GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM
- Mengenang Putra Bung Karno dan Sang Maestro Kebudayaan Nusantara (1953–2026)
Oleh: M. Guntur Alting/Dewan Pembina DPW SWI JAYA – DKI Jakarta
Jakarta – Budayantara.tv Tiba-tiba saja berita itu datang. Guruh Soekarnoputra dipanggil Yang Maha Kuasa.
Banyak yang kaget, banyak yang berduka, terutama warga banteng. PDIP kehilangan salah satu pejuang partai dan sosok Marhaenis sejati.
Tapi bagi saya, Guruh itu sosok yang unik. Ia putra Proklamator, anak bungsu Bung Karno dan Ibu Fatmawati. Lahir dari keluarga yang menentukan jalan sejarah bangsa ini.
Kalau mau, Guruh bisa saja memilih jalur politik yang garang. Jadi ketua partai, berburu jabatan menteri, atau sibuk manuver di panggung kekuasaan.
Tapi Guruh tidak memilih jalan itu.
Ia memilih jalan budaya. Jalan yang sering dianggap sepi oleh para politisi, tapi justru paling membekas di hati rakyat.
-000-
Ada baris sejarah yang selalu ditulis dengan tinta emas, tetapi ada pula yang dipahat dengan irama, peluh, dan kecintaan yang sunyi pada tanah air.
Guruh Soekarnoputra adalah kisah tentang yang kedua: seorang anak zaman yang melangkah di antara bayang-bayang raksasa ayahnya, lalu menenun jalannya sendiri lewat musik, tarian, dan kesetiaan pada cita-cita kerakyatan.
Jika Bung Karno menggerakkan jutaan massa dengan retorika yang membakar dari atas podium, Guruh menyentuh jiwa bangsa dari balik panggung seni.
Melalui “Swara Maharddhika,” ia tidak sekadar menyajikan pertunjukan tarian atau gubahan nada; ia sedang memancangkan kembali identitas keindonesiaan.
Di saat banyak anak muda berpaling pada kebudayaan Barat, Guruh membawa gamelan, kain Nusantara, dan gerak tari tradisi menjadi sesuatu yang anggun, megah, sekaligus membanggakan.
Bagi Guruh, Marhaenisme bukan sekadar teori ekonomi-politik yang berdebu di dalam perpustakaan. Ia menghidupkan Marhaenisme sebagai napas kebudayaan.
Bahwa mencintai wong kecil berarti juga menghargai akar budaya tempat mereka berpijak.
Lagu-lagu ciptaannya—mulai dari Melati Suci hingga Zamrud Khatulistiwa—adalah muatan rasa tentang tanah air yang elok, merdeka, dan bermartabat.
Di panggung politik bersama PDI Perjuangan, Guruh memilih menjadi penjaga “nyala api.” Ia bukan tipe politisi yang gemar bersilat kata atau berburu tampuk jabatan.
Kehadirannya di parlemen adalah penanda konsistensi: sebuah pengingat bahwa di dalam tubuh pergerakan politik, ruh kebudayaan dan nilai kemanusiaan tidak boleh dilepaskan.
Ia berpolitik dengan keheningan dan kebenigan, tetapi teguh pada garis perjuangan.
Kini, “sang maestro” itu telah merampungkan gubahan terakhirnya. Guruh Soekarnoputra pulang menyusul jejak sang ayah dan ibunda, meninggalkan warisan mahakarya yang akan terus bergema.
Kita tidak hanya kehilangan seorang tokoh partai atau anak Sang Proklamator, tetapi seorang penjaga kebudayaan yang pernah membuat Indonesia bangga pada dirinya sendiri.
Kini Guruh sudah tidak ada. Tapi gubahannya, tariannya, dan semangat Marhaenismenya akan terus hidup.
Selamat jalan, Mas Guruh.




