Jakarta,- Budayantara.tv Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong diplomasi budaya Indonesia melampaui seremoni dengan membuka peluang kolaborasi konkret bersama Meksiko dan Georgia. Dua jalur strategis disiapkan: pengajuan bersama tradisi Semana Santa ke UNESCO serta penguatan kerja sama industri film lintas negara.
Dalam pertemuan dengan Duta Besar Meksiko untuk Indonesia, Fransisco de la Torre Galindo, di Gedung Kementerian Kebudayaan, Selasa (20/1/2026), Fadli menyoroti kemiripan perayaan Semana Santa di Larantuka, Flores, dengan tradisi Paskah yang hidup di berbagai negara Amerika Latin. Kesamaan historis dan praktik budaya tersebut dinilai memiliki potensi kuat untuk diajukan sebagai joint nomination Warisan Budaya Takbenda UNESCO, baik sebagai pencatatan baru maupun perluasan pengakuan lintas negara.
Menurut Fadli, pendekatan kolaboratif semacam ini mencerminkan diplomasi budaya yang dinamis dan relevan. “Tradisi yang hidup di lebih dari satu bangsa justru memperlihatkan nilai universal budaya. Di situlah diplomasi budaya bekerja secara nyata,” ujarnya.
Galindo menyambut baik gagasan tersebut dan menegaskan bahwa pengalaman Meksiko menunjukkan budaya berbasis komunitas mampu menjadi jembatan dialog yang efektif antarnegara, sekaligus memperkuat identitas bersama.
Selain Meksiko, Fadli juga membahas penguatan hubungan budaya dengan Georgia melalui dialog bersama Duta Besar Georgia untuk Indonesia, Tornike Nozadze. Ia menilai kerja sama kedua negara masih belum tergarap maksimal meskipun telah memiliki nota kesepahaman. Untuk itu, industri film dipilih sebagai sektor awal yang paling realistis dan berdampak luas.
Pihak Georgia mengusulkan berbagai bentuk kolaborasi, mulai dari pemutaran film secara timbal balik, keikutsertaan dalam festival internasional, hingga produksi film bersama dengan skema pendanaan kolaboratif. Georgian National Film Center pun menyatakan kesiapan mendukung kerja sama teknis antarlembaga. Tak hanya film, Georgia juga membuka peluang pertukaran seni tradisional, termasuk seni nyanyian polifonik khas Georgia yang telah diakui UNESCO.
Duta Besar Nozadze menekankan bahwa interaksi langsung antar masyarakat melalui budaya memiliki kekuatan diplomatik yang besar. “Kontak antarmanusia lewat seni dan budaya jauh lebih efektif dibandingkan sekadar pengenalan akademis atau geografis,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Fadli menegaskan bahwa film dapat menjadi pintu masuk utama bagi kolaborasi jangka panjang. Ia menyebut kerja sama dapat dimulai dari pemutaran dan festival film, lalu berkembang ke penulisan skenario hingga produksi bersama. “Skema pendanaan bersama, termasuk matching fund, sangat mungkin kita eksplorasi sebagai langkah lanjutan,” pungkasnya.




