Jakarta — Budayantara.tv Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau pembangunan infrastruktur fisik. Di balik semua itu, ada kekuatan yang lebih mendasar dan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat: kebudayaan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam silaturahmi kebudayaan antara Moh. Shofan, penggagas Teras Kebinekaan, dan Erwiyantoro alias Mbah Coco, owner Radio Bola. Pertemuan yang berlangsung di Markas Teras Kebinekaan, Parung, Bogor, Kamis (23/9/2026), menjadi ruang bertukar gagasan mengenai peran kebudayaan dalam menjaga Indonesia tetap terhubung di tengah keberagaman.
Bagi Shofan, Indonesia bukan sekadar negara yang dihuni oleh ratusan suku, bahasa, agama, dan tradisi. Lebih dari itu, kebinekaan merupakan fondasi moral yang memungkinkan masyarakat hidup berdampingan sebagai satu keluarga besar.
«“Kebinekaan harus menjadi infrastruktur moral. Walaupun berbeda keyakinan, suku, budaya dan bahasa, kita berada di bawah payung kultural yang sama, yaitu bangsa Indonesia,” ujar Shofan.»
Menurutnya, kebudayaan memiliki kemampuan menjangkau masyarakat secara luas karena sifatnya yang lentur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bahasa, seni, tradisi, musik, sastra hingga kearifan lokal dapat menjadi pintu masuk untuk membangun percakapan antargenerasi sekaligus mempertemukan berbagai kelompok masyarakat.
“Budaya itu lentur. Strategi kebudayaan adalah salah satu jalan yang sangat mungkin untuk terkoneksi dengan anak-anak bangsa yang tersebar di seluruh Nusantara,” kata Shofan, yang juga penulis buku Rhoma Irama: Politik Dakwah dalam Nada, diterbitkan Imania pada 2013.
Teras sebagai Ruang Pertemuan
Shofan menjelaskan, nama Teras Kebinekaan lahir dari gagasan sederhana tentang sebuah ruang terbuka tempat orang dapat bertemu, duduk bersama, berbicara, sekaligus saling mendengarkan.
Teras bukan ruang eksklusif. Siapa pun dapat datang tanpa harus terlebih dahulu mempertanyakan latar belakang agama, suku, budaya maupun kelompoknya.
Filosofi tersebut kemudian menjadi dasar bagi Teras Kebinekaan untuk membangun gerakan kebudayaan yang menempatkan keberagaman sebagai kekuatan.
Menurut Shofan, kebudayaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang masyarakat Nusantara. Beragam kearifan lokal yang diwariskan para leluhur merupakan bagian dari identitas bangsa yang tetap memiliki relevansi di tengah perubahan zaman.
Karena itu, Teras Kebinekaan dibayangkan sebagai ruang yang dapat melahirkan berbagai program kebudayaan. Mulai dari forum pemikiran, pertunjukan seni, festival Nusantara, hingga ruang kreatif bagi generasi muda.
Mbah Coco: Kebudayaan Harus Menjadi Gerakan Bersama
Sementara itu, Mbah Coco melihat kekayaan budaya Indonesia membutuhkan ruang yang mampu menghubungkan berbagai potensi daerah.
Setiap wilayah, menurutnya, memiliki kekuatan budaya yang dapat menjadi bagian dari identitas Indonesia sekaligus memperkenalkan wajah Nusantara kepada dunia.
Karena itu, para pelaku budaya dari berbagai daerah perlu diberi ruang untuk bertemu, berdiskusi dan membangun kolaborasi.
Gagasan mengenai festival kebudayaan Nusantara pun mengemuka sebagai salah satu bentuk kegiatan yang dapat dikembangkan.
Festival tersebut tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan kesenian. Lebih jauh, ia dapat menjadi ruang pertemuan para pemikir, seniman, komunitas, generasi muda dan berbagai elemen masyarakat untuk membicarakan masa depan kebudayaan Indonesia.
Semangat yang mengemuka dalam pertemuan itu sederhana, namun memiliki makna luas: kebudayaan Indonesia harus berani berbicara kepada dunia.
Dari Kebinekaan Menuju Masa Depan
Pertemuan Shofan dan Mbah Coco memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi titik temu di tengah perbedaan.
Ketika ruang publik kerap dipenuhi perdebatan mengenai identitas, kebudayaan menawarkan ruang yang lebih cair. Musik dapat mempertemukan mereka yang berbeda keyakinan. Seni mampu melampaui batas geografis. Sastra membuka percakapan tentang kemanusiaan.
Di titik inilah kebudayaan tidak lagi sekadar berbicara tentang masa lalu.
Kebudayaan adalah investasi sosial untuk masa depan.
Teras Kebinekaan diharapkan menjadi salah satu ruang yang mempertemukan gagasan-gagasan tersebut. Dari sebuah teras yang sederhana, percakapan tentang Indonesia dapat bergerak lebih jauh menjangkau komunitas, daerah, generasi muda hingga panggung dunia.
Sebab, Indonesia masa depan bukan hanya tentang seberapa maju teknologi yang dimiliki, tetapi juga tentang seberapa kuat bangsa ini mampu mempertahankan ikatan sosial sebagai satu keluarga besar.
Berbeda bukan alasan untuk berjarak. Kebudayaan adalah salah satu jalan untuk kembali bertemu.**




