Lewati ke konten
29 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Kementerian Kebudayaan Terima IKB Jabodetabek dan BMDN, Budayantara Fest 2026 Didorong Jadi Ruang Kolaborasi BudayaAgung Hermawan Hadirkan “Atas Nama Siapa?”, Lagu Galau tentang Cinta, Batas, dan Keberanian untuk PergiNobar Indonesia vs Malaysia, Bebek Habibeat Hadirkan Suasana Kuliner dan KebersamaanLima Buku untuk Lima Abad Jakarta, Ketika Literasi Betawi Berjuang dari Kantong Pribadi
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Menguak Jejak Kiai Tapa: Sang Revolusioner dari Gunung Munara dalam Silaturahmi Budaya di Tangerang
Budaya News

Menguak Jejak Kiai Tapa: Sang Revolusioner dari Gunung Munara dalam Silaturahmi Budaya di Tangerang

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama10 September 20254 menit baca
Menguak Jejak Kiai Tapa: Sang Revolusioner dari Gunung Munara dalam Silaturahmi Budaya di Tangerang - Budayantara TV

Tangerang,— Budayantara.Di sebuah sore yang hangat di wilayah Pinang, Tangerang,Rabu (10/9/2025). jagung rebus, singkong, dan segelas bir pletok menjadi saksi perbincangan yang mengalir penuh makna. Di tengah kudapan khas Betawi itu, komunitas pegiat sejarah dan budaya berkumpul dalam sebuah silaturahmi sederhana namun sarat nilai. Kami dari Budayantara merasa ini adalah momen emas ketika jejak sejarah dan warisan budaya disatukan oleh cerita, kenangan, dan cita-cita luhur.

Pertemuan ini mempertemukan kami dengan sosok istimewa Enni Suryani Djiran, keturunan langsung dari Kiai Tapa, seorang tokoh penting dalam sejarah perjuangan Banten. Hadir pula Kang Bayu, budayawan Tangerang; Japra, pegiat budaya Betawi; serta Abdul Azziz, pelaku seni budaya yang dikenal aktif dalam pelestarian kesenian Betawi. Bersama Satria komunitas Pegiat Sejarah Ciledug, pertemuan ini menjadi ruang reflektif akan pentingnya mengenang dan merawat warisan perjuangan para leluhur.

Kiai Tapa: Dari Petapa Hingga Penggerak Revolusi

Di tengah perbincangan, nama Kiai Tapa mencuat menjadi pusat perhatian. Enni Suryani berbagi bahwa kini ia tengah mengusulkan nama leluhurnya itu untuk diangkat sebagai Pahlawan Nasional — langkah yang dinilai sangat layak, mengingat jasa dan pengaruh besar Kiai Tapa dalam sejarah perlawanan terhadap VOC di Banten dan sekitarnya.

Namun, siapa sebenarnya Kiai Tapa?

Menurut sejumlah sumber sejarah, termasuk catatan dari sejarawan Jepang A. Ota (2008), Kiai Tapa adalah tokoh kompleks dengan latar yang tidak sepenuhnya tunggal. Sebagian menyebutnya sebagai seorang sufi dan mursyid tarekat yang menjalani tapa (bertapa) di Gunung Munara, wilayah Rumpin, Bogor. Sebagian lain, berdasarkan data lapangan dan laporan VOC, mengungkap bahwa sosok ini bukan sekadar petapa, melainkan tokoh revolusioner politik yang menyamar demi keselamatan dan pergerakan strategis.

Nama asli Kiai Tapa diyakini adalah Anus Ahat, seorang pemimpin pemberontakan yang berafiliasi dengan Pangeran Arif Gusti pada 1746. Setelah pemberontakan gagal dan dikejar pasukan VOC, ia melarikan diri ke Gunung Munara dan mengukuhkan diri sebagai tokoh spiritual yang kharismatik.

Namun di balik jubah pertapaannya, Kiai Tapa merancang sebuah revolusi.

Benturan Ideologi dan Perlawanan terhadap Penjajah

Salah satu fakta menarik yang diungkap dalam diskusi adalah bahwa Kiai Tapa memiliki pengaruh besar hingga ke lingkungan istana dan rakyat bawah. Dalam sebuah surat yang ia kirim kepada Sultan Banten dan Gubernur Jenderal Belanda di Batavia, Kiai Tapa secara tegas menuntut pengusiran VOC dari tanah Banten. Ia menyatakan bahwa tanah Batavia (Jakarta) merupakan warisan leluhur, bukan milik penjajah Eropa. Lebih jauh lagi, ia menegaskan bahwa umat Islam telah diperbudak oleh sistem kolonial Belanda.

Target utama pergerakan Kiai Tapa adalah pembebasan Batavia dan Banten dari cengkeraman VOC serta pengembalian hak-hak atas tanah dan kepemimpinan kepada pewaris sejati Nusantara. Sikap ini menunjukkan bahwa Kiai Tapa bukan sekadar tokoh spiritual, tetapi juga seorang nasionalis visioner jauh sebelum istilah itu dikenal.

Kharisma dan Militansi yang Menakutkan VOC

Kisah-kisah yang diceritakan Kang Bayu dan Japra menegaskan bahwa militansi pengikut Kiai Tapa sangatlah luar biasa. Seorang tentara VOC, Jan Frans du Chardien, melaporkan bahwa pasukan Kiai Tapa yang kebanyakan orang Sunda, memiliki semangat perang dan loyalitas yang tinggi. Mereka lebih memilih mati di medan tempur daripada menyerah kepada penjajah. Komandan VOC di Banten bahkan mencatat betapa terkejutnya mereka dengan kegigihan perlawanan ini.

Salah satu catatan menyebut bahwa Kiai Tapa tinggal di semacam istana sederhana, ditemani puluhan pelayan wanita dan dijaga ketat oleh para pengawal. Tidak sembarang orang bisa mendekat. Ia menjadi semacam “mesias lokal” pemimpin spiritual dan politik dalam satu sosok.

Warisan yang harus Diakui Secara Nasional

Saat ini, perjuangan Enni Suryani untuk mengangkat Kiai Tapa sebagai Pahlawan Nasional masih dalam proses. Ia mengumpulkan dokumen, testimoni, dan dukungan akademik agar sejarah Kiai Tapa bisa diangkat dari “pinggiran buku sejarah” menjadi narasi utama perjuangan bangsa.

“Kiai Tapa bukan hanya milik Banten, tapi milik bangsa Indonesia,” ujar Enni penuh semangat.

Kota Tangerang, Bukan Hanya Kota Satelit

Kang Bayu menambahkan dimensi yang menarik dalam diskusi sore itu. Menurutnya, Kota Tangerang bukan sekadar kota penyangga Jakarta. Kota ini menyimpan jejak sejarah panjang, dari jalur perdagangan, benteng pertahanan VOC, hingga basis-basis perlawanan rakyat lokal. Banyak situs sejarah di Tangerang yang belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah maupun masyarakat luas.

Japra menambahkan, “Kita harus menjaga cerita-cerita lokal ini. Jangan sampai hilang digilas zaman.”ujarnya.

Menjaga Nyala Api Sejarah

Pertemuan ini mungkin sederhana, namun maknanya sangat dalam. Ia menunjukkan betapa pentingnya ruang-ruang dialog antar generasi untuk menjaga api sejarah tetap menyala. Di tengah kemajuan zaman dan derasnya arus modernisasi, mengenang tokoh seperti Kiai Tapa adalah bagian dari upaya kita menghormati masa lalu agar kita tidak kehilangan arah di masa depan.

Silaturahmi budaya ini pun ditutup dengan harapan yang sama: agar sejarah tidak hanya menjadi catatan, tapi menjadi inspirasi.**

Kyai Tapa Sejarah Tangerang
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Kementerian Kebudayaan Terima IKB Jabodetabek dan BMDN, Budayantara Fest 2026 Didorong Jadi Ruang Kolaborasi Budaya - Budayantara TV
Budaya Event News

Kementerian Kebudayaan Terima IKB Jabodetabek dan BMDN, Budayantara Fest 2026 Didorong Jadi Ruang Kolaborasi Budaya

29 September 20262 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Persiapan Budayantara Fest 2026 memasuki tahap penguatan kolaborasi dengan pemerintah. Ikatan Keluarga Besar (IKB) Jabodetabek…

Agung Hermawan Hadirkan “Atas Nama Siapa?”, Lagu Galau tentang Cinta, Batas, dan Keberanian untuk Pergi - Budayantara TV
Musik News

Agung Hermawan Hadirkan “Atas Nama Siapa?”, Lagu Galau tentang Cinta, Batas, dan Keberanian untuk Pergi

28 September 20262 menit baca

Jakarta, — Budayantara. TV Tidak semua kisah cinta berakhir dengan bahagia. Ada hubungan yang justru meninggalkan luka, tekanan,…

Nobar Indonesia vs Malaysia, Bebek Habibeat Hadirkan Suasana Kuliner dan Kebersamaan - Budayantara TV
News

Nobar Indonesia vs Malaysia, Bebek Habibeat Hadirkan Suasana Kuliner dan Kebersamaan

28 September 20262 menit baca

Jakarta — Budayantara.tv Pertandingan Indonesia vs Malaysia pada Senin malam (28/9/2026) menjadi momentum bagi para pencinta sepak bola…

1 tanggapan

  1. Agus wirawan 10 September 2025 · 22:05

    Alhamdulillah…semoga berjalan dgn lancar ..sosok kiai Tapa banyak orang yg tidak faham siapa sebenarnya kiai Tapa ?..dan apa perjuangan nya…

    TautanReply

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber