Home / News / Program Jumat Berkah Wartawan : Mari Kita Belajar Tentang Rasa Lapar Dari para Pemulung

Program Jumat Berkah Wartawan : Mari Kita Belajar Tentang Rasa Lapar Dari para Pemulung

Bekasi – Budayantara.tv Mari kita belajar tentang rasa lapar dari para pemulung. Mereka mengajarkan kepada kita untuk menghargai setiap makanan dan kesempatan.

Sebagian besar dari mereka bahkan mengaku bisa makan adalah kemewahan yang harus diperjuangkan dengan sangat keras.

Seperti pengakuan Nasiah Putri, salah satu pemulung binaan Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, dia dan anak-anaknya seringkali harus menahan lapar.

Penghasilannya dari mengumpulkan rongsok dan barang bekas jauh dari cukup untuk sekedar bisa makan. Untuk makan sederhana sekalipun.

“Dulu kita bebas blusukan cari barang bekas. Sekarang kita sulit bergerak. Pemulung makin banyak, sampah sedikit. Sejak pandemi Covid-19 harga jual hasil pulungan turun,” ujar Nasiah Putri.

Kondisi tersebut, lanjut Nasiah, membuat dia dan keluarganya sering menahan lapar. Keluarga pemulung ini mengajarkan kepada kita tentang resilience (ketahanan), prioritas hidup, dan perjuangan bagaimana keluar dari kesulitan ekonomi dan lepas dari jerat kemiskinan.

Kondisi ini pula yang membuat kehadiran Tim PJBW (Program Jumat Berkah Wartawan) disambut suka cita oleh mereka. Melalui kegiatan kali ini Tim PJBW membagikan 100 boks nasi dan 100 botol air mineral.

Sejak di sekretariat Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, di Perumahan Kranggan Permai Jatisampurna Kota Bekasi, pembagian nasi boks dan air mineral disambut antusias oleh para pemulung.

Setelah itu, Tim PJBW diwakili wartawan senior Kelana Muda (Penasehat PJBW), serta didampingi Eddie Karsito, Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, bergerak mendatangi para pemulung di sepanjang jalan Transyogi Cibubur Jakarta – Cileungsi Bogor.

Di sepanjang jalan raya provinsi tersebut Tim PJBW kembali membagikan nasi boks dan air mineral kepada para pemulung, Jum’at (05/12/2025).

“Kisah mereka adalah pengingat kuat bahwa rasa lapar bukan hanya soal perut kosong, tetapi juga tentang keberanian menghadapi kekurangan demi harapan yang lebih besar,” ujar Kelana Muda, menanggapi spirit hidup para pemulung yang tetap semangat bertahan hidup dalam kemiskinan.

250 Pemulung Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan

Berdasarkan data Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, lebih dari 250 pemulung yang menjadi binaan lembaga nirlaba ini melakukan aktivitas sosial ekonomi di kawasan perbatasan antara wilayah Bekasi, Bogor, Depok Provinsi Jawa Barat, dan Cibubur Jakarta Timur ini.

Para pemulung ini terbagi dalam dua kategori, yaitu pemulung penduduk asli warga Kranggan Jatisampurna dan warga Cimanggis Depok dan Bogor. Kemudian para pemulung urban (pendatang) yang datang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera.

Pemulung penduduk asli warga Kranggan Jatisampurna umumnya mereka memiliki rumah sendiri walau sederhana. Sementara pemulung pendatang ada yang tinggal di bawah kolong jembatan kali Sunter perbatasan Kota Depok dan Kota Bekasi.

“Ada juga yang tinggal di atas tanah makam Tarikolot Jatisampurna, Sebagian yang lain tinggal dikontrakan murah yang kadang jika tidak bisa membayar kontrakan tepat waktu diusir sama pemilik kontrakan. Mereka akhirnya tinggal di jalanan,” terang Eddie Karsito.

Jika dari hasil mengumpulkan rongsokan tidak memadai, tak jarang mereka bekerja serabutan. Antara lain jadi tukang parkir, mengamen, dan bahkan menjadi badut jalanan.

Orangtua Pemulung Anak Tetap Sekolah

Seorang ibu pemulung seperti Sarwina, rela mengorbankan kebutuhan diri, bahkan tidak makan, demi memastikan anak-anaknya bisa sekolah dan kelak harapannya memiliki masa depan lebih baik.

Sejak ditinggal mati suaminya enam tahun lalu, ia harus menghidupi tiga anaknya sendiri dengan profesi sebagai pemulung. Dengan pendapatan pas-pasan dia harus membuat prioritas bahwa pendidikan anak-anaknya ditempatkan di atas segala-galanya.

Hal ini membuat Sarwina mencari cara kreatif, seperti sekolah gratis agar anak-anaknya tetap bisa belajar, meski harus dicukupi seadanya. Anak-anaknya juga menunjukkan tekad luar biasa untuk tidak terperangkap dalam lingkaran kemiskinan.

“Percaya bahwa dengan ilmu, nasib bisa diubah. Walau kadang makan seadanya dari pemberian orang yang berbelas kasih kepada mereka,” ujar Eddie Karsito menceritakan kisi-kisi hidup keluarga pemulung binaannya.

Eddie Karsito mengatakan, dunia dewasa ini lapar tidak saja soal perut, tapi lapar akan kasih, lapar untuk dicintai. Kemiskinan, kata dia, tidak hanya kurang makan, tetapi lebih dari itu, kemiskinan yang mengerikan soal martabat manusia.

“Kita perlu mencintai dan menjadi pribadi bagi sesama yang lain. Kemiskinan diantaranya muncul karena persoalan ketidak-adilan, ketamakan yang mengekang. Kita gagal membangun solidaritas. Kita perlu lebih banyak gerakan solidaritas seperti Program Jumat Berkah Wartawan ini,” tegas Eddie Karsito./***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *