlah momentum yang tidak sekadar tercatat sebagai…

Sekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11 - Budayantara TV
News

Sekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11

13 Agustus 20262 menit baca

Jakarta,– Budayantara.tv Agustus 2026 menjadi bulan yang istimewa bagi keluarga besar SDN Kebayoran Lama Selatan 11. Di tengah…

Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih - Budayantara TV
News

Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih

26 Juli 20262 menit baca

Bogor – Budayantara.tv Suasana penuh kebersamaan mewarnai pemilihan Ketua RW 18 Duta Mekar Asri, Dusun VI, Desa Cileungsi…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Lagi Hangat

  1. Dialog NU & Civil SocietyTema: “Meneguhkan Peran Nahdlatul Ulama sebagai Pilar Civil Society Menjelang Muktamar NU ke-35”26 Juli 2026
  2. Kehidupan Suku Papua Pegunungan di Lembah Baliem – PAPUA4 Agustus 2025
  3. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  4. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  5. Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih26 Juli 2026

Rekomendasi untuk Anda

Ketika Ingatan Bangsa Digusur: Surabaya dan Hilangnya Jejak Perlawanan - Budayantara TVMuktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah
Ketika Ingatan Bangsa Digusur: Surabaya dan Hilangnya Jejak Perlawanan - Budayantara TVSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11
Ketika Ingatan Bangsa Digusur: Surabaya dan Hilangnya Jejak Perlawanan - Budayantara TVWarga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih
Ketika Ingatan Bangsa Digusur: Surabaya dan Hilangnya Jejak Perlawanan - Budayantara TVTokoh Pendidikan Merauke Soroti Keberlanjutan Pendidikan, Dorong Penguatan PKBM hingga Kepastian Guru Honorer
Ketika Ingatan Bangsa Digusur: Surabaya dan Hilangnya Jejak Perlawanan - Budayantara TVMPSI Perkuat Ketahanan Sosial Masyarakat Adat Papua, Peserta PKBM Wasur Dibekali Advokasi Non Litigasi dan Bantuan Pangan

Lokasi

📍 Jakarta 251📍 Bogor 17📍 Bekasi 13📍 Purwokerto 11📍 Pasuruan 11

Tetap Terhubung

Isi URL media sosial di Customizer atau tetapkan Menu Sosial.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber