Jakarta,— Budayantara.tv Jember bukan sekadar kabupaten di ujung timur Jawa Timur. Di balik hamparan perkebunan, lereng pegunungan, hingga garis pantai selatan yang menghadap Samudera Hindia, tersimpan jejak sejarah panjang yang mempertemukan budaya lokal, kolonialisme, dan tumbuhnya industri perkebunan.Kabupaten Jember saat ini memiliki 31 kecamatan, 22 kelurahan, dan 226 desa. Wilayahnya membentang dari kawasan lereng Pegunungan Yang dan Gunung Argopura hingga pesisir selatan. Sebagian wilayahnya juga bersinggungan dengan kawasan Taman Nasional Meru Betiri.Namun, jauh di balik perkembangan Jember sebagai daerah modern, terdapat kisah lama yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya: dari mana sebenarnya nama Jember berasal?Salah satu kisah yang berkembang menghubungkan nama Jember dengan perjalanan Raja Hayam Wuruk, penguasa Majapahit.Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Hayam Wuruk pernah melakukan perjalanan menuju Bondowoso, Situbondo hingga Puger. Ketika rombongan kerajaan tiba di Puger, perjalanan mereka disebut terhambat kondisi jalan yang becek.Dalam bahasa Jawa, kondisi tersebut disebut “jembrek”.Dari kata itulah kemudian muncul cerita bahwa kawasan tersebut kelak dikenal dengan nama Jember. Puger sendiri kini menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Jember.Meski demikian, kisah tersebut merupakan salah satu versi yang berkembang mengenai toponimi Jember. Asal-usul sebuah nama tentu tidak bisa dilepaskan dari penelitian sejarah, bahasa, arsip, serta tradisi tutur masyarakat.1 Januari 1929, Tonggak Berdirinya Kabupaten JemberSecara administratif, sejarah Kabupaten Jember memasuki babak penting pada masa pemerintahan Hindia Belanda.Penataan pemerintahan di Jawa Timur dituangkan melalui Staatsblad Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928. Ketentuan tersebut mulai berlaku pada 1 Januari 1929, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Jember.Namun, jauh sebelum terbentuk sebagai pemerintahan kabupaten, wilayah Jember telah mengalami perubahan besar akibat berkembangnya perkebunan pada abad ke-19.Perkebunan tembakau dan berbagai komoditas lainnya secara perlahan mengubah lanskap ekonomi dan sosial masyarakat. Dari sinilah Jember kemudian dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah perkebunan dan tembakau di Jawa Timur.Dalam perjalanan tersebut, nama George Bernie kerap disebut sebagai salah satu figur penting.George Bernie dan Jejak Kota TembakauGeorge Bernie dikaitkan dengan perkembangan kawasan Jember sebagai wilayah perkebunan sejak sekitar pertengahan abad ke-19.Perkembangan perkebunan kemudian membawa perubahan besar. Lahan-lahan pertanian berkembang menjadi kawasan perkebunan, aktivitas ekonomi meningkat, dan Jember perlahan membangun identitasnya sebagai salah satu daerah penghasil tembakau.Tetapi di balik nama George Bernie, terdapat sosok perempuan yang jejaknya justru tersimpan dalam kesunyian sebuah makam tua.Namanya Djemilah Bernie.Makamnya berada di wilayah Desa Suger Lor, Kecamatan Maesan, di jalur Jember-Bondowoso, tidak jauh dari kawasan SPBU Maesan dan Polsek Maesan.Makam Tua di Tengah PersawahanUntuk menemukan makam Djemilah Bernie tidaklah mudah.Tidak tampak papan penunjuk besar dari jalan raya. Pengunjung harus bertanya kepada masyarakat sekitar untuk mengetahui keberadaannya.Dari tepi jalan, makam tersebut berada di tengah pematang sawah. Perjalanan berjalan kaki hanya membutuhkan beberapa menit.Namun, suasana di sekitar makam justru memperlihatkan betapa panjangnya waktu yang telah berlalu.Rumput liar dan semak belukar tumbuh di sekitar kompleks makam. Di antara pepohonan kamboja, berdiri sebuah batu nisan berukuran besar dan tinggi dengan nuansa arsitektur Eropa yang kuat.Pada batu nisan itu terukir tulisan:“Hier Rust Djemilah Birnie, Geb: 30 Juni 1845. Overl: 14 April 1906.”Jika diterjemahkan, tulisan tersebut berarti:“Di sini beristirahat Djemilah Bernie, lahir 30 Juni 1845, wafat 14 April 1906.”Sebuah kalimat sederhana, tetapi menyimpan pertanyaan sejarah yang panjang.Siapakah Djemilah Bernie?Mengapa seorang perempuan pribumi menggunakan nama keluarga Bernie?Dan bagaimana sebenarnya hubungan Djemilah dengan keluarga Bernie?Djemilah Bernie, Istri George atau David Gerhard Bernie?Sejumlah versi sejarah berkembang mengenai identitas Djemilah Bernie.Ada versi yang menyebutkan Djemilah merupakan istri George Bernie. Jika benar, kisah tersebut menjadi menarik karena memperlihatkan hubungan perkawinan antara perempuan pribumi dan warga Eropa pada masa kolonial.Namun, terdapat pula versi lain yang menyebutkan bahwa Djemilah bukan istri George Bernie.Eddie Karsito, pegiat seni budaya sekaligus Founder Humaniora Foundation, menyebut bahwa sosok Djemilah Bernie memiliki keterkaitan dengan cerita mengenai asal-usul Jember.Versi lain dalam penelusuran sejarah juga menyebut Djemilah menikah dengan David Gerhard Bernie, yang memiliki hubungan keluarga dengan George Bernie.Sementara George Bernie disebut menikah dengan Rabina.Perbedaan informasi tersebut menunjukkan bahwa kisah Djemilah Bernie masih membutuhkan penelusuran lebih jauh melalui arsip kolonial, dokumen perkawinan, catatan keluarga, maupun sumber sejarah lainnya.Dengan kata lain, Djemilah Bernie bukan sekadar nama di atas batu nisan. Ia adalah sebuah pintu masuk menuju pertanyaan yang lebih besar mengenai hubungan masyarakat pribumi dan keluarga Eropa di kawasan perkebunan Jawa pada abad ke-19.Djemilah dan Misteri Nama “Djember”Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah munculnya tafsir yang menghubungkan nama Djemilah dan Bernie dengan asal-usul nama Jember.“Djem” dari Djemilah dan “Bernie” dari nama keluarga Bernie kemudian dirangkai menjadi Djember.Tafsir tersebut tentu menarik secara cerita, tetapi belum dapat diposisikan sebagai fakta sejarah yang telah terbukti secara definitif.Ia lebih tepat disebut sebagai salah satu versi atau hipotesis toponimi yang berkembang dalam penelusuran sejarah lokal.Namun, terlepas dari benar atau tidaknya hubungan tersebut, nama Bernie memang memiliki jejak dalam sejarah perkembangan Jember sebagai kawasan perkebunan.Di titik inilah kisah Djemilah menjadi menarik.Sebuah nama perempuan yang nyaris terlupakan justru muncul kembali ketika masyarakat mencoba membaca ulang sejarah lahirnya sebuah daerah.Sejarah yang Terlupakan di Tengah SawahIronisnya, makam yang menyimpan kisah sejarah tersebut kini justru tersembunyi di tengah persawahan.Tidak ada penanda besar. Tidak ada papan informasi yang menjelaskan siapa Djemilah Bernie dan mengapa makam tersebut penting.Padahal, makam tua seperti ini dapat menjadi sumber berharga bagi penelitian sejarah lokal.Batu nisan bukan sekadar penanda kematian. Di dalamnya terdapat identitas, tanggal, bahasa, simbol budaya, dan jejak hubungan sosial masyarakat pada suatu masa.Makam Djemilah Bernie dapat menjadi titik awal untuk menggali lebih jauh sejarah hubungan antara masyarakat pribumi dengan keluarga Eropa, perkembangan perkebunan, serta perubahan sosial yang terjadi di kawasan Jember dan Bondowoso pada masa kolonial.Jember dan Sejarah yang Belum SelesaiJember hari ini telah tumbuh menjadi daerah penting di Jawa Timur dengan kekayaan pertanian, perkebunan, perdagangan, pendidikan, pariwisata dan kebudayaan.Namun, wajah Jember hari ini tidak muncul begitu saja.Ada perjalanan panjang yang membentuknya.Ada Hayam Wuruk dengan kisah “jembrek”.Ada perkebunan yang mengubah lanskap ekonomi.Ada George Bernie yang namanya melekat dalam sejarah perkembangan perkebunan.Dan ada Djemilah Bernie, seorang perempuan yang namanya masih bertahan di atas batu nisan tua di tengah persawahan Suger Lor.“Hier Rust Djemilah Birnie.”Di sini Djemilah beristirahat.Tetapi sejarah tentang dirinya belum benar-benar selesai.Sebab terkadang, sejarah tidak berteriak dari gedung-gedung besar atau monumen megah.Ia justru berbisik dari sebuah makam tua yang nyaris terlupakan.Dan dari bisikan itulah, sebuah daerah seperti Jember kembali mengingat bahwa setiap nama memiliki cerita, setiap batu memiliki jejak, dan setiap jejak masa lalu layak ditelusuri agar tidak hilang ditelan zaman.
Kabupaten Jember saat ini memiliki 31 kecamatan, 22 kelurahan, dan 226 desa. Wilayahnya membentang dari kawasan lereng Pegunungan Yang dan Gunung Argopura hingga pesisir selatan. Sebagian wilayahnya juga bersinggungan dengan kawasan Taman Nasional Meru Betiri.
Namun, jauh di balik perkembangan Jember sebagai daerah modern, terdapat kisah lama yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya: dari mana sebenarnya nama Jember berasal?
Salah satu kisah yang berkembang menghubungkan nama Jember dengan perjalanan Raja Hayam Wuruk, penguasa Majapahit.
Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Hayam Wuruk pernah melakukan perjalanan menuju Bondowoso, Situbondo hingga Puger. Ketika rombongan kerajaan tiba di Puger, perjalanan mereka disebut terhambat kondisi jalan yang becek.
Dalam bahasa Jawa, kondisi tersebut disebut “jembrek”.
Dari kata itulah kemudian muncul cerita bahwa kawasan tersebut kelak dikenal dengan nama Jember. Puger sendiri kini menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Jember.
Meski demikian, kisah tersebut merupakan salah satu versi yang berkembang mengenai toponimi Jember. Asal-usul sebuah nama tentu tidak bisa dilepaskan dari penelitian sejarah, bahasa, arsip, serta tradisi tutur masyarakat.
1 Januari 1929, Tonggak Berdirinya Kabupaten Jember
Secara administratif, sejarah Kabupaten Jember memasuki babak penting pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Penataan pemerintahan di Jawa Timur dituangkan melalui Staatsblad Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928. Ketentuan tersebut mulai berlaku pada 1 Januari 1929, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Jember.
Namun, jauh sebelum terbentuk sebagai pemerintahan kabupaten, wilayah Jember telah mengalami perubahan besar akibat berkembangnya perkebunan pada abad ke-19.
Perkebunan tembakau dan berbagai komoditas lainnya secara perlahan mengubah lanskap ekonomi dan sosial masyarakat. Dari sinilah Jember kemudian dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah perkebunan dan tembakau di Jawa Timur.
Dalam perjalanan tersebut, nama George Bernie kerap disebut sebagai salah satu figur penting.
George Bernie dan Jejak Kota Tembakau
George Bernie dikaitkan dengan perkembangan kawasan Jember sebagai wilayah perkebunan sejak sekitar pertengahan abad ke-19.
Perkembangan perkebunan kemudian membawa perubahan besar. Lahan-lahan pertanian berkembang menjadi kawasan perkebunan, aktivitas ekonomi meningkat, dan Jember perlahan membangun identitasnya sebagai salah satu daerah penghasil tembakau.
Tetapi di balik nama George Bernie, terdapat sosok perempuan yang jejaknya justru tersimpan dalam kesunyian sebuah makam tua.
Namanya Djemilah Bernie.
Makamnya berada di wilayah Desa Suger Lor, Kecamatan Maesan, di jalur Jember-Bondowoso, tidak jauh dari kawasan SPBU Maesan dan Polsek Maesan.
Makam Tua di Tengah Persawahan
Untuk menemukan makam Djemilah Bernie tidaklah mudah.
Tidak tampak papan penunjuk besar dari jalan raya. Pengunjung harus bertanya kepada masyarakat sekitar untuk mengetahui keberadaannya.
Dari tepi jalan, makam tersebut berada di tengah pematang sawah. Perjalanan berjalan kaki hanya membutuhkan beberapa menit.
Namun, suasana di sekitar makam justru memperlihatkan betapa panjangnya waktu yang telah berlalu.
Rumput liar dan semak belukar tumbuh di sekitar kompleks makam. Di antara pepohonan kamboja, berdiri sebuah batu nisan berukuran besar dan tinggi dengan nuansa arsitektur Eropa yang kuat.
Pada batu nisan itu terukir tulisan:
“Hier Rust Djemilah Birnie, Geb: 30 Juni 1845. Overl: 14 April 1906.”
Jika diterjemahkan, tulisan tersebut berarti:
“Di sini beristirahat Djemilah Bernie, lahir 30 Juni 1845, wafat 14 April 1906.”
Sebuah kalimat sederhana, tetapi menyimpan pertanyaan sejarah yang panjang.
Siapakah Djemilah Bernie?
Mengapa seorang perempuan pribumi menggunakan nama keluarga Bernie?
Dan bagaimana sebenarnya hubungan Djemilah dengan keluarga Bernie?
Djemilah Bernie, Istri George atau David Gerhard Bernie?
Sejumlah versi sejarah berkembang mengenai identitas Djemilah Bernie.
Ada versi yang menyebutkan Djemilah merupakan istri George Bernie. Jika benar, kisah tersebut menjadi menarik karena memperlihatkan hubungan perkawinan antara perempuan pribumi dan warga Eropa pada masa kolonial.
Namun, terdapat pula versi lain yang menyebutkan bahwa Djemilah bukan istri George Bernie.
Eddie Karsito, pegiat seni budaya sekaligus Founder Humaniora Foundation, menyebut bahwa sosok Djemilah Bernie memiliki keterkaitan dengan cerita mengenai asal-usul Jember.
Versi lain dalam penelusuran sejarah juga menyebut Djemilah menikah dengan David Gerhard Bernie, yang memiliki hubungan keluarga dengan George Bernie.
Sementara George Bernie disebut menikah dengan Rabina.
Perbedaan informasi tersebut menunjukkan bahwa kisah Djemilah Bernie masih membutuhkan penelusuran lebih jauh melalui arsip kolonial, dokumen perkawinan, catatan keluarga, maupun sumber sejarah lainnya.
Dengan kata lain, Djemilah Bernie bukan sekadar nama di atas batu nisan. Ia adalah sebuah pintu masuk menuju pertanyaan yang lebih besar mengenai hubungan masyarakat pribumi dan keluarga Eropa di kawasan perkebunan Jawa pada abad ke-19.
Djemilah dan Misteri Nama “Djember”
Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah munculnya tafsir yang menghubungkan nama Djemilah dan Bernie dengan asal-usul nama Jember.
“Djem” dari Djemilah dan “Bernie” dari nama keluarga Bernie kemudian dirangkai menjadi Djember.
Tafsir tersebut tentu menarik secara cerita, tetapi belum dapat diposisikan sebagai fakta sejarah yang telah terbukti secara definitif.
Ia lebih tepat disebut sebagai salah satu versi atau hipotesis toponimi yang berkembang dalam penelusuran sejarah lokal.
Namun, terlepas dari benar atau tidaknya hubungan tersebut, nama Bernie memang memiliki jejak dalam sejarah perkembangan Jember sebagai kawasan perkebunan.
Di titik inilah kisah Djemilah menjadi menarik.
Sebuah nama perempuan yang nyaris terlupakan justru muncul kembali ketika masyarakat mencoba membaca ulang sejarah lahirnya sebuah daerah.
Sejarah yang Terlupakan di Tengah Sawah
Ironisnya, makam yang menyimpan kisah sejarah tersebut kini justru tersembunyi di tengah persawahan.
Tidak ada penanda besar. Tidak ada papan informasi yang menjelaskan siapa Djemilah Bernie dan mengapa makam tersebut penting.
Padahal, makam tua seperti ini dapat menjadi sumber berharga bagi penelitian sejarah lokal.
Batu nisan bukan sekadar penanda kematian. Di dalamnya terdapat identitas, tanggal, bahasa, simbol budaya, dan jejak hubungan sosial masyarakat pada suatu masa.
Makam Djemilah Bernie dapat menjadi titik awal untuk menggali lebih jauh sejarah hubungan antara masyarakat pribumi dengan keluarga Eropa, perkembangan perkebunan, serta perubahan sosial yang terjadi di kawasan Jember dan Bondowoso pada masa kolonial.
Jember dan Sejarah yang Belum Selesai
Jember hari ini telah tumbuh menjadi daerah penting di Jawa Timur dengan kekayaan pertanian, perkebunan, perdagangan, pendidikan, pariwisata dan kebudayaan.
Namun, wajah Jember hari ini tidak muncul begitu saja.
Ada perjalanan panjang yang membentuknya.
Ada Hayam Wuruk dengan kisah “jembrek”.
Ada perkebunan yang mengubah lanskap ekonomi.
Ada George Bernie yang namanya melekat dalam sejarah perkembangan perkebunan.
Dan ada Djemilah Bernie, seorang perempuan yang namanya masih bertahan di atas batu nisan tua di tengah persawahan Suger Lor.
“Hier Rust Djemilah Birnie.”
Di sini Djemilah beristirahat.
Tetapi sejarah tentang dirinya belum benar-benar selesai.
Sebab terkadang, sejarah tidak berteriak dari gedung-gedung besar atau monumen megah.
Ia justru berbisik dari sebuah makam tua yang nyaris terlupakan.
Dan dari bisikan itulah, sebuah daerah seperti Jember kembali mengingat bahwa setiap nama memiliki cerita, setiap batu memiliki jejak, dan setiap jejak masa lalu layak ditelusuri agar tidak hilang ditelan zaman.





