Home / News / Sriwijaya: Imperium Maritim yang Pernah Menguasai Nusantara

Sriwijaya: Imperium Maritim yang Pernah Menguasai Nusantara

Jakarta – Budayantara.tv Di antara riuhnya jalur perdagangan kuno dunia, berdirilah sebuah kekuatan besar dari Nusantara yang menguasai lautan dan menghubungkan peradaban: Sriwijaya. Berakar dari pulau Sumatra dan berpusat di Palembang, Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan maritim yang berpengaruh sejak abad ke-7 hingga abad ke-13.

Nama “Sriwijaya” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, di mana sri berarti “bercahaya” dan wijaya berarti “kemenangan”sebuah nama yang mencerminkan kejayaan dan kemegahan yang pernah diraihnya.

Awal Mula dan Jejak Sejarah

Keberadaan Sriwijaya pertama kali diketahui melalui catatan seorang pendeta Tiongkok, I-Tsing, yang singgah pada tahun 671. Ia menggambarkan Sriwijaya sebagai pusat pembelajaran agama Buddha yang maju.

Bukti kuat lainnya datang dari Prasasti Kedukan Bukit (683 M), yang mencatat perjalanan suci dan ekspansi yang dipimpin oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Dari sinilah Sriwijaya mulai membangun kekuasaannya, menguasai jalur perdagangan dan wilayah strategis di Asia Tenggara.

Kebangkitan Sebagai Kekuatan Maritim

Sriwijaya tumbuh sebagai kerajaan yang tidak bergantung pada daratan luas, melainkan pada kekuatan laut. Dengan menguasai Selat Malaka dan Selat Sunda, kerajaan ini menjadi pengendali utama jalur perdagangan antara India dan Tiongkok.

Dari pelabuhannya, berbagai komoditas berharga diperdagangkan: kapur barus, cengkeh, pala, emas, hingga kayu gaharu. Kekayaan ini menjadikan Sriwijaya sebagai salah satu pusat ekonomi terpenting di dunia pada masanya.

Wilayah kekuasaannya meluas hingga Semenanjung Melayu, Kalimantan, bahkan mencapai Sri Lanka. Tak heran jika Sriwijaya disebut sebagai “penguasa lautan Nusantara”.

Pusat Ilmu dan Agama Buddha

Selain kuat secara ekonomi, Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat pendidikan agama Buddha, khususnya aliran Buddha Vajrayana.

Banyak pelajar dan pendeta dari berbagai penjuru Asia datang untuk belajar di sini, termasuk tokoh terkenal seperti Atisha dari Benggala. Sriwijaya bahkan menjadi tempat persinggahan penting sebelum para pelajar melanjutkan studi ke Nalanda.

Dalam catatan I-Tsing, disebutkan bahwa ribuan biksu tinggal dan belajar di Sriwijaya menjadikannya salah satu pusat intelektual terbesar di dunia saat itu.

Relasi dan Dominasi Regional

Sriwijaya menjalin hubungan luas dengan berbagai kekuatan dunia, termasuk dengan Dinasti di Tiongkok, kerajaan di India, hingga dunia Arab. Dalam catatan Tiongkok, Sriwijaya dikenal dengan berbagai nama seperti Sanfoqi.

Kerajaan ini juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah penting, termasuk Kerajaan Melayu yang kaya akan emas. Di Jawa, pengaruhnya bahkan menjangkau kerajaan seperti Tarumanegara dan wangsa Sailendra.

Pada masa pemerintahan Samaratungga, dibangun pula mahakarya agung Candi Borobudur yang menjadi simbol kejayaan budaya dan spiritual di Nusantara.

Masa Keemasan dan Awal Kemunduran

Sriwijaya mencapai puncak kejayaan antara abad ke-8 hingga ke-10. Namun, kejayaan ini perlahan mulai memudar.

Serangan besar dari Rajendra Chola dari kerajaan Chola pada tahun 1025 menjadi titik balik penting. Serangan ini melemahkan kekuatan Sriwijaya dan membuka peluang bagi wilayah-wilayah taklukannya untuk melepaskan diri.

Pusat kekuasaan pun bergeser dari Palembang ke Jambi, menandakan perubahan besar dalam struktur kekuasaan kerajaan.

Tekanan dari Jawa dan Keruntuhan

Memasuki abad ke-13, Sriwijaya menghadapi tekanan dari kekuatan baru di Jawa, yaitu Singasari melalui Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1288.

Kekuasaan kemudian dilanjutkan oleh Majapahit, yang di bawah pemerintahan Hayam Wuruk menguasai Sumatra melalui Adityawarman.

Di saat yang sama, faktor alam turut mempercepat kemunduran. Pendangkalan Sungai Musi membuat pelabuhan utama Sriwijaya tidak lagi strategis, sehingga aktivitas perdagangan menurun drastis.

Akhir dan Warisan Sejarah

Sriwijaya tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, melainkan perlahan menghilang ditelan perubahan zaman. Seiring berkembangnya kerajaan Islam seperti Samudera Pasai dan berdirinya Kesultanan Malaka oleh Parameswara, peran Sriwijaya semakin tergantikan.

Menariknya, keberadaan Sriwijaya sempat “hilang” dari ingatan sejarah hingga akhirnya ditemukan kembali pada abad ke-20 oleh sejarawan Prancis George Coedès.

Sriwijaya adalah bukti bahwa Nusantara pernah menjadi pusat peradaban dunia. Sebagai kerajaan maritim, pusat perdagangan, dan pusat ilmu pengetahuan, Sriwijaya meninggalkan warisan besar dalam sejarah Indonesia dan Asia Tenggara.

Dari kejayaan hingga keruntuhannya, Sriwijaya mengajarkan bahwa kekuatan tidak hanya dibangun oleh kekuasaan, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Dirumuskan oleh: Tim Lab Digital Budayantara

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *