Lewati ke konten
27 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat BeksiPENJARA KASTA​-Yang Kaya Ber-AC, Yang MiskinBerdesakanMenolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya MaestroIn-Memoriam
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Ketika Ingatan Bangsa Digusur: Surabaya dan Hilangnya Jejak Perlawanan
Budaya News

Ketika Ingatan Bangsa Digusur: Surabaya dan Hilangnya Jejak Perlawanan

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama4 Februari 20262 menit baca📍 Surabaya
Ketika Ingatan Bangsa Digusur: Surabaya dan Hilangnya Jejak Perlawanan - Budayantara TV

Surabaya — Budayantara.tv Kota Pahlawan perlahan kehilangan sebagian ingatannya. Bukan karena lupa, tetapi karena jejak sejarah yang seharusnya dijaga justru hilang satu per satu di tengah laju pembangunan. Ingatan kolektif bangsa yang tersimpan dalam warisan budaya, baik benda maupun nilai kian rapuh ketika kepentingan ekonomi lebih dominan daripada kebijaksanaan sejarah.

Surabaya menjadi cermin nyata persoalan ini. Kota yang menjadi simbol perlawanan rakyat Indonesia pada 10 November 1945, justru menyimpan ironi mendalam: bangunan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998, sempat dibongkar pada 2016. Padahal, bangunan tersebut merupakan saksi bisu perjuangan arek-arek Surabaya mempertahankan kedaulatan pascakemerdekaan.

Salah satu kehilangan paling menyakitkan adalah Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar Nomor 10 Surabaya. Dari tempat itulah pidato-pidato legendaris Bung Tomo disiarkan, membakar semangat rakyat untuk berani mati melawan penjajah. Bangunan itu bukan sekadar rumah, melainkan monumen keberanian rakyat sipil melawan kekuatan militer dunia.

Sebelum pembongkaran, lokasi ini rutin menjadi tujuan institusi media dan berbagai elemen bangsa setiap bulan November untuk mengenang peristiwa heroik 1945. Namun sejak bangunan itu lenyap, tak ada lagi ritual kenegaraan, tak ada lagi ruang fisik untuk menautkan generasi hari ini dengan sejarah perjuangan bangsa. Lahan tersebut kini tertutup rapat, bahkan memandangnya pun dianggap mencurigakan.

Kehilangan ini menyisakan kemarahan yang terpendam, terutama di kalangan pegiat sejarah dan budaya Surabaya. Bagi mereka, yang hilang bukan sekadar bangunan, melainkan simbol perlawanan, identitas, dan harga diri kota. Meski demikian, upaya membangkitkan kembali kesadaran kolektif terus dilakukan melalui diskusi, dokumentasi, dan gerakan kebudayaan.

Di tengah kekecewaan itu, pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional pemerintah pusat dan daerah menjadi penanda penting. Di hadapan seluruh kepala daerah se-Indonesia, Presiden secara tegas mengingatkan agar nilai-nilai sejarah di daerah masing-masing dijaga, bukan dirusak atau dihancurkan atas nama pembangunan.

Pidato tersebut mendapat sambutan luas dari berbagai lapisan masyarakat dari tukang becak hingga akademisi. Bagi warga Surabaya, pesan itu terasa sederhana namun menghantam nurani: sejarah bukan beban masa lalu, melainkan fondasi moral bangsa. Banyak yang menyamakan daya getarnya dengan pidato Bung Tomo yang dulu membakar semangat perlawanan rakyat.

Salah seorang warga Surabaya, Setia Budijanto, mengungkapkan kegelisahannya dengan nada getir. Ia menilai bangsa ini tengah berada pada titik krisis moral, ketika keteladanan nyaris tak tersisa di berbagai lini kepemimpinan. Baginya, menjaga sejarah adalah bagian dari upaya merebut kembali kedaulatan rakyat dan membangun bangsa yang beradab.

Surabaya hari ini berdiri di persimpangan jalan: melanjutkan pembangunan tanpa ingatan, atau melangkah maju dengan menghormati jejak perjuangan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang membangun gedung tinggi, tetapi yang mampu menjaga ingatan tentang keberanian warganya sendiri.

Cagar budaya Surabaya Prabowo Subianto
📍 Surabaya
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat Beksi - Budayantara TV
News

Mahasiswa UGM Penelitian di Kampung Wisata Budaya Pencak Silat Beksi

27 September 20261 menit baca

Jakarta – Budayantara.tv “Observasi dan wawancara hari ini, membuka wawasan baru mengenai keadaan esksisting wisata di Kampung Wisata…

Menolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro - Budayantara TV
News

Menolak Padam: Menjaga Mata Rantai Kesejarahan Melalui Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro

26 September 20265 menit baca

Solo,– Budayantara.tv Penerbitan naskah wayang orang dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkokoh struktur identitas kultural bangsa Indonesia. Melalui…

Selamat Jalan Mas Guruh, Putra Bung Karno yang Mengabdikan Hidupnya untuk Seni dan Kebudayaan - Budayantara TV
News

Selamat Jalan Mas Guruh, Putra Bung Karno yang Mengabdikan Hidupnya untuk Seni dan Kebudayaan

26 September 20263 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh yang perjalanan hidupnya lekat dengan seni, musik dan kebudayaan.…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber