Purwokerto, – Budayantara.tv Deru mesin balap Astra Honda Dream Cup (AHDC) kembali mengguncang aspal Sirkuit GOR Satria Purwokerto, Minggu (16/8/2026). Namun, di balik sengitnya persaingan para pebalap, ada suguhan berbeda yang menghadirkan warna budaya lokal Banyumas.
Di tengah riuh suara mesin dan sorak ribuan penonton, Sanggar Panginyongan Purwokerto tampil membawa identitas budaya Banyumas melalui sajian tari. Sanggar yang dipimpin Randhi Haryaningtyastomo itu menjadi bagian dari atmosfer AHDC seri kedua, mempertemukan energi olahraga otomotif dengan kekayaan seni tradisi.
Ribuan pasang mata memadati kawasan GOR Satria untuk menyaksikan rangkaian perlombaan yang menghadirkan total 12 kelas. Ajang ini juga menjadi ruang pembibitan talenta muda melalui program Astra Honda Racing School.
Salah satu kelas yang menyedot perhatian adalah AHDC 5, kategori Honda Vario Evo 160 Standard Pemula. Skutik yang identik dengan mobilitas masyarakat sehari-hari itu menjelma menjadi tunggangan kompetitif yang harus ditaklukkan para pebalap muda di lintasan.

Namun, AHDC kali ini tidak hanya berbicara tentang kecepatan.
Kehadiran Sanggar Panginyongan menghadirkan pesan bahwa sebuah ajang olahraga modern juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan jati diri daerah. Deru mesin dan gerak tari bertemu dalam satu panggung, menciptakan perpaduan antara semangat kompetisi dan kekayaan budaya Banyumas.
Randhi Haryaningtyastomo mengatakan, kehadiran seni tradisi di tengah ajang balap menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan budaya Panginyongan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Balap dan seni sebenarnya bisa berjalan bersama. Ketika anak-anak muda datang menyaksikan balapan, mereka juga bisa mengenal seni dan budaya daerahnya. Ini menjadi ruang untuk mempertemukan kreativitas, olahraga, dan identitas budaya,” ujar Randhi.
Menurutnya, budaya tidak harus selalu hadir dalam ruang pertunjukan konvensional. Justru ketika seni ditempatkan di ruang publik yang dinamis dan dekat dengan generasi muda, pesan kebudayaan dapat lebih mudah diterima.
Penampilan Sanggar Panginyongan pun menjadi warna tersendiri di tengah atmosfer AHDC. Jika di lintasan para pebalap beradu cepat mengejar posisi terbaik, di luar lintasan para seniman membawa energi yang berbeda: menjaga tradisi agar tetap hidup, dekat, dan relevan dengan zaman.
AHDC seri kedua di Purwokerto akhirnya bukan sekadar perhelatan otomotif. Ia menjadi pertemuan dua energi—kecepatan di lintasan dan kebudayaan di panggung.
Dari Banyumas, pesan itu terasa sederhana namun kuat: kemajuan tidak harus meninggalkan akar budaya. Justru ketika deru mesin bertemu gerak tari, sebuah daerah dapat menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas mampu berjalan beriringan.**




