Lewati ke konten
13 Agustus 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Indonesia Melangkah, Generasi Bersuara: GBN 2026 Gaungkan Semangat KemerdekaanMuktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung SejarahSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah
News Tokoh

Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama13 Agustus 20264 menit baca
Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah - Budayantara TV

Situbondo, — Budayantara.tv Di tengah perjalanan panjang Nahdlatul Ulama (NU), ada sejumlah momentum yang tidak sekadar tercatat sebagai agenda organisasi, tetapi menjadi tonggak penting yang ikut menentukan arah perjalanan bangsa. Salah satunya adalah Muktamar ke-27 NU di Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, pada 8–12 Desember 1984.

Muktamar tersebut menjadi istimewa karena berlangsung di lingkungan pesantren—ruang yang sejak awal menjadi jantung kehidupan NU. Di tempat yang sarat tradisi keilmuan Islam itu, para ulama dan peserta muktamar membicarakan masa depan organisasi sekaligus merumuskan arah NU menghadapi perubahan zaman.

NU pada hakikatnya merupakan organisasi keagamaan yang tumbuh dari tradisi pesantren dengan para kiai sebagai figur sentralnya. Bahkan, pesantren dan NU kerap digambarkan memiliki hubungan yang begitu erat: pesantren sebagai NU dalam skala kecil, sementara NU menjadi pesantren dalam skala besar.

Hubungan tersebut bukan sekadar simbolik. Tradisi keilmuan, penghormatan kepada ulama, kehidupan bermasyarakat, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan menjadi modal penting yang membuat NU mampu bertahan melewati berbagai fase sejarah Indonesia.

Seperti dikemukakan dalam kajian tentang tradisi pesantren, kekuatan NU tidak dapat dilepaskan dari peran para kiai yang memiliki kepekaan sosial sekaligus penghormatan kuat terhadap tradisi. Di tengah perubahan politik dan sosial yang terus bergerak, tradisi tersebut menjadi jangkar yang menjaga NU tetap memiliki identitas.

Sukorejo dan Babak Baru NU

Muktamar ke-27 di Sukorejo dikenang sebagai salah satu muktamar paling bersejarah dalam perjalanan NU. Salah satu keputusan terpentingnya adalah NU kembali kepada Khittah 1926, yang menegaskan kembali jati diri NU sebagai organisasi sosial-keagamaan dan tidak lagi menjadi partai politik.

Keputusan tersebut menjadi titik balik yang sangat penting. NU memilih kembali menempatkan kiprahnya pada bidang keagamaan, pendidikan, sosial, kebudayaan, serta pemberdayaan masyarakat.

Dalam konteks politik Orde Baru ketika itu, keputusan tersebut bukan perkara sederhana. Namun, NU menunjukkan bahwa organisasi keagamaan tidak harus kehilangan pengaruh sosial hanya karena tidak menjadi kekuatan politik praktis.

Justru dari sinilah lahir ruang baru bagi NU untuk memperkuat basis masyarakat sipil.

Muktamar Sukorejo juga menjadi momentum penting karena NU menerima Pancasila sebagai asas organisasi, sebuah keputusan yang menandai kemampuan NU membaca konteks kebangsaan dan menempatkan kehidupan beragama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dari Pesantren untuk Bangsa

Ada hal lain yang membuat Muktamar Sukorejo begitu berkesan: kembalinya tradisi muktamar ke pesantren.

Setelah sebelumnya banyak kegiatan muktamar berlangsung di hotel atau gedung pertemuan, Sukorejo menjadi penanda bahwa pesantren kembali ditempatkan sebagai ruang utama perhelatan organisasi.

Tradisi tersebut kemudian berlanjut dalam sejarah Muktamar NU berikutnya di sejumlah pesantren besar, antara lain Krapyak, Cipasung, hingga Lirboyo.

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Ia merupakan ruang pembentukan karakter, tempat bertemunya ilmu, tradisi, kebudayaan, pengabdian sosial, dan kehidupan kebangsaan.

Karena itu, ketika muktamar kembali digelar di pesantren, NU seperti sedang menegaskan kembali dari mana ia berasal dan kepada siapa ia mengabdikan dirinya.

Lahirnya Kepemimpinan Gus Dur

Muktamar ke-27 juga menjadi semakin bersejarah karena untuk pertama kalinya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, sementara KH Achmad Siddiq terpilih sebagai Rais Aam PBNU.

Duet kepemimpinan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan NU dan sejarah Indonesia.

Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang memiliki pemikiran luas mengenai demokrasi, pluralisme, kemanusiaan, dan kebangsaan. Sementara KH Achmad Siddiq dikenal sebagai ulama yang memiliki pemikiran kuat mengenai hubungan Islam, Pancasila, dan kehidupan berbangsa.

Kepemimpinan keduanya membawa NU memasuki babak baru. Khittah 1926 tidak berhenti sebagai keputusan muktamar, tetapi menjadi pijakan bagi NU untuk memperluas pengabdian di tengah masyarakat.

Warisan Sukorejo

Kini, lebih dari empat dekade setelah Muktamar ke-27, jejak sejarah Sukorejo tetap relevan untuk direnungkan.

Muktamar tersebut mengajarkan bahwa organisasi yang besar bukanlah organisasi yang selalu berada dalam pusaran kekuasaan, melainkan organisasi yang mampu menjaga akar, membaca perubahan, dan tetap hadir di tengah masyarakat.

Sukorejo juga mengingatkan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam perjalanan bangsa. Di sana tradisi tidak dipertentangkan dengan perubahan. Tradisi menjadi fondasi untuk menghadapi masa depan.

Muktamar ke-27 NU di Sukorejo bukan sekadar peristiwa organisasi. Ia adalah cerita tentang keberanian mengambil arah, menjaga tradisi, merawat kebangsaan, dan meneguhkan kembali pesantren sebagai salah satu sumber kekuatan masyarakat Indonesia.

Dari Sukorejo, NU menatap masa depan dengan kembali kepada akar.

Dan dari akar itulah, sejarah panjang NU terus tumbuh.

Gus Dur
WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

Indonesia Melangkah, Generasi Bersuara: GBN 2026 Gaungkan Semangat Kemerdekaan - Budayantara TV
Event Musik News

Indonesia Melangkah, Generasi Bersuara: GBN 2026 Gaungkan Semangat Kemerdekaan

13 Agustus 20262 menit baca

Bogor, – Budayantanra.tv Semangat kemerdekaan bergema melalui alunan musik dan paduan suara generasi muda Indonesia dalam Konser Kemerdekaan…

Sekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11 - Budayantara TV
News

Sekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11

13 Agustus 20262 menit baca

Jakarta,– Budayantara.tv Agustus 2026 menjadi bulan yang istimewa bagi keluarga besar SDN Kebayoran Lama Selatan 11. Di tengah…

Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih - Budayantara TV
News

Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih

26 Juli 20262 menit baca

Bogor – Budayantara.tv Suasana penuh kebersamaan mewarnai pemilihan Ketua RW 18 Duta Mekar Asri, Dusun VI, Desa Cileungsi…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Lagi Hangat

  1. Dialog NU & Civil SocietyTema: “Meneguhkan Peran Nahdlatul Ulama sebagai Pilar Civil Society Menjelang Muktamar NU ke-35”26 Juli 2026
  2. Kehidupan Suku Papua Pegunungan di Lembah Baliem – PAPUA4 Agustus 2025
  3. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  4. HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan dan Pelopor26 Juli 2026
  5. Warga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih26 Juli 2026

Rekomendasi untuk Anda

Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah - Budayantara TVIndonesia Melangkah, Generasi Bersuara: GBN 2026 Gaungkan Semangat Kemerdekaan
Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah - Budayantara TVMuktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah
Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah - Budayantara TVSekolah Percontohan dan Penuh Prestasi, Agustus 2026 Menjadi Album Kenangan di Gedung Lama SDN Kebayoran Lama Selatan 11
Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah - Budayantara TVWarga RW 18 Duta Mekar Asri Kompak Sukseskan Pemilihan Ketua RW, Bambang Cahyo Pribadi Terpilih
Muktamar ke-27 NU di Sukorejo: Ketika Pesantren Menjadi Panggung Sejarah - Budayantara TVTokoh Pendidikan Merauke Soroti Keberlanjutan Pendidikan, Dorong Penguatan PKBM hingga Kepastian Guru Honorer

Lokasi

📍 Jakarta 251📍 Bogor 17📍 Bekasi 13📍 Purwokerto 11📍 Pasuruan 11

Tetap Terhubung

Isi URL media sosial di Customizer atau tetapkan Menu Sosial.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber