Lewati ke konten
11 Oktober 2026 Dari Budaya Kita, Untuk Dunia.
Budayantara TV Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Kabar Terkini
Wajah Kebudayaan Adalah Kita: Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Melestarikan PertunjukanPerluas Akses Kesehatan, PNM Bersama BAZNAS Kembali Salurkan Ambulans PNM Peduli ke Berbagai DaerahLibatkan Perempuan Jagatara, Jumat Berkah Wartawan Berbagi 100 Paket Makanan di Tebet & Kuningan JakselKECERDASAN NUSANTARAMEMBACA MEDIA, MEMBENTUK MAKNA
Budayantara TV
  • News
  • Budaya
  • Event
  • Lifestyle
  • Icon
  • Program
  • Tokoh
  • Video
Gedung Perfilman H.Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan.
Beranda/Wajah Kebudayaan Adalah Kita: Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Melestarikan Pertunjukan
Artikel

Wajah Kebudayaan Adalah Kita: Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Melestarikan Pertunjukan

geraijenderal@gmail.comPenulis:geraijenderal@gmail.comUtama11 Oktober 20263 menit baca
Wajah Kebudayaan Adalah Kita: Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Melestarikan Pertunjukan - Budayantara TV

Oleh : Syamsul Arifin (Masdjo)

  • Founder Budayantara Media Digital Nusantara –

Kebudayaan bukan sekadar pakaian adat, tarian tradisional, musik daerah, atau rangkaian seremoni yang ditampilkan di atas panggung. Kebudayaan sesungguhnya tercermin dari diri kita sendiri dari cara berpikir, bersikap, berperilaku, serta bagaimana kita menghormati dan berinteraksi dengan sesama.

Wajah kebudayaan adalah kita.

Ungkapan ini menegaskan bahwa kondisi kebudayaan suatu masyarakat tidak hanya diukur dari seberapa sering pertunjukan tradisional diselenggarakan, tetapi juga dari nilai-nilai yang hidup dalam keseharian masyarakatnya. Ketika keramahan, toleransi, kreativitas, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama menjadi bagian dari kehidupan, di situlah kebudayaan menemukan makna sejatinya.

Adat dan tradisi memang dapat mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Sebagian aturan adat mungkin perlu ditafsirkan kembali agar tetap relevan dengan kehidupan modern. Namun, nilai-nilai luhur yang menjadi fondasinya tidak boleh hilang. Semangat kebersamaan, kepedulian, penghormatan kepada orang lain, dan tanggung jawab sosial harus tetap mengalir dalam kehidupan masyarakat.

Pertunjukan Seni Budaya Tidak Bisa Disamakan dengan Hiburan Semata

Dalam membangun kesadaran budaya, perlu ada pemahaman yang jernih mengenai perbedaan antara pertunjukan seni budaya dan hiburan komersial, termasuk orkes dangdut.

Keduanya dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan memiliki ruangnya masing-masing. Namun, pendekatan pembinaan, penilaian, fasilitasi, serta kebijakan penyelenggaraannya tidak seharusnya disamaratakan.

Pertunjukan seni budaya memiliki dimensi yang lebih luas daripada hiburan. Di dalamnya terdapat identitas, sejarah, filosofi, pendidikan karakter, pewarisan pengetahuan antargenerasi, hingga keberlangsungan ekosistem pelaku budaya. Seni tradisi seperti lenong, gambang kromong, palang pintu, pencak silat, tari tradisional, dan berbagai ekspresi budaya daerah merupakan bagian dari kekayaan yang harus dirawat secara berkelanjutan.

Sementara itu, orkes dangdut sebagai bentuk hiburan juga memiliki nilai sosial dan ekonomi serta menjadi ruang ekspresi masyarakat. Namun, apabila tujuan kegiatannya berbeda, maka tata kelola, standar penyelenggaraan, dukungan anggaran, dan instrumen pembinaannya perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing kegiatan.

Membedakan bukan berarti merendahkan. Membedakan berarti memahami fungsi, nilai, dan kebutuhan setiap bentuk ekspresi secara proporsional.

Ketika Masyarakat Mulai Sadar Budaya, Pemangku Kepentingan Harus Hadir

Ketika kesadaran masyarakat terhadap budaya mulai tumbuh, para pemangku kepentingan seharusnya hadir untuk mendukung, bukan justru mempersulit ruang tumbuhnya kebudayaan.

Pemerintah, lembaga kebudayaan, komunitas, organisasi masyarakat, pelaku seni, dunia pendidikan, dan media memiliki tanggung jawab bersama untuk membangun ekosistem kebudayaan yang sehat. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui fasilitasi ruang pertunjukan, pembinaan sanggar, regenerasi seniman, dokumentasi tradisi, pendidikan budaya, promosi karya, serta kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan kebudayaan.

Masyarakat yang telah memiliki kesadaran budaya juga perlu diberi kepercayaan untuk mengambil bagian dalam menjaga dan mengembangkan tradisinya. Jangan sampai semangat masyarakat untuk menghidupkan kebudayaan justru terbentur oleh pendekatan birokrasi yang tidak memahami perbedaan antara kegiatan pelestarian budaya dan hiburan biasa.

Tentu, setiap kegiatan tetap harus memenuhi ketentuan keselamatan, ketertiban, perizinan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial. Namun, penerapannya perlu mempertimbangkan karakter serta tujuan kegiatan secara adil dan proporsional.

Kebudayaan Harus Hidup, Bukan Sekadar Dipertontonkan

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan kebudayaan tidak cukup diukur dari jumlah festival, banyaknya penonton, atau kemegahan panggung. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana nilai-nilai budaya hidup dalam perilaku masyarakat, diwariskan kepada generasi muda, serta memperoleh ruang untuk berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Kesadaran budaya adalah modal sosial. Ketika masyarakat mulai bergerak menjaga tradisinya, pemangku kepentingan harus menjadikannya sebagai peluang untuk memperkuat kebersamaan dan identitas bangsa.

Sebab, kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu yang harus dipertontonkan hari ini. Kebudayaan adalah nilai yang kita hidupi sekarang dan warisan yang kita persiapkan untuk generasi mendatang.

Wajah kebudayaan adalah kita. Jika masyarakat telah sadar budaya, sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan berjalan bersama untuk merawat, melindungi, dan mengembangkan kebudayaan sebagai jati diri bangsa.***

WhatsAppFacebookX
Kolaborasi

Penulis artikel

geraijenderal@gmail.com
Penulis utama

geraijenderal@gmail.com

Etalase Seni Budaya

Baca Juga

KECERDASAN NUSANTARAMEMBACA MEDIA, MEMBENTUK MAKNA - Budayantara TV
Artikel

KECERDASAN NUSANTARAMEMBACA MEDIA, MEMBENTUK MAKNA

8 Oktober 20266 menit baca

Dari Batik Tulis Singosari Berfilosofi Bu Tantri Listyorini Gayantri hingga Tatah-Sungging Ringgit Wayang Kulit dan Ukiran Kayu Warangka…

ANGGUN DAN NASIONALISME KOSMOPOLITAN KITA - Budayantara TV
Artikel

ANGGUN DAN NASIONALISME KOSMOPOLITAN KITA

8 Oktober 20262 menit baca

Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina SWI Jaya DKI Jakarta ​ADA yang nuansa “magis” sekaligus mengharukan ketika menyaksikan Gelora…

SELEBRASI DI ATAS BOM WAKTU - Budayantara TV
Artikel

SELEBRASI DI ATAS BOM WAKTU

7 Oktober 20263 menit baca

Oleh: M.Guntur Alting Dewan Pembina DPW SWI Jaya Jakarta,- Budayantara.tv ​​Saya kaget, bukan karena putusan MK, tapi melihat…

Tinggalkan tanggapan Batalkan balasan

Ikut dalam percakapan. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Logo Budayantara TV
Mengangkat Budaya, Menginspirasi Nusantara
Gedung Perfilman H. Usmar Ismail
Jl. HR Rasuna Said Kav C-22, Setiabudi, Jakarta Selatan

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber

Media Jaringan

favicon Klikternak.com favicon Kabarlagi.id
favicon Visioneernews.com favicon Heyrizki.my.id

Alamat Redaksi

© 2026 Budayantara TV. Theme by Rasmrq

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Siber