Sinergi Budaya dan Pariwisata di Lereng Gunung Arjuno: Gagasan Perpustakaan HORAIZO Klasik dan Istana Kerajaan Pariwisata Mengemuka
Purwosari, Pasuruan – Budayantara.tv Sebuah gagasan besar yang menggabungkan unsur budaya, pengetahuan, dan pariwisata kembali mencuat dari kawasan lereng Gunung Arjuno, Jawa Timur. Tokoh budayawan Guntur Bisowarno bersama Sangheyang Hamim menggagas sinergitas kawasan melalui konsep Perpustakaan Baru Kuno Modern HORAIZO Klasik yang dipadukan dengan visi pembangunan Istana Kerajaan Pariwisata.Rabu (8/4/2026)
Kolaborasi Budaya dan Visi Global
Menurut Guntur Bisowarno, Sangheyang Hamim merupakan sosok visioner yang memiliki potensi besar dalam mengangkat kawasan Gunung Arjuno ke tingkat dunia. Penilaian tersebut juga diperkuat oleh Djuyoto Suntani, Presiden The World Peace Committee, yang mengakui kapasitas intelektual dan visi global Hamim.
Saat ini, Sangheyang Hamim diketahui menjabat sebagai Presiden Repoeblik Ngopi serta aktif mempromosikan kawasan Gunung Arjuno sejak 1996 sebagai pusat peradaban dan destinasi wisata budaya.
Konsep HORAIZO: Menjembatani Masa Lalu dan Masa Depan
Konsep HORAIZO Klasik yang diusung menjadi inti dari gagasan ini. Istilah “HORAIZO” dimaknai sebagai simbol ruang-waktu yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan. Filosofinya menggabungkan nilai klasik dengan inovasi modern, sekaligus melahirkan gagasan baru berbasis kearifan lokal.
Perpustakaan ini tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi dirancang sebagai pusat peradaban hidup mengintegrasikan naskah kuno, artefak budaya, hingga teknologi informasi modern dalam satu ekosistem.
Gunung Arjuno sebagai Induk Peradaban Dunia
Kawasan Gunung Arjuno dipilih bukan tanpa alasan. Secara historis, wilayah ini dikenal memiliki keterkaitan erat dengan peradaban kerajaan besar seperti Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Singhasari, serta kaya akan situs spiritual dan peninggalan budaya.
Dalam visi besar tersebut, Perpustakaan HORAIZO Klasik akan menjadi “jantung” kawasan, sementara Istana Kerajaan Pariwisata diharapkan menjadi ikon utama yang menarik wisatawan, peneliti, dan investor dari berbagai negara.
Arah Pengembangan: Ekowisata dan Pemberdayaan Lokal
Untuk mewujudkan gagasan ini, beberapa skema strategis diusulkan, antara lain:
Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta
Pengembangan berbasis komunitas lokal
Fokus pada ekowisata dan edukasi berkelanjutan
Pendekatan ini menekankan pentingnya pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat sekitar.
Makna Filosofis Alam sebagai Sumber Pengetahuan
Konsep ini juga menempatkan unsur alam seperti mata air dan ekosistem pegunungan sebagai simbol pengetahuan dan kehidupan. Kawasan Gunung Arjuno dipandang sebagai “perpustakaan alam raya” yang menyimpan kearifan tak tertulis.
Meski sejumlah elemen dalam gagasan ini masih belum banyak terverifikasi dalam sumber publik yang luas, ide sinergitas antara budaya, ilmu pengetahuan, dan pariwisata di kawasan Gunung Arjuno dinilai memiliki daya tarik kuat. Jika terealisasi, konsep ini berpotensi menjadikan wilayah tersebut sebagai destinasi unik berbasis peradaban dan keberlanjutan.
Oleh: Mbah Openi – Praktisi Sastra Budaya




