Situbondo, — Budayantara.tv Di tengah perjalanan panjang Nahdlatul Ulama (NU), ada sejumlah momentum yang tidak sekadar tercatat sebagai agenda organisasi, tetapi menjadi tonggak penting yang ikut menentukan arah perjalanan bangsa. Salah satunya adalah Muktamar ke-27 NU di Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, pada 8–12 Desember 1984.
Muktamar tersebut menjadi istimewa karena berlangsung di lingkungan pesantren—ruang yang sejak awal menjadi jantung kehidupan NU. Di tempat yang sarat tradisi keilmuan Islam itu, para ulama dan peserta muktamar membicarakan masa depan organisasi sekaligus merumuskan arah NU menghadapi perubahan zaman.
NU pada hakikatnya merupakan organisasi keagamaan yang tumbuh dari tradisi pesantren dengan para kiai sebagai figur sentralnya. Bahkan, pesantren dan NU kerap digambarkan memiliki hubungan yang begitu erat: pesantren sebagai NU dalam skala kecil, sementara NU menjadi pesantren dalam skala besar.
Hubungan tersebut bukan sekadar simbolik. Tradisi keilmuan, penghormatan kepada ulama, kehidupan bermasyarakat, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan menjadi modal penting yang membuat NU mampu bertahan melewati berbagai fase sejarah Indonesia.
Seperti dikemukakan dalam kajian tentang tradisi pesantren, kekuatan NU tidak dapat dilepaskan dari peran para kiai yang memiliki kepekaan sosial sekaligus penghormatan kuat terhadap tradisi. Di tengah perubahan politik dan sosial yang terus bergerak, tradisi tersebut menjadi jangkar yang menjaga NU tetap memiliki identitas.
Sukorejo dan Babak Baru NU
Muktamar ke-27 di Sukorejo dikenang sebagai salah satu muktamar paling bersejarah dalam perjalanan NU. Salah satu keputusan terpentingnya adalah NU kembali kepada Khittah 1926, yang menegaskan kembali jati diri NU sebagai organisasi sosial-keagamaan dan tidak lagi menjadi partai politik.
Keputusan tersebut menjadi titik balik yang sangat penting. NU memilih kembali menempatkan kiprahnya pada bidang keagamaan, pendidikan, sosial, kebudayaan, serta pemberdayaan masyarakat.
Dalam konteks politik Orde Baru ketika itu, keputusan tersebut bukan perkara sederhana. Namun, NU menunjukkan bahwa organisasi keagamaan tidak harus kehilangan pengaruh sosial hanya karena tidak menjadi kekuatan politik praktis.
Justru dari sinilah lahir ruang baru bagi NU untuk memperkuat basis masyarakat sipil.
Muktamar Sukorejo juga menjadi momentum penting karena NU menerima Pancasila sebagai asas organisasi, sebuah keputusan yang menandai kemampuan NU membaca konteks kebangsaan dan menempatkan kehidupan beragama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dari Pesantren untuk Bangsa
Ada hal lain yang membuat Muktamar Sukorejo begitu berkesan: kembalinya tradisi muktamar ke pesantren.
Setelah sebelumnya banyak kegiatan muktamar berlangsung di hotel atau gedung pertemuan, Sukorejo menjadi penanda bahwa pesantren kembali ditempatkan sebagai ruang utama perhelatan organisasi.
Tradisi tersebut kemudian berlanjut dalam sejarah Muktamar NU berikutnya di sejumlah pesantren besar, antara lain Krapyak, Cipasung, hingga Lirboyo.
Pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Ia merupakan ruang pembentukan karakter, tempat bertemunya ilmu, tradisi, kebudayaan, pengabdian sosial, dan kehidupan kebangsaan.
Karena itu, ketika muktamar kembali digelar di pesantren, NU seperti sedang menegaskan kembali dari mana ia berasal dan kepada siapa ia mengabdikan dirinya.
Lahirnya Kepemimpinan Gus Dur
Muktamar ke-27 juga menjadi semakin bersejarah karena untuk pertama kalinya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, sementara KH Achmad Siddiq terpilih sebagai Rais Aam PBNU.
Duet kepemimpinan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan NU dan sejarah Indonesia.
Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang memiliki pemikiran luas mengenai demokrasi, pluralisme, kemanusiaan, dan kebangsaan. Sementara KH Achmad Siddiq dikenal sebagai ulama yang memiliki pemikiran kuat mengenai hubungan Islam, Pancasila, dan kehidupan berbangsa.
Kepemimpinan keduanya membawa NU memasuki babak baru. Khittah 1926 tidak berhenti sebagai keputusan muktamar, tetapi menjadi pijakan bagi NU untuk memperluas pengabdian di tengah masyarakat.
Warisan Sukorejo
Kini, lebih dari empat dekade setelah Muktamar ke-27, jejak sejarah Sukorejo tetap relevan untuk direnungkan.
Muktamar tersebut mengajarkan bahwa organisasi yang besar bukanlah organisasi yang selalu berada dalam pusaran kekuasaan, melainkan organisasi yang mampu menjaga akar, membaca perubahan, dan tetap hadir di tengah masyarakat.
Sukorejo juga mengingatkan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam perjalanan bangsa. Di sana tradisi tidak dipertentangkan dengan perubahan. Tradisi menjadi fondasi untuk menghadapi masa depan.
Muktamar ke-27 NU di Sukorejo bukan sekadar peristiwa organisasi. Ia adalah cerita tentang keberanian mengambil arah, menjaga tradisi, merawat kebangsaan, dan meneguhkan kembali pesantren sebagai salah satu sumber kekuatan masyarakat Indonesia.
Dari Sukorejo, NU menatap masa depan dengan kembali kepada akar.
Dan dari akar itulah, sejarah panjang NU terus tumbuh.




