Mojokerto — Budayantara.tv Di tengah hamparan sawah dan permukiman tenang Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, bumi seperti membuka rahasianya sendiri. Lapisan tanah yang terlelap selama berabad-abad tiba-tiba menguak keberadaan sebuah struktur raksasa bangunan bata berukuran tak lazim, parit keliling bak benteng istana, serta halaman luas bertingkat yang membentuk kompleks berukuran hampir satu hektare.
Inilah Situs Kumitir, sebuah kawasan purbakala yang kini disebut para arkeolog sebagai istana ajaib Majapahit. Sebutan yang terdengar puitis itu ternyata bukan sekadar kiasan. Temuan struktur megah yang muncul seolah utuh dari bawah tanah membuat para peneliti terperangah, menyebutnya “unik, misterius, dan seperti istana yang timbul dari perut bumi.”
Jejak Istana Bhre Wengker yang Hilang dalam Kabut Sejarah
Situs Kumitir diyakini sebagai bekas istana Bhre Wengker, tokoh penting dalam struktur kekuasaan Majapahit. Dugaan ini diperkuat oleh dua sumber: Naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca (1365) serta peta rekonstruksi para peneliti Belanda.
Meski tidak menyebut nama “Kumitir” secara langsung, Negarakertagama menggambarkan dengan rinci perjalanan Raja Hayam Wuruk ke kawasan timur Majapahit wilayah yang memiliki tembok besar, gerbang upacara, parit keliling, dan tempat pemujaan leluhur raja. Deskripsi itu ternyata cocok dengan temuan lapangan: talud bata raksasa, struktur berundak, serta lokasi yang berdekatan dengan Candi Gentong, sebuah titik penting dalam ritual kerajaan.
Keselarasan antara teks sastra abad ke-14 dan bukti arkeologis membuat para peneliti yakin: Kumitir adalah bagian dari kompleks suci Majapahit, khususnya terkait istana ajaib Bhre Wengker dan Bhre Daha, dua bangsawan tinggi yang memainkan peran penting pada masa Tribhuwana Tunggadewi.
Istana untuk Mencegah Perebutan Takhta
Catatan sejarah menyebutkan, istana Bhre Wengker dibangun pada masa Tribhuwana Tunggadewi, tak lama setelah wafatnya Jayanegara, raja kedua Majapahit. Tujuan pembangunannya bukan semata arkitektur megah, tetapi juga strategi politik. Istana itu digunakan untuk mencegah terjadinya perebutan kekuasaan antara Tribhuwana dengan adiknya sendiri, Bhre Daha.
Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim menemukan teknik pembangunan gerbang yang menunjukkan betapa megahnya struktur masa lalu itu menegaskan bahwa Kumitir bukan sekadar permukiman, melainkan pusat kekuasaan dan ritual dalam jantung kerajaan.
Tempat Pendarmaan Mahesa Cempaka
Selain istana, Kumitir juga dipercaya sebagai tempat pendarmaan Mahesa Cempaka, tokoh penting keturunan Ken Arok dan Ken Dedes, sekaligus leluhur Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Mahesa Cempaka wafat pada 1268 M, dan area Kumitir menjadi tempat penghormatan atas jasa-jasanya sebagai pemimpin kerajaan bawahan Singosari.
Istana Ajaib yang Muncul dari Tanah
Kini, setiap lapisan tanah yang tersingkap di Kumitir membuka bab demi bab sejarah Majapahit. Bata-batanya yang berukuran jauh lebih besar daripada standar Majapahit, parit keliling raksasa, hingga halaman luas berpola istana ritual, semuanya seakan membisikkan kembali kejayaan masa lalu.
Situs ini bukan hanya tinggalan arkeologi—ia adalah saksi bisu perjalanan politik, spiritual, dan budaya bangsa. Sebuah istana ajaib yang selama ratusan tahun tertidur, lalu bangkit kembali membawa kisah Majapahit ke permukaan.
Dan kini, Kumitir tidak lagi sekadar nama desa. Ia telah menjelma menjadi gerbang baru untuk memahami kebesaran salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.**




