Rembang — Budayantara.tv Sebuah permintaan sederhana dari pelanggan ternyata mampu mengubah perjalanan hidup Sri Pontianik (48). Perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai tenaga penjualan dan reseller produk fashion ini tidak pernah membayangkan bahwa tugas mencarikan kain batik justru akan membawanya menjadi pengusaha batik dengan rumah produksi sendiri dan puluhan karyawan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Kisah itu bermula ketika seorang pelanggan memintanya mencarikan Batik Juwana di kawasan Lasem. Saat itu, Sri mengaku sama sekali belum mengenal dunia batik. Namun, perjumpaan pertamanya dengan motif Batik Juwana justru membuatnya jatuh cinta. Ketertarikan yang datang tanpa direncanakan tersebut perlahan mengubah arah perjalanan hidupnya.
Pada usia 36 tahun, Sri mengambil keputusan besar untuk beralih profesi dari bidang penjualan fashion dan mulai menekuni usaha batik. Tanpa pengalaman sebelumnya di bidang tersebut, ia mulai membangun usaha dari ketertarikannya terhadap keindahan motif dan kekayaan budaya yang terkandung dalam selembar kain batik.
Dua belas tahun berselang, keputusan itu membuahkan hasil. Sri kini telah memiliki rumah produksi sendiri dengan merek Batik Pulo Mas, yang mempekerjakan 25 karyawan, serta toko yang menjadi basis usahanya di Kabupaten Rembang. Dari seseorang yang awalnya bahkan tidak mengenal batik, ia tumbuh menjadi pelaku ekonomi kreatif yang turut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Namun, perjalanan membangun dan mempertahankan Batik Pulo Mas bukan tanpa tantangan. Di tengah persaingan dengan produk batik pabrikan yang dapat diproduksi secara massal, perajin batik tulis harus terus menjaga kualitas dan keunikan karyanya. Perkembangan perdagangan digital melalui e-commerce dan media sosial juga menuntut pelaku usaha untuk beradaptasi dengan perubahan cara masyarakat mencari, memilih, dan membeli produk.
Bagi Sri, tantangan tersebut menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan usaha yang telah dirintisnya selama lebih dari satu dekade. Di tengah persaingan industri dan perubahan pasar yang semakin cepat, ia terus berupaya menjaga keberlangsungan Batik Pulo Mas, termasuk mempertahankan lapangan pekerjaan bagi 25 karyawannya.
Pengalaman panjang sebagai pelaku usaha tidak membuat Sri berhenti belajar. Ia menjadi salah satu dari 30 peserta yang mengikuti Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) dan Sertifikasi Kompetensi Skema Pembatik Tulis pada 3–5 November 2026 di Kabupaten Rembang.
Bertempat di area ruang kreatif Kompleks Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, kegiatan ini menjadi bagian dari Program Aktivasi Creative Hub yang mendorong pemanfaatan ruang-ruang kreatif sebagai tempat belajar, berkarya, dan berkolaborasi. Melalui kegiatan ini, ruang kreatif diharapkan tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya komunitas, tetapi juga wadah pengembangan talenta dan penguatan ekosistem ekonomi kreatif daerah.
Melalui pelatihan tersebut, Sri bersama peserta lainnya memperoleh pembekalan mengenai teknik pembatikan tulis yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Materi mencakup pemeriksaan kain, pembuatan pola, penerapan malam menggunakan canting, hingga pemeriksaan kualitas hasil pembatikan. Pembelajaran ini diarahkan untuk meningkatkan keterampilan dan konsistensi kualitas karya sesuai standar profesi.
Pelatihan dilanjutkan dengan uji sertifikasi kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Batik Indonesia yang berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sertifikasi menjadi kesempatan bagi para pembatik untuk memperoleh pengakuan formal atas keterampilan yang selama ini mereka tekuni, sekaligus memperkuat profesionalisme dan daya saing dalam industri kreatif.
Di tengah perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang kini dapat membantu pengembangan desain dan motif, keterampilan tangan manusia tetap menjadi bagian penting dalam menjaga karakter batik tulis. Ketelitian, pengalaman, dan kreativitas yang dituangkan melalui setiap goresan canting menjadi nilai tersendiri yang membedakan batik tulis dari produk hasil produksi massal.
Kisah Sri menunjukkan bahwa perjalanan membangun usaha kreatif tidak selalu berawal dari pengetahuan atau pengalaman di bidang yang sama. Dari ketertarikan yang muncul secara tidak sengaja, ia berhasil membangun Batik Pulo Mas menjadi sumber penghidupan bagi 25 karyawannya. Namun, mempertahankan pencapaian tersebut juga menuntut kemauan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Dari seorang reseller fashion yang awalnya hanya diminta mencarikan kain batik, Sri kini telah memiliki rumah produksi sendiri. Di tengah persaingan dengan produk pabrikan dan perkembangan pasar digital, ia terus berupaya mempertahankan usahanya. Perjalanannya menjadi gambaran bahwa menjaga warisan budaya bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga tentang kemampuan beradaptasi agar usaha dan penghidupan masyarakat di dalamnya terus berlanjut.
Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif melalui Pusat Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif ini merupakan bagian dari Program Aktivasi Creative Hub yang mendorong pemanfaatan ruang-ruang kreatif sebagai wadah pembelajaran, pengembangan kompetensi, dan kolaborasi bagi pelaku ekonomi kreatif. Melalui aktivasi ruang kreatif di daerah, talenta dan pelaku usaha lokal diharapkan dapat terus mengembangkan potensi, memperluas jejaring, serta meningkatkan daya saing, sehingga ruang kreatif tidak hanya menjadi tempat berkarya, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.*
(Bang Kelana)




