Lewati ke konten
30 September 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Gerakan 30 September, Ketika Bangsa Indonesia Belajar Membaca Ulang Sejarah‎JANGAN BIARKAN SEJARAH PERFILMAN HILANG BERSAMA DEBU‎‎‎FMM Kemenbud‎”Ketika Negara Mulai Belajar Mendengar Kebudayaan”Kementerian Kebudayaan Terima IKB Jabodetabek dan BMDN, Budayantara Fest 2026 Didorong Jadi Ruang Kolaborasi Budaya
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/‎JANGAN BIARKAN SEJARAH PERFILMAN HILANG BERSAMA DEBU‎‎
Artikel

‎JANGAN BIARKAN SEJARAH PERFILMAN HILANG BERSAMA DEBU‎‎

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama30 September 20266 menit baca
‎JANGAN BIARKAN SEJARAH PERFILMAN HILANG BERSAMA DEBU‎‎ - Budayantara TV

‎Nyo Han Siang dan Ingatan yang Hampir Hilang

‎Oleh: Adisurya Abdy (Sutradara)
‎
Jakarta,- Budayantara.tv Ada sesuatu yang menarik dari tanggal 30 September.
‎Setiap tahun, Inter Studio memperingati wafatnya Nyo Han Siang, seorang tokoh yang pernah menanamkan sebagian penting hidupnya dalam perkembangan industri film Indonesia.
‎
‎Acara itu mungkin sederhana. Tidak ada karpet merah. Tidak ada panggung megah. Tidak pula hiruk-pikuk selebritas.
‎Namun justru di situlah letak maknanya.
‎Sebab yang sebenarnya sedang dipertemukan bukan sekadar orang-orang film.
‎
‎Yang sedang dipertemukan adalah ingatan.
‎Ingatan tentang sebuah zaman ketika film Indonesia dibangun bukan dengan teknologi digital, streaming, artificial intelligence, atau kamera yang berada di dalam telepon genggam, melainkan dengan seluloid, laboratorium, mesin editing, studio, tenaga teknis, dan manusia-manusia yang bekerja dengan kesabaran luar biasa.
‎
‎Pada 30 September itu, di Inter Studio, Rudy Sanyoto sebagai tuan rumah mempertemukan lintas generasi perfilman. Hadir antara lain Harry Simon, Deddy Mizwar, Gusti Randa, Kiki Nates dari KFT, Steven Takatan dari Film Toronto, Sandy dari PPFI, Nazarudin Siradz dari GASFI, Evry Jo, Musa dari dunia studio post-production, Sonny P dari YPPHUI, Faozan Zidni dari BPI, Nini L. Karim, serta saya sendiri sebagai pegiat perfilman.
‎
‎Kehadiran Deddy Mizwar memberikan warna tersendiri dalam pertemuan tersebut. Ia bukan sekadar aktor yang dikenal luas masyarakat, tetapi juga merupakan bagian dari perjalanan panjang perfilman Indonesia, seorang pelaku yang mengalami sendiri perubahan zaman, dari industri film konvensional hingga era digital, dari pernah menjadi pengurus parfi masa Ratno Timur, Ketua BP2N, Wakil Gubernur Jabar, hingga sd saat ini Ketua Umum PPFI.
‎
‎Karena itu, ketika generasi dengan pengalaman yang berbeda duduk dalam satu ruang, sesungguhnya yang terjadi bukan sekadar silaturahmi.
‎Sebuah sejarah sedang berbicara dengan masa kini.
‎
‎Nyo Han Siang dan Sebuah Jejak yang Tidak Boleh Hilang
‎Nyo Han Siang memiliki jejak penting dalam sejarah perfilman Indonesia.
‎Inter Studio di Pasar Minggu dikenal sebagai bagian dari sejarah fasilitas laboratorium film yang melayani proses pencucian dan pencetakan film pada masa perkembangan industri perfilman Indonesia.
‎
‎Dari sinilah kita memahami bahwa sejarah film bukan hanya sejarah sutradara, aktor atau judul film.
‎Ada sejarah teknologi.
‎Ada sejarah laboratorium.
‎Ada sejarah studio.
‎Ada sejarah produser.
‎Ada sejarah pekerja film.
‎Ada sejarah distribusi dan bioskop.
‎Dan semuanya saling berhubungan.
‎Karena itu, ketika kita berbicara tentang Nyo Han Siang, sesungguhnya kita sedang membuka sebuah pintu menuju sejarah yang jauh lebih besar.
‎
‎Sejarah ekosistem perfilman Indonesia.
‎Museum Nyo Han Siang dan Ingatan yang Hampir Hilang
‎Dalam pertemuan tersebut, muncul kembali gagasan Ninik L. Karim tentang Museum Nyo Han Siang.
‎Gagasan ini menurut saya tidak boleh berhenti sebagai nostalgia.
‎Museum bukan sekadar tempat menyimpan foto lama, kamera tua, poster usang, atau benda-benda yang sudah tidak digunakan.
‎Kalau hanya menyimpan benda, kita mungkin sedang membuat gudang.
‎Museum perfilman harus menjadi tempat di mana sebuah bangsa membaca kembali perjalanan dirinya melalui film.
‎Nyo Han Siang dapat menjadi pintu masuk untuk itu.
‎
‎Dari Inter Studio kita berbicara mengenai laboratorium film.
‎Dari laboratorium kita berbicara tentang teknologi.
‎Dari teknologi kita masuk ke produksi.
‎Dari produksi kita bertemu produser, sutradara, penulis, aktor dan pekerja teknis.
‎Kemudian kita sampai pada studio, distributor dan bioskop.
‎Akhirnya kita memahami satu hal:
‎Film bukan sekadar tontonan. Film adalah dokumen peradaban.
‎Jangan Sampai Generasi Berikutnya Hanya Mengenal Judulnya
‎Yang paling mengkhawatirkan bukan ketika sebuah film lama tidak lagi diputar.
‎Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kita tidak lagi tahu bahwa film itu pernah ada.
‎
‎Generasi muda sekarang mengenal film melalui platform digital. Mereka mengenal aktor baru, sutradara baru, serial baru dan berbagai bentuk konten baru.
‎Itu merupakan perkembangan yang wajar dan harus diterima.
‎Tetapi mereka juga perlu mengetahui bahwa sebelum kamera digital, sebelum streaming, sebelum artificial intelligence dan sebelum editing non-linear, ada generasi yang bekerja dengan seluloid dan laboratorium.
‎Mereka perlu mengetahui:
‎Siapa yang membangun infrastrukturnya?
‎Siapa yang mencuci filmnya?
‎Siapa yang mencetaknya?
‎Siapa yang mengeditnya?
‎Siapa yang mendistribusikannya?
‎Siapa yang mempertunjukkannya?
‎Siapa yang bekerja di balik layar?
‎Dan siapa yang mempertaruhkan modalnya agar film Indonesia tetap dapat dibuat?
‎Inter Studio adalah bagian dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.
‎Museum Harus Menjadi Museum yang Hidup
‎
‎Karena itu, Museum Nyo Han Siang sebaiknya tidak dibangun hanya sebagai museum benda.
‎Ia harus menjadi museum hidup.
‎Di dalamnya dapat disimpan foto produksi, skenario, poster, kamera, peralatan laboratorium, mesin editing, dokumen produksi, surat-menyurat, piala, arsip perusahaan, potongan film, film dalam berbagai format, dan berbagai artefak yang berkaitan dengan perjalanan industri film Indonesia.
‎
‎Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih penting:
‎kesaksian manusia.
‎Rekaman wawancara para sutradara.
‎Kesaksian aktor.
‎Cerita produser.
‎Pengalaman pekerja teknis.
‎Cerita para pemilik studio.
‎Pengalaman distributor.
‎Cerita orang-orang bioskop.
‎Dan suara para pelaku yang pernah mengalami sendiri sebuah zaman.
‎Sebab waktu tidak pernah menunggu.
‎Orang-orang yang mengetahui sejarah itu satu demi satu pergi.
‎Kalau kesaksian mereka tidak direkam sekarang, beberapa tahun lagi kita mungkin hanya mempunyai nama tanpa cerita.
‎Dan ketika cerita hilang, sejarah perlahan berubah menjadi legenda.
‎
‎Dari Nyo Han Siang ke Masa Depan Perfilman
‎Ada satu hal yang menurut saya sangat menarik dari pertemuan 30 September di Inter Studio.
‎Orang-orang yang hadir tidak hanya berbicara tentang masa lalu.
‎Mereka juga berbicara tentang masa depan perfilman Indonesia.
‎Di situlah pertemuan sederhana tersebut memperoleh makna yang lebih besar.
‎Nyo Han Siang jangan hanya menjadi alasan untuk menoleh ke belakang.
‎Ia harus menjadi alasan untuk bertanya:
‎Ke mana perfilman Indonesia akan kita bawa setelah ini?
‎Dunia film telah berubah.
‎Seluloid berhadapan dengan digital.
‎Bioskop berhadapan dengan streaming.
‎Televisi berhadapan dengan platform digital.
‎Produksi konvensional berhadapan dengan artificial intelligence.
‎Dan generasi yang tumbuh dengan seluloid kini duduk berdampingan dengan generasi yang sejak lahir sudah hidup bersama layar digital.
‎
‎Tetapi ada satu hal yang tidak berubah:
‎film tetap membutuhkan manusia.
‎Manusia yang mempunyai gagasan.
‎Manusia yang mempunyai keberanian.
‎Manusia yang mau mengambil risiko.
‎Dan manusia yang bersedia menjaga ingatan.
‎
‎Tidak Harus Menunggu Negara
‎Mungkin kita tidak harus selalu menunggu negara membangun sebuah museum.
‎Tidak harus menunggu seremoni besar.
‎Tidak harus menunggu anggaran yang sempurna.
‎
‎Kadang sebuah institusi kebudayaan lahir dari kegelisahan beberapa orang yang merasa:
‎“Kalau bukan kita yang menyelamatkan sejarah ini sekarang, siapa lagi?”
‎Karena itu, gagasan Nini L. Karim patut dibawa satu langkah lebih jauh.
‎Bukan sekadar:
‎MUSEUM NYO HAN SIANG.
‎Tetapi mungkin suatu hari dapat berkembang menjadi:
‎MUSEUM PERFILMAN INDONESIA
‎BERAWAL DARI INTER STUDIO DAN WARISAN NYO HAN SIANG
‎Nyo Han Siang menjadi salah satu pintunya.
‎Inter Studio menjadi salah satu titik sejarahnya.
‎Para sineas menjadi saksi hidupnya.
‎Para pelaku industri menjadi sumber kesaksiannya.
‎Dan generasi muda menjadi pewarisnya.
‎Sejarah Tidak Boleh Mati Karena Kita Lupa
‎Sebuah bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membuat film-film baru.
‎
‎Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai orang-orang yang membuat film-film itu dan menjaga jejak sejarah yang memungkinkan semuanya terjadi.
‎Bayangkan suatu hari seorang anak muda masuk ke Museum Nyo Han Siang.
‎Ia melihat sebuah mesin laboratorium tua.
‎Ia bertanya:
‎“Mesin apa ini?”
‎Kemudian seseorang menjawab:
‎“Dulu, dengan mesin seperti ini, film-film Indonesia diproses.”
‎Anak itu terdiam.
‎Lalu ia bertanya lagi:
‎“Siapa yang mengerjakannya?”
‎Pada saat itulah museum menemukan maknanya.
‎Sebab sejarah bukan benda mati.
‎Sejarah hidup ketika generasi berikutnya bertanya.
‎Dan mungkin itulah makna terdalam pertemuan sederhana pada 30 September di Inter Studio.
‎Bukan sekadar mengenang Nyo Han Siang.
‎Bukan sekadar mengenang Inter Studio.
‎Bukan pula sekadar mempertemukan para pelaku film dari berbagai generasi termasuk Deddy Mizwar dan tokoh-tokoh lain yang hadir.
‎Melainkan menyadarkan kita semua bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang dipertaruhkan:
‎ingatan perfilman Indonesia.
‎Jangan sampai sejarah itu hilang bersama debu.
‎Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal nama-nama tanpa mengetahui perjuangannya.
‎Jangan sampai benda-benda sejarah masih ada, tetapi manusia dan cerita di baliknya telah lenyap.
‎
‎Karena pada akhirnya, menyelamatkan sejarah perfilman bukan hanya menyelamatkan masa lalu.
‎Kita sedang menyelamatkan identitas kebudayaan untuk masa depan.
‎Dan mungkin, dari sebuah pertemuan kecil pada 30 September di Inter Studio, sebuah gagasan besar sedang mulai menemukan bentuknya.
‎Sebuah museum.
‎Sebuah arsip.
‎Sebuah sejarah.
‎Dan sebuah amanat untuk generasi berikutnya.

‎

WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Gerakan 30 September, Ketika Bangsa Indonesia Belajar Membaca Ulang Sejarah - Budayantara TV
Artikel

Gerakan 30 September, Ketika Bangsa Indonesia Belajar Membaca Ulang Sejarah

30 September 20264 menit baca

Oleh : Masdjo Arifin -Founder Budayantara Media Digital Nusantara- (BMDN) Jakarta, — Budayantara.tv Setiap akhir September, ada satu…

‎FMM Kemenbud‎”Ketika Negara Mulai Belajar Mendengar Kebudayaan” - Budayantara TV
Artikel

‎FMM Kemenbud‎”Ketika Negara Mulai Belajar Mendengar Kebudayaan”

29 September 20266 menit baca

Oleh : PATFI (Perkumpulan Tenaga Ahli Televisi dan Film Indonesia) ‎Ada satu perubahan penting dalam cara negara memandang…

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar? - Budayantara TV
Artikel

Palestina dan Media: Siapa yang Bersuara, Siapa yang Didengar?

27 September 20263 menit baca

Saat Budaya dan Framing Media Menjadi Ruang Analisis Kasus Macklemore dan Ed Sheeran Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo)…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber